Senin, 13 Desember 2021

DI KETINGGIAN KEBUMEN UTARA


Barisan bukit membentang di utara

Bentangan pantai di selatan berlatar samudra

Kekayaan alam tersimpan untuk dikelola

Keragaman budaya memperkaya keduanya

Puisi di atas mengawali tulisan pendek ini untuk menggambarkan wilayah Kabupaten Kebumen yang dihampari kawasan pantai di selatan dan hampari perbukitan di di kawasan utara. Dataran rendah Kebumen yang membentang ke selatan bukan hanya kaya dengan bentangan pantai yang difungsikan untuk kegiatan ekonomi berupa aktifitas nelayan menangkap ikan namun juga diberdayakan menjadikan kawasan wisata pantai. Sementara di kawasan utara Kebumen dihiasi dengan barisan perbukitan yang menjadi bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu Selatan.

Pengaruh kondisi geologis di utara dan selatan Kebumen tentu saja memberikan sejumlah pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat setempat al, Pertama, penciptaan toponim wilayah sesuai karakteristik geologis yaitu: Karangsambung, Karanggayam, Karanganyar, Watulawang, Karangkemiri, Watukelir, Karangdhuwur, Karangbolong, Karangjambu. Kedua, Penciptaan kesenian yang bercorak masyarakat pegunungan dan pantai yang dilewati struktur geologi yaitu: Dangsak/Cepetan alas di kawasan singkapan perbukitan dan hutan di utara dan Ebleg/Kuda lumping yang didominasi di kawasan selatan. Ketiga, terbentuknya ritual tradisional yang berkaitan dengan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh alam. Jika di masyarakat perbukitan didominasi dengan Merti Bumi/Sedekah Bumi maka di selatan didominasi dengan Sedekah Laut. Keempat, terbentuknya kelas pekerja yang memanfaatkan singkapan geologis mulai dari pembuatan kerajinan batu (Suseki/Biseki) hingga batu akik di kawasan utara dan pengunduh sarang burung walet di selatan. Kelima, terbentuknya sistem kepercayaan yang berkaitan dengan faktor lingkungan geologis yaitu kepercayaan terhadap dewa dan tokoh pewayangan yang tinggal di perbukitan sehingga menimbulkan sejumlah penamaan sesuai karakter tokoh seperti Gunung Indrakila dan Bukit Kedoya di kawasan utara atau sikap bakti terhadap penguasa lautan di wilayah singkapan geologis bagian selatan seperti memberikan sesaji terhadap Ratu Kidul.

Beberapa kawasan perbukitan yang tinggi di Kebumen menawarkan keindahan landskap daratan di bawahnya dengan sejumlah kelokan sungai yang membelah desa dan bermuara di lautan lepas. Salah satunya Bukit Indrakila yang memiliki ketinggian 548 meter di atas permukaan air laut yang berada di perbatasan Desa Wadasmalang dengan Pujotirto.

Jika kita menaiki kendaraan bermotor dari Wonokromo atau Wadaslintang menuju arah Jalan Desa Pujotirto (nama lamanya adalah Kalipuru) di Kcamatan Karangsambung, maka kita akan memasuki kawasan hutan dengan sejumlah barisan pohon pinus yang memanjakan pemandangan. Jika ketinggian rata-rata Kecamatan Karangsambung adalah 180 meter di atas permukaan air laut, maka Desa Pujotirto merupakan desa tertinggi ke tiga di Kabupaten Kebumen karena berada di dataran tinggi pada ketinggian rata rata 433 meter di atas permukaan air laut.

Di ketinggian Jalan Desa Pujotirto kita bisa melihat landskap indah membentang dari barat, timur, selatan seperti Waduk Wadas Lintang, kelokan Sungai Luk Ulo dan beberapa sungai lainnya. Jika terus mendaki ke utara kita akan sampai di dataran tinggi Kalipuru yang masih masuk Desa Pujotirto. Menurut cerita yang diyakini turun temurun warga setempat, Desa Kalipuru awalnya merupakan dua desa, yaitu Adilewih (dipimpin Mbah Meringis) dan Kaliurang (dipimpin Mbah Suragati).

Di masa kini, Kalipuru adalah nama dusun di Desa Pujotirto yang terdiri dari Dusun Kalipuru Wetan, Kalipuru Kulon, Kaliurang, Eragemiwang dan Pencu. Tanaman Jenitri bertebaran di kawasan ini dan menjadi produk yang menguntungkan karena pembelinya kebanyakan dari luar negeri (Nepal, India, Cina)

Menariknya, wilayah Kalipuru, Kaliranjang, Krakal pernah menjadi lokasi kelompok AUI (Angkatan Umat Islam) melakukan sejumlah aksi gerilya melawan tentara APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) yang menjadi cikal bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia). Dalam laporan artikel berjudul, Zuid Midden Java Wordt Geregeerd door AUI yang dimuat surat kabar Java Bode (14 September 1950) diperoleh keterangan 69 orang tahanan AUI yang dibebaskan APRI melaporkan mereka di bawa dari Kaliranjang ke Krakal tanggal 22 Agustus dan ke desa Kalipuru tanggal 29 Agustus. Jika tanggal 8 September mereka tidak ditemukan pasukan APRI mungkin sudah tewas kelaparan, demikian tulis surat kabar di atas.

Kiranya jalur-jalur keindahan di ketinggian ini tetap terjaga kelestariannya. Menjadi escaping place bagi mereka yang menggemari momen keheningan dan ketenangan serta keindahan. Tentunya dengan didukung infrastruktur yang baik yang menghubungkan satu kawasan ke kawasan lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar