Minggu, 12 Desember 2021

BENDUNGAN WADASLINTANG DI SELATAN WONOSOBO DI UTARA KEBUMEN: KISAH-KISAH YANG MEMBENTANG

Bendungan Wadaslintang dibangun tahun 1982 dan selesai 1988. Selain sebagai difungsikan sebagai penampung air juga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pariwisata dan kawasan memancing tidak ketinggalan tentunya.

Waduk Wadaslintang terletak di bagian selatan wilayah Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo berbatasan dengan Kecamatan Padureso di Kabupaten Kebumen. Waduk ini menggunakan Kali Medono atau Kali Gede atau Kali Bedegolan sebagai sumber air utamanya.

Bentangan landskap perbukitan breksi andesit dan kawasan pedesaan di tengah rerimbunan pepohonan lebat serta hamparan debit air yang membentang seluas 196 Km untuk keperluan irigasi dan pembangkit listrik menjadi daya tarik bagi para wisatawan mengabadikan momen-momen keindahan. Hembusan angin dan gumpalan awan melengkapi keindahan yang menghampar.


 

Di era kolonial, Wadaslintang adalah sebuah Onderdistrict (kecamatan)  di bawah District (kawedanan) Ngadisono, Regentschap (Kabupaten) Wonosobo. Wadaslintang merupakan wilayah paling selatan dari Wonosobo yang berbatasan dengan Kebumen. Di periode Bupati Wonosobo, Sosrodiprodjo banyak dikerjakan sejumlah proyek jalan yang menghubungkan wilayah-wilayah selatan menuju tempat wisata Dieng. Salah satunya pembukaan jalan baru dari Kejajar menuju Dieng pada bulan November 1936 (De Locomotief, 9 November 1936).

Tercatat pula dalam surat kabar Soerabaiasch Handelsblad (16 November 1937) adanya sebuah pusat budidaya lebah di pertigaan (driesprong) antara Wonosobo, Wadaslintang, Kaliwiro atas bimbingan ahli lebar Tuan Lorang.

Di tahun 1950, Wadaslintang dan Kalipuru (Wonosobo) pernah menjadi wilayah pertempuran ketika terjadi peristiwa clash antara AUI (Angkatan Umat Islam) dengan tentara APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) yang kelak menjadi cikal bakal TNI (Tentara Republik Indonesia),

Peristiwa clash nampaknya tidak bisa dipisahkan dari konteks jauh maupun konteks dekat yang mengerucut menjadi sebuah pertempuran yang mengharu biru Jawa Tengah. Kebijakan Kabinet Hatta meluncurkan kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi (ReRa) angkatan perang menimbulkan reaksi di kalangan AUI.

Selain di Kebumen merekapun menjadikan sejumlah wilayah di Wonosobo menjadi basis pertahanan dan gerilya.  Dalam sebuah berita berjudul, AUI Zet Strijd Voort Tegen de APRI: Hoofdkwartier v. "Generaal" in Desa Kalipuro" yang dilaporkan "Indische Courant Voor Nederland (9 September 1950) bahwa Desa Kalipuru (sekarang masuk wilayah Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo) yang dahulu merupakan "hoofdkwartier" (markas besar) pasukan Diponegoro, kemudian dipakai oleh AUI di bawah pimpinan Haji Nur Sidik untuk menjadi markas dan salah satu basis perlawanan terhadap pasukan APRI. Dilaporkan juga, "Baru-baru ini terjadi pertempuran sengit di Wadaslintang di desa Kalidowong". Hanya dalam koran nama Kalipuru ditulis Kalipuro. Nampaknya surat kabar tersebut keliru mengeja dengan Kalipuro (atau mungkin dahulu demikian nama aslinya?)

Ketika bencana kelaparan (hongersnood) melanda Wadaslintang pada tahun 1956, sekitar 100 orang diberangkatkan transmigrasi bersamaan dengan program transmigrasi yang sedang dikerjakan sejak 20 Desember 1955 dengan memberangkatkan 1.790 keluarga (Java Bode, 29 Des 1956).

Demikianlah lapisan demi lapisan kisah di Wadaslintang yang membentang dari periode kolonial dan pasca kolonial hingga masa kini. Dibalik Bendungan Wadaslintang  bukan sekedar keindahan terlihat dan potensi air yang bermanfaat namun kisah-kisah lama yang dapat menjadi pengingat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar