Senin, 20 Februari 2023

CEROBONG PABRIK GULA SITIREDJO KEBUMEN

Ada yang menarik dari foto "Zending Ziekenhuis Pandjoeroeng" (pasca kemerdekaan menjadi RSUD Kebumen sampai tahun 2014) tahun 1918 yang diambil dari buku Zendingsblad Voor Gereformeerde Kerken In Nederland (1918). Apakah itu? Yaitu cerobong khas pabrik gula di ujung Timur rumah sakit. Sejak tahun 1850-1897 telah berdiri Pabrik Gula Sitiredjo (dari hasil wawancara, belum satupun saya dapatkan orang Kebumen yang tahu nama pabrik gula ini) yang dimiliki orang Jawa dan berganti Tionghoa namun setelah beberapa tahun tutup 1900-1911 maka diambil alih oleh orang Tionghoa Banyumas sampai akhirnya tutup bertahun-tahun karena selesai konsesinya.

Menurut laporan De Indische Mercuur (31 Agustus 1917) pabrik gula ini dijadikan gudang penyimpanan oleh pabrik gula Remboen di Prembun. Bahkan dalam berita kecelakaan yang terjadi di rel kereta api dekat pabrik tersebut pada 13 Januari 1930 nama pabrik gula Sitiredjo sebagai afdeeling (departemen, bagian) dari pabrik gula Temboeng sebagaimana dilaporkan surat kabar De Locomotief (16 Januari 1930)

Sepenggal kisah Suikerfabriek bernama Sitiredjo telah diulas dalam buku saya berjudul, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII (Yogyakarta: Deepublish 2020). Isinya lebih banyak memperlihatkan sad story berupa pemindahan pemilik karena pailit dan akhirnya ditutup bertahun-tahun untuk kemudian diakuisisi oleh Suikerfabriek Remboen, Prembun. 

Menurut keterangan Bapak Sumaryo Soemardjo (yang juga menulis sebuah buku pasca pensiun dengan judul, "Anak Panjer Kebumen", Malang 2019) dirinya masih ingat melihat sisa cerobong pabrik gula sekitar 5 meter di sekitar tahun 1950-an. Tentu tinggi aslinya bisa sekitar 25 meter. Tidak jelas apakah kerusakan cerobong itu akibat situasi peperangan saat terjadi Agresi 1 (1947) dan Agresi 2 (1949) atau sudah rusak sebelum peristiwa perang karena tidak berproduksi.

Untuk kelengkapan kisahnya yang merentang dari tahun 1856-1900 dan 1900-1930-an akan dituliskan dalam artikel tersendiri. Bisa dibayangkan jika cerobong asap suikerfabriek tersebut masih ada bukan? Selain penanda jejak zaman, di mana di pusat kota Kebumen pernah berdiri pabrik gula yang lebih dahulu keberadaannya dari pabrik gula di Prembun, juka menjadi lokasi wisata sejarah kota. Melalui wisata sejarah kota kita bisa memetakan perubahan sosial dan perkembangan ekonomi kota melalui artefak yang tersisa.

Beruntung jejak-jejak beritanya masih dapat dilacak melalui tumpukan dokumen berupa surat kabar hingga buku-buku laporan industri era kolonial. Bayangkan jika sudah tidak tersisa bangunan lamanya, tidak ada pula beritanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar