Selasa, 28 Februari 2023

DALEM PANGERANAN: JEJAK KISAH BUPATI BANYUMAS PANGERAN ARIA GANDOEBRATA

Sebuah rumah kosong yang mulai rapuh namun masih menyisakan kemegahan di zamannya berdiri dalam jalan yang sepi bernama Jalan Budi Utomo, Banyumas. Di depan rumah dengan teras bertangga terlihat hamparan halaman depan di tanami sejumlah pohon dan bunga.

Rumah ini dikenal sebagai Dalem Pangeranan dan di depan regol dengan pagar besi nampak tersemat sebuah tulisan yang sudah mulai lusuh namun masih terbaca yaitu Pangeran Aria Gandasoebrata. Siapakah Pangeran Aria Gandasoebrata dan apakah Dalem Pangeranan tersebut?

Pangeran Aria Gandasoebrata adalah putra Bupati Banyumas ke-14 yaitu Aria Mertadiredja III. Sebagaimana pada masa itu, putra bupati dapat menggantikan kedudukan sang ayah. Demikian pula dengan Aria Gandasoebrata di kemudian hari menggantikan kedudukan sang ayah menjadi Bupati Banyumas ke-15.

Pangeran Aria Gandasoebrata: Karir dan Kewafatan

Dalam sebuah berita surat kabar yang berjudul, Regent Pangeran Aria Gandasoebrata yang dimuat De Locomotief (14 Februari 1933) kita mendapatkan sejumlah informasi berharga mengenai perjalanan karir sang bupati. Berita surat kabar ini sebenarnya melaporkan pensiunnya sang bupati dari jabatan publik pada usia 63 tahun setelah mengabdi selama 45 tahun di mana di dalamnya selama 20 tahun menjabat sebagai Bupati Banyumas.

Karirnya diawali pada tahun 1887 saat diangkat sebagai juru tulis di Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. Kemudian berlanjut pada tahun 1888 diangkat menjadi asisten wedono kelas dua. Kemudian tahun 1894 ia diangkat menjadi wakil kepala jaksa di Banyumas. Secara berturut-turut jabatan wedana, ketua jaksa, patih wedono diwariskan hingga diangkat menjadi bupati Banjoemas pada 6 November 1913.


Pangeran Aria Gandasoebrata

Pada tahun 1908 ia dianugerahi zilveren ster (bintang perak) atas kesetiaan dan jasanya sebagai seorang patih. Tahun 1920 mendapat gelar Aria dan tahun 1923 bergelar Adipati. Pada tahun 1925 bupati mendapat hak untuk membawakan songsong (payung kehormatan) kuning. Kemudian tahun 1927 menerima groote gouden ster (bintang emas besar) untuk kesetiaan dan jasa. Akhirnya, dengan Keputusan Ratu tanggal 25 Agustus 1930, pemerintah mengakui jasa bupati dengan menganugerahkan het Officierskruis der Oranje-Nassau orde (Salib Perwira Ordo Orange-Nassau)

Di masa pemerintahan Aria Gandasoebrata, Kabupaten Banyumas dibagi menjadi empat distric (kawedanan) yaitu Banyumas, Soekaredja (Sokaraja), Purworejo dan Sumpiuh dan memiliki populasi sebanyak 397.715, menurut sensus tahun 1930. Luas wilayah kabupaten ini adalah 669,55 km2 yang berjumlah 594 jiwa per km2.


Keluarga Pangeran Aria Gandasoebrata 
(Sumber:  Sebuah Pendopo di Lembah Serayu. Yang asli di rumah Dalem Pangeranan tidak ada foto S.M. Gandasoebrata. Mungkin sedang studi di luar Banyumas)

Dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten yang ada di Karesidenan Banyumas, Kabupaten Banyumas merupakan kabupaten yang paling padat penduduknya; hanya Kabupaten Kebumen yang saat itu masuk wilayah karesidenan Kedu yang memiliki kepadatan penduduk 601 jiwa per km2, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Banyumas. Jumlah penduduk per km2 untuk Banyumas sebanyak 594 orang, Cilacap 234 orang, Karanganyar 514 orang, Purbalingga s 511 orang, Purwokerto  508 orang, Banjarnegara 312 orang serta Kebumen 601 orang.

Setelah penyatuan desa pada tahun 1933, kabupaten Banyumas memiliki 186 desa. Kepadatan penduduk dan peningkatan jumlah penduduk sebesar dua kali lipat dari jumlah penduduk dalam 80 tahun tentu menjadi perhatian kepala pemerintahan. Bupati mendukung emigrasi yang terjadi ke Kabupaten Deli, Benkoelen (Bengkulu) dan Lampung. Emigrasi besar terjadi dari Sumpiuh. Pada tahun 1927 terjadi emigrasi dari Sukaredja (Sokaraja) ke kabupaten Lampung untuk pekerjaan irigasi. Pada tahun 1930, 1931 dan paruh pertama tahun 1932, masalah emigrasi ditanggapi dengan serius dan emigrasi secara teratur terjadi di Kabupaten Lampung.

Saat pensiun sebagai bupati maka putra sulungnya yang bernama Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata menggantikan kedudukannya sebagai Bupati Banyumas ke-16. Setelah menjabat sebagai patih di Purwokero sejak Agustus 1925 dan menjadi patih di Kendal sejak Juli 1930 maka di bulan April 1933 menggantikan ayahandanya menjadi Bupati Banyumas (De Locomotief, 26 April 1933). 

Di masa kepemimpinan S.M. Gandasoebrata, Purwokerto dihapuskan statusnya menjadi kabupaten bersama dengan Batang dan Karanganyar (Teguh Hindarto, Resesi Ekonomi Dunia Yang Menghantarkan Penghapusan Kabupaten di Jawa - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/02/resesi-ekonomi-dunia-yang-menghantarkan.html) namun dijadikan pusat ibukota kabupaten Banyumas di mana S.M. Gandasoebrata kelak berpindah kantor dan rumah di Purwokerto dengan memindahkan pendopo Si Panji dari Banyumas ke Purwokerto (Teguh Hindarto, Pendopo Si Panji di Purwokerto dan Duplikat Pendopo Si Panji di Banyumas - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2022/01/pendopo-si-panji-di-purwokerto-dan.html)

S.M. Gandasoebrata sewaktu menjadi patih di Purwokerto

Bupati Banyumas dengan segudang prestasi tersebut wafat pada tanggal 17 Juni 1948. Sebuah surat kabar dengan judul berita Bestuurder van Formaat:Pangeran A.A. Gandasoebrata, oud Regent van Banjoemas, Overleden melaporkan, “Pagi hari tanggal 19 Juni sejumlah besar orang dari semua bagian karesidenan berkumpul di rumah duka di Banyumas untuk memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Pangeran yang telah dibaringkan. Sebuah detasemen polisi daerah di Banyumas ditempatkan dengan siaga di halaman depan. Bupati Banyumas R.M.T. Sapangat dan Controleur Binnenlandsch Bestuur (pengawas Pemerintahan Dalam Negeri) yaitu  J.A. Reus ditugaskan khusus untuk memimpin pemakaman” (De Locomotief, 25 Juni 1948)

Bupati yang dilahirkan tanggal 10 Januari 1869 di Purwokerto ini diberangkatkan dari rumah duka (het sterfhuis) dan sekaligus rumah bintang (het sterhuis) pada pukul 11.00 dengan diiringi polisi militer dan disaksikan penduduk desa yang berbaris dengan teratur (eerbiedig opgesteld) di sepanjang 20 km menuju pemakaman Kalibagor di Purwokerto.

Dalem Pangeranan

Merujuk pada sebuah buku bercerita untuk anak-anak yang disertai gambar dan keterangan dengan judul, Sebuah Pendopo di Lembah Serayu (Jakarta: Pustaka Tanjung 2009) karya Ratmini Soedjatmoko Gandasoebrata (istri Soedjatmoko seorang jurnalis, intelektual, duta besar di era Sukarno dan Suharto yang belum lama ini dirayakan seratus tahunnya - 100 Tahun Kelahiran, Karya Soedjatmoko Didigitalisasi  -https://mediaindonesia.com/humaniora/463491/100-tahun-kelahiran-karya-soedjatmoko-didigitalisasi).

Dalem Pangeranan dibangun oleh Pangeran Adipati Aria Mmertadiredja III di desa Sudagaran di atas lahan 5000 m2. Sejak pensiun tahun 1913, P.A.A. Mertadiredja tinggal di Dalem Pangeranan sampai wafatnya tahun 1927. Demikian pula putranya yaitu Pangeran Aria Gandasoebrata setelah pensiun pada tahun 1933 tinggal bersama istrinya hingga wafatnya.

 

Setelah wafat maka rumah ini ditinggali oleh Mr. Sudirman Gandasubrata (ayahanda Ratmini Soedjatmoko Gandasoebrata). Kemudian rumah ini dibeli oleh kakak ibu Ratmini yaitu Prof. Dr Ratwito Gandasubrata. Setelah wafat pada tahun 1991 maka Dalem Pangeranan dibeli secara kolektif oleh cucu-cucu P.A.A. Gandasoebrata yang kemudian mendirikan yayasan untuk mengelola rumah dan halaman tersebut.




Percakapan dengan Bapak Susilo (tetangga depan Dalem Pangeranan)

Buku tersebut memberikan deskripsi mulai dari taman yang ditanami mawar dan ada pohon Kepel yang langka dan tiga buah pintu lebar untuk masuk ke dalam rumah sampai serambi belakang yang diisi meja makan untuk 12 orang.

Saat tulisan ini ditulis, Dalem Pangeranan ditutup dari publik dan tidak bisa masuk ke dalamnya sebagaimana tahun-tahun sebelumnya sehingga tidak bisa melihat isi rumah tersebut. Kiranya rumah kuno  yang merupakan jejak artefak bersejarah ini dibuka kembali untuk publik dan menjadi sumber belajar mengenai histori Banyumas dan Purwokerto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar