Jumat, 22 Januari 2021

RUMAH SAKIT PANDJOEROENG KEBUMEN DAN KISAH MBOK MINAH

Tahun 1902 telah berdiri sebuah hulphospitaal (rumah sakit pembantu) di desa Krakal, dekat pemandian air panas berkat jasa Ds Baker yang berkarya di Gereja Misi Friesche (kelak menjadi Gereja Kristen Jawa) dari tahun 1901-1906. Rumah sakit ini dibeli oleh Ds. Baker dengan harga f 500 baik dari sumbangan pemerintah maupun uang pribadinya sebesar f 1000. Ds. Baker mempercayakan pengelolaan rumah sakit ini pada Dikoen dan Eliezer. Saat pertama dibuka telah menerima 40 pasien (Schetsen en Herinneringen, 1925:57).



Hulphospitaal Krakal

Pada tanggal 1 Januari 1916 kemudian berdirilah sebuah zending ziekenhuis (rumah sakit misi) yang didirikan tidak jauh dari stasiun kereta api Kebumen yang bernama Rumah Sakit “Pandjoeroeng”. Sejak kedatangan seorang dokter ke Kebumen pada Mei 1915 maka dimulailah pembangunan setahap demi setahap. Ds Van Dijk penerus Ds Baker berada dibalik pembangunan rumah sakit ini dibantu Zuidema. Sebelum ada rumah sakit ini, satu Dokter Jawa yang diperbantukan (kemungkinan dari Petronela Yogyakarta) untuk melayani 400.000 warga Kebumen pada tahun 1900.

Tahukah Anda siapa yang memberi nama “Pandjoeroeng” dan apa maknanya? Dialah Ds. (Pdt) Van Dick yang memberikan nama tersebut. Artinya, dat is verhooring, gebedsverhooring (permohonan atau jawaban doa). Van Dijk dan banyak orang telah berdoa agar rumah sakit ini dapat didirikan meskipun dengan susah payah. Die naam prijkt dan ook voortaan op de voorgevel van het hoofdgebouw (Mulai saat ini, nama tersebut akan ada di fasad bangunan utama), demikian tulis dr. Osterhuis dalam artikelnya berjudul, Het Zendinghospitaal te Keboemen: Gedurende te Eerste Zes Zaren (Schetsen en Herinneringen, 1925:73). Dr. Osterhuis adalah oud-geneesheer-directeur alias mantan direktur medis rumah sakit ini.


Bangsal pria

Dari tulisan pendek Dr. Osterhuis inilah kita mengenal nama pasien pertama yang ditangani oleh rumah sakit ini. Ini menarik. Nama pribumi yang menjadi pasien pertama tetap diingat dan dituliskan agar diketahui dan dikenang dalam sejarah. Pasien itu bernama Mbok Minah. Dia datang dengan een kolossaal groot gezwel in de buik (sebuah daging tumbuh membesar di perut). Ya, nampaknya sebuah tumor. Sebenarnya dokter dan perawat kuatir untuk menangani kasus ini karena baru pertama kali dan peralatannya nog zoo primitief (masih sangat sederhana).

Namun  Mbok Minah sangat percaya dirinya dapat dioperasi dan disembuhkan. Puji syukur akhirnya operasi itu berhasil dan sejak itulah kepercayaan diri semakin bertambah untuk melakukan tugas pelayanan kesehatan. Dat gaf moed voor de volgende (itu memberikan keberanian selanjutnya), demikian kenang Dr. Oosterhuis.

Ruang operasi

Berturut-turut, nama pribumi lainnya disebutkan al., Thomas dan Sukiman di ruang rawat jalan. Lalu Sadimoen dan Lucas sebagai kepala bangsa pria dan Partiwi dan Soedarmi di bangsal wanita. Ada lagi nama-nama lain disebutkan yaitu Sargioes, Wagia, Ngadiroen, Satidjem, Soepardi, Achaz. Nama Padia disebut sebagai juru perantara bahasa baik Jawa dan Belanda karena semua belum tentu mengerti bahasa masing-masing.

Zendingziekenhuis Pandjoeroeng

Tahun 1924, Zendingziekenhuis “Pandjoerong” telah dikunjungi 20.000 dengan tenaga dokter Eropa sebanyak 2 orang, dua orang perawat eropa, apoteker Jawa dan sekitar lima puluh orang perawat Jawa (1925:92).

Demikianlah selintas wajah dan aktivitas di seputar rumah sakit “Pandjoeroeng” yang kelak menjadi RSUD Kebumen sampai tahun 2014 sebelum kemudian berpindah lokasi ke Jalan Lingkar Selatan dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah “Dr. Soedirman”.


.

1 komentar:

  1. Betul betul mengenang RSU tersebut karena aku di lahirkan di situ pada tahun 1957

    BalasHapus