Minggu, 07 November 2021

JEJAK-JEJAK KOPI DI KAWASAN UTARA KEBUMEN ERA KOLONIAL

That cup of coffee you sip at your breakfast table, desk, or cafe´ comes from far away (Secangkir kopi yang Anda minum di meja sarapan, meja, atau kafe´ datang dari jauh) demikian tulis Steven Topik and William Gervase Clarence-Smith dalam sebuah pengantar berjudul, Coffee and Global Development  dalam buku berjudul, The Global Coffee Economy in Africa, Asia, and Latin America, 1500–1989 (Cambridge University Press 2003:1). Bagaimana kira-kira cerita kopi di wilayah Kebumen era kolonial?

Dalam laporan Residen Banyumas, G.de Seriere (1832-1837), pelabuhan Cilacap menjadi kawasan ekspor dan impor. Adapun komoditas ekspor utama adalah kopi (11.233 pikol), tembakau (650 pikol) dll.  Salah satu penyumbang komoditas kopi dari Karesidenan Bagelen adalah Sadang dan Alian di Regentschap (kabupaten) Kebumen. Sadang, menyumbang komoditas kopi sebesar 180 pikol (1882), 100 pikol (1883), 280 pikol (1884). Adapun Alian menyumbang komoditas kopi sebesar 50 pikol (1882), 450 pikol (1883), 280 pikol (1884), demikian kajian Susanto Zuhdi, Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa (2016:9,21).

Entah sejak kapan budi daya penanaman kopi di Sadang dimulai, namun dalam sebuah laporan koran yang memuat artikel sejarah penemuan dan pembangunan Bad Krakal (pemandian air panas di Krakal) dengan judul, Dewordinggeschiedenis van het bad Krakal bij Keboemen yang dimuat koran Soerabaiasch Handelsblad 2 Juni 1902, disebutkan mengenai Raden Mangoen Dirja (kelak menjadi Bupati Arung Binang VI) sedang melakukan penanaman kopi di Sadang pada tahun 1863 dan mendengar penduduk soal keberadaan air panas berkhasiat. Air panas berkhasiat ini kelak dipakai untuk menyembuhkan ibundanya yang mengalami sakit demam. Dalam tempo 25 hari, istri Arung Binang V akhirnya sembuh. Bupati Arung Binang V mengadakan syukuran pada tahun 1866 dengan mendirikan pesanggrahan (Teguh Hindarto dan Chusni Ansori, Geosite Pemandian Air Panas Krakal Sebagai Titik Pertemuan Legenda, Sejarah dan Geologi, Proceeding Seminar Kebumian Geodiversity 2019, 2021, LIPI)

Selain di Regentschap Kebumen, Regentschap Karanganyar khususnya district (kawedanan) Gombong terdapat kawasan penanaman kopi. Belum diperoleh data seberapa besar pengumpulan kopi di wilayah ini. Hanya sebuah keterangan iklan dengan judul Openbare Verkoop (Penjualan publik) bertanggal 15 Juni 1885 tentang sebuah tanah yang disewakan (erfpachtsperceel) bernama Kalisadang di District Gombong, Regentschap Karanganyar (De Locomotief, 11 Juni 1885). Dalam iklan diberikan keterangan luas 170 bahu dan 166 batang Rhijnlandsch dengan tinggi 800 hingga 1200 kaki, sebagian ditanami kopi dan kakao, dilengkapi dengan air. Biaya sewa f 2,50 per bahu.

Sekalipun komoditas kopi berkembang di era Tanam Paksa (yang berakhir tahun 1870) namun pasca Tanam Paksa, kopi masih menjadi komoditas primadona yang bukan lagi dikelola oleh pemerintah tapi swasta. Terbukti iklan tahun 1885 di atas masih menawarkan kawasan perbukitan sebagai lokasi penanaman kopi.

Istilah batang Rhijnlandsch (Rhijnlandsch roeden, dalam bahasa Belanda sekarang ditulis Rijnlandse roede atau dalam bahasa Inggris The Rhenish Rod) merujuk pada satuan ukur kuno yang diberlakukan sekitar tahun 1816 di Oude Rijn, Leiden dan dipergunakan di wilayah koloni. Di Belanda sendiri 1 Rijnlandse roede di tiap daerah bisa berbeda dengan kisaran 3-5 meter. Melihat luasan 170 bahu di kawasan Kalisadang yang telah ditanami kopi kita hanya bisa memperkirakan tanaman kopi dan kakao yang dihasilkan.

Ketika Karesidenan Bagelen dihapus dan digantikan Karesidenan Kedu (1901), nampaknya wilayah penanaman kopi lebih banyak dialihkan di Temanggung dan Magelang. Sebagaimana laporan De Koffieondernemingen In Nederlandsch Indie Op 1 Januari 1923 hanya menyebutkan dua nama yaitu Ngrowo Seneng di Temanggung) dan Bodjong Redjo di Magelang (Koffie: Eenige Bijzonderheden Over Cultuur, Bereiding, Productie, Uitvoer en Handel, Weltevreden 1924). Demikian pula dalam laporan artikel berjudul, Inlandsche Landbouw: De stand der gewassen en de oogstvooruitzichten. Kabupaten Kebumen lebih banyak memasok padi dan tanaman kedele sementara kopi dipusatkan di Magelang dan Temanggung (De Locomotief, 28 Juli 1933).

Kembali ke Kalisadang. Kalisadang di masa kini adalah nama sebuah dukuh yang masuk lingkup Desa Donorojo Kecamatan Sempor. Sekalipun di masa kini perkebunan kopi tidak didapati di Kalisadang namun di sebuah dukuh tetangga yaitu Kaliputih berkembang penanaman kopi. Tahun 2013 tentu kita pernah mendengar predikat kopi Robusta terbaik se-Kabupaten Kebumen. Penilaian ini diberikan oleh barista dan juga juri Indonesia Barista Championship (IBC), Specialty Coffe Association of Indonesia (SCAI) di Surabaya Tahun 2013 lalu.

Berpijak dari jejak historis penanaman kopi di kawasan utara Kebumen sejak era kolonial - maka selain barisan pohon pinus di kawasan utara Kebumen - tanaman kopi bisa menjadi budi daya potensial untuk dikembangkan di Kebumen dan mengisi ruang-ruang kafe yang sudah terbentuk di Kebumen masa kini.  Mungkinkah?


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar