Rabu, 17 Februari 2021

BERITA KORAN/BUKU/JURNAL SEMASA KOLONIAL SEBAGAI SUMBER DATA

Jika ingin mengetahui situasi lokasi-lokasi yang disinggahi dan menjadi area konflik di saat Perang Jawa (1825-1830) termasuk di wilayah Bagelen Barat (di mana Kebumen termasuk di dalamnya) maka dapat membaca Geschiedenis van den Oorlog op Java van 1825 tot 1830 (1856) karya J. Hageman. Nama-nama desa seperti Sadang, Loning, Ambal, Panjer, Kebumen, Kemit, Remo Jatinegara, Petanahan, Karangbolong dll. disebutkan dengan jelas dalam buku tersebut.

Jika ingin membaca situasi Bagelen pasca Perang Jawa berikut penataannya dapat membaca buku karya Dr. C.L. van Doorn yang berjudul, Schets van de Economische Ontwikkeling van der Afdeeling Poerworedjo dan artikel berjudul, De Toestand van Bagelen 1830 dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (1858).

 

Jika ingin mengetahui situasi Kebumen pasca Perang Jawa berakhir dan situasi sosial, ekonomi, budaya semasa kolonial termasuk Karanganyar yang kemudian dihapuskan statusnya sebagai kabupaten di tahun 1935 dan digabungkan menjadi wilayah Kebumen tahun 1936, maka kita harus membaca koran dan majalah berbahasa Belanda yang melaporkan peristiwa-peristiwa pada tahun tersebut. Apalagi naskah-naskah tersebut telah terdigitalisasi sehingga bisa diakses oleh publik.

Pada tahun 1885 di seluruh daerah yang dikuasai Belanda telah terbit sekitar 16 surat kabar dalam bahasa Belanda dan 12 surat kabar dalam bahasa Melayu seperti, Bintang Barat, Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar (terbit di Bogor), Selompret Melayu, Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (terbit di Surabaya) dan surat kabar berbahasa Jawa, Bromatani (terbit di Solo). Namun sayangnya koran-koran berbahasa Melayu ini sangat sulit diakses dan belum terdigitalisasi dengan baik serta tidak melaporkan semua peristiwa di wilayah Hindia Belanda.

Di beberapa daerah seperti Purwokerto ada tulisan Raden Adipati Aria Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata (mantan bupati Banyumas) dengan judul Kenangan-Kenangan 1933-1950, yang diterbitkan Percetakan Serayu, Purwokerto (1952). Tidak kurang pentingnya tulisan M.M. Purbo Hadiwijoyo yaitu, Sejarah Pembentukan Bangsa Indonesia (2012) yang ditulis berseri dalam media on line termasuk kenangan selama beliau pernah tinggal di Karanganyar sebelum digabungkan menjadi bagian dari Kebumen. Tulisan-tulisan ini bisa melengkapi menggambar wajah kota di era kolonial selain sumber-sumber Belanda.

Logical fallacy (sesat fikir) yang menempatkan bahasa Belanda sebagai bahasa yang harus dijauhi dan sumber-sumber Belanda harus dicurigai obyektivitasnya menjadikan kita gagal mendapatkan dan mengetahui masa lalu kota kita. Ini bukan soal pemuliaan terhadap Belanda melainkan pelacakan dan analisis data dari sumber primer. 

Melalui koran-koran berbahasa Belanda di atas kita bisa mengumpulkan banyak data mengenai kehidupan sosial, ekonomi, budaya di kota kita sehingga bermanfaat untuk menggambar wajah kota dan merekonstruksinya bagi pembaca masa kini.

Bukankah salah satu tugas sejarawan sebagaimana dikatakan Purnawan Basundoro, ...karena perlu diingat bahwa yang dilakukan oleh sejarawan adalah merekonstruksi sejarah ( Pengantar Sejarah Kota, 2020:9)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar