Rabu, 17 Februari 2021

BERITA KORAN/BUKU/JURNAL SEMASA KOLONIAL SEBAGAI SUMBER DATA

Jika ingin mengetahui situasi lokasi-lokasi yang disinggahi dan menjadi area konflik di saat Perang Jawa (1825-1830) termasuk di wilayah Bagelen Barat (di mana Kebumen termasuk di dalamnya) maka dapat membaca Geschiedenis van den Oorlog op Java van 1825 tot 1830 (1856) karya J. Hageman. Nama-nama desa seperti Sadang, Loning, Ambal, Panjer, Kebumen, Kemit, Remo Jatinegara, Petanahan, Karangbolong dll. disebutkan dengan jelas dalam buku tersebut.

Selasa, 16 Februari 2021

MENUJU LORONG WAKTU KARANGANYAR SEMASA KOLONIAL

Pasca Perang Jawa berakhir (1825-1830), Bagelen diubah statusnya dari mancanegara kilen milik kasultanan (Yogyakarta) dan kasunanan (Surakarta) menjadi milik Belanda dan dijadikan Karesidenan Bagelen.

Sabtu, 06 Februari 2021

RESESI EKONOMI DUNIA YANG MENGHANTARKAN PENGHAPUSAN KABUPATEN DI JAWA


Prof. Rhenald Kasali pernah menuliskan sebuah buku dengan judul Disruption (2017) untuk menggambarkan dampak perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan great shifting (pergeseran besar-besaran) dimana sejumlah kegiatan usaha akan mengalami kehilangan relevansi akibat perubahan yang disebabkan teknologi informasi.

Jumat, 05 Februari 2021

GETHEK DAN BRUG (JEMBATAN) DI PEJAGOAN


Jika Jembatan Sungai Luk Ulo tidak dibangun, maka untuk mencapai Pejagoan dari Kebumen harus memutar melewati Jembatan Tembana (sekitar 3 km). Sebelum 1 Januari 1936, Pejagoan adalah sebuah distrik (kawedanan) di bawah regentschap (kabupaten) Karanganyar.

KABURNYA RAJA RAMPOK DARI PENJARA KEBUMEN 1939 DAN 1940


Ada dua peristiwa anomali di Kebumen pada tahun 1939 dan 1940. Beberapa tahun sebelum Jepang menguasai wilayah karesidenan Banyumas dan Kedu (di mana Kabupaten Kebumen berada). 

Jumat, 22 Januari 2021

RUMAH SAKIT PANDJOEROENG KEBUMEN DAN KISAH MBOK MINAH

Tahun 1902 telah berdiri sebuah hulphospitaal (rumah sakit pembantu) di desa Krakal, dekat pemandian air panas berkat jasa Ds Baker yang berkarya di Gereja Misi Friesche (kelak menjadi Gereja Kristen Jawa) dari tahun 1901-1906. Rumah sakit ini dibeli oleh Ds. Baker dengan harga f 500 baik dari sumbangan pemerintah maupun uang pribadinya sebesar f 1000. Ds. Baker mempercayakan pengelolaan rumah sakit ini pada Dikoen dan Eliezer. Saat pertama dibuka telah menerima 40 pasien (Schetsen en Herinneringen, 1925:57).

Selasa, 12 Januari 2021

KEMERIAHAN DI ALUN-ALUN KARANGANYAR DAN PERLOMBAAN BALAPAN SEPEDA TAHUN 1935

Dua bulan menjelang penghapusan status Karanganyar sebagai kabupaten, pada bulan oktober 1935 terjadi keramaian luar biasa di Karanganyar khususnya di alun-alun. Sebuah berita berjudul, De Faroka Sportwedstrijden te Karanganjar menuliskan, "Antusiasme yang tinggi (groote animo) terhadap perlombaan olahraga yang diselenggarakan oleh N. V. Faroka di bawah arahan Bapak E. Steevensa, untuk kepentingan Pasar Malem Dari divisi Asib yang baru dibentuk" (Algemeen Handelsblad, 29 Oktober 1935).