Kamis, 25 Februari 2021

TAYUBAN DAN KESENIAN DI KEBUMEN SEMASA KOLONIAL

Jika saat ini kita mengenal sejumlah seni tarian lokal mencuat dan mulai dikenali publik Kebumen seperti Cepetan, Dangsak, Ebleg (tari Lawet pernah berjaya tahun 1989-1995 namun kini redup) dan praktik seni budaya lainnya, bagaimana kesenian yang berkembang di Kebumen semasa kolonial?

Kesenian Tayuban dan Tandak terlacak dalam sejumlah surat kabar sebagai bagian dari kegiatan pesta perayaan pernikahan para pejabat pribumi di Kebumen, selain wayang orang.

Sebagaimana dilaporkan surat kabar De Locomotief (22 Februari 1927) perihal pesta pernikahan (huwelijksvoltrekking) putri Aroeng Binang VII (Maliki Soerjomihardjo) yaitu R. A. Siti Chatidjah dengan R. Moekahar di pendopo Kabupaten Kebumen yang berlangsung pada hari Sabtu, 18 Februari.

Dengan dihadiri sejumlah tamu baik pejabat Belanda maupun pejabat pribumi al., Residen van der Jagt, Asisten Residen Kebumen, Kontrolir Karanganjar, Bupati Karanganjar, Bupati Puworedjo, Bupati Wonosobo, Bupati Temanggoeng, Bupati Demak, Bupati Tuban, pesta sangat meriah dan pendopo di hias berbagai tanaman hijau.

Setelah berbagai sambutan baik dari tuan rumah (de gastheer) yaitu Bupati Arung Binang VII dan para pejabat Belanda dan pribumi maka tibalah acara hiburan berupa tarian. Dikatakan dalam berita tersebut:

Malam harinya ada pesta tandak (tandakpartij) untuk pejabat pribumi (inlandsche ambtenaren). Sebelum pesta tajub (tajubpartij), fragmen wayang dipersembahkan oleh beberapa pejabat pribumi kemudian tari kelana (de kelana-dans) dibawakan oleh perkumpulan tari dari Karanganjar yang dibawakan dengan indah.

Tarian yang dimulai pada pukul 11 malam ini, seperti biasa, dibuka oleh pengantin laki-laki yang akan membawakan tarian pertama. Setelah itu, Bupati Wonosobo dan Demak memberikan contoh yang sangat meriah yang diikuti oleh para penarinya. Pesta itu berlangsung hingga pukul 5.30 pagi

Beberapa tahun kemudian Bupati Arungbinang VII menikahkan putrinya yang bernama Raden Adjeng Siti Sundendari menikah dengan Raden Sura, seorang pejabat di Departemen Urusan Ekonomi di Batavia, salah satu hiburan yang ditampilkan adalah wayang orang (De Locomotief, 18 November 1935). 

Ada yang menarik dari laporan surat kabar tersebut perihal istilah tarian tandak dan tarian kelana. Jika kita melacak dalam beberapa sumber berita, tarian tandak adalah khas Riau dan tarian kelana/klana adalah khas Cirebon (tarian topeng). Apakah di saat pesta pernikahan tersebut kedua tarian daerah lain tersebut yang ditampilkan ataukah hanya sebuah peristilahan oleh si pelapor berita untuk menandai tarian sejenis?

DR. Th. Pigeud dalam bukunya, Javaanse Volksvertoningen melaporkan sebuah kesenian topeng yang pernah ada di Desa Kaibon, Onderdistrict (kecamatan) Mirit, District (kawedanan) Prembun Regentschap (kabupaten) Kebumen pada tahun 1928. Namun selama 15 tahun terakhir tidak lagi terdengar jejaknya dan  digantikan dengan kesenian kuda lumping dan reog dikarenakan biayanya yang murah (1938:96). Apakah yang dimaksudkan tarian kelana yang ditampilkan penari dari Karanganyar adalah tarian topeng yang pernah berjaya di tahun 1920-an?

Sekalipun masih banyak menyisakan sejumlah pertanyaan namun melalui pelacakan kehidupan sosial budaya di Kebumen semasa kolonial, kita dapat membayangkan dan merekonstruksi keberadaan sejumlah praktik seni budaya yang pernah hidup di masa tersebut dan yang sampai hari ini masih bertahan atau sebaliknya telah punah sama sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar