Jumat, 05 Februari 2021

KABURNYA RAJA RAMPOK DARI PENJARA KEBUMEN 1939 DAN 1940


Ada dua peristiwa anomali di Kebumen pada tahun 1939 dan 1940. Beberapa tahun sebelum Jepang menguasai wilayah karesidenan Banyumas dan Kedu (di mana Kabupaten Kebumen berada). 

Dilansir dari sebuah berita surat kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie (15 Januari 1940) dengan judul, de Koning de Rampokkers: Onvlucht uit Gevangenis te Keboemen (Raja Perampok: Kabur dari Penjara Keboemen) sbb:

"Baru saja diketahui bahwa pada malam tanggal 16-17 Desember seorang terpidana bernama Raden Soewondo, yang juga disebut juga 'raja perampok' (de koning der rampokkers) berhasil melarikan diri dari penjara di Keboemen".

Peristiwa tersebut terjadi bulan Desember 1939. Dia seorang tahanan yang baru 1,5 bulan di Kebumen pindahan dari Purworejo.

Sementara berita kedua datang dari surat kabar Soerabaiasch Handelsblad (12 September 1940) memuat judul berita Berucht Rampokker Gearresteerd (Rampok Kejam Ditangkap).

"Seorang perampok bernama Sardi alias Hadji Djaelani alias dll (masih memiliki beberapa nama lainnya) yang melarikan diri dari penjara di Keboemen ditangkap pada Selasa malam di Singosari oleh Agen Kepala Loth dari kepolisian kota Malang", demikian kutipan berita koran tersebut.

Kita bisa saja menyoroti persoalan lemahnya sistem pengamanan penjara terkait dua kali kejadian (sepanjang yang tercatat dalam temuan berita koran) kaburnya para perampok tersebut. Namun ada hal yang lebih menarik diulik.



Ada sebuah anomali dari kedua berita seputar dunia kriminal tersebut yaitu mengapa seorang bertitel "raden" dan "hadji" justru terlibat dalam perbuatan kriminal bahkan dijuluki  "Raja Rampok"? 

Apakah ini tindakan kriminal biasa atau sebuah tindakan protes sosial didorong oleh kekuatan ideologis tertentu semacam aksi-aksi "Robin Hood"?

Apakah titel yang mereka pergunakan hanyalah sebuah kamuflase untuk mengelabui dan menyembunyikan identitas mereka sebenarnya?

Apakah telah terjadi ketimpangan sosial ekonomi tertentu yang menyebabkan banyaknya pihak-pihak yang kehilangan pekerjaan atau akses terhadap kekuasaan tertentu sehingga melahirkan bentuk ketidakpuasan berupa tindakan kriminal?

Jika ini adalah tindakan kriminal biasa, bagaimana menjelaskan motif kedua orang yang memiliki gelar yang mencerminkan status sosial tinggi melibatkan diri dalam aksi kejahatan bahkan mendapatkan julukan yang seram?

Sebuah peristiwa anomali yang menyisakan banyak pertanyaan tinimbang kepastian jawaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar