Minggu, 02 April 2023

MELACAK JEJAK TRAH KOLOPAKING DAN TRAH WONGSONEGORO DALAM VERSI BABAD BANYUMAS

Sebuah kompleks pemakaman dengan pintu gerbang megah bertuliskan Makam Tumenggung Kalapaking tegak berdiri di perbukitan kecil di tepi jalan Desa Kalijirek, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Jika kita memasuki kompleks pemakaman di dalamnya ada banyak nama yang dikebumikan namun yang utama dan telah dikenal masyarakat Kebumen adalah Tumenggung Kolopaking (I-V). Ada beberapa nama lain yang mungkin kurang begitu dikenal namun namanya tertulis dalam sejumlah naskah babad yang dimiliki oleh masyarakat Banyumas yaitu trah Wongsonegoro (I-V) dan disebut sebagai Ngabehi Kalijirek.

Siapakah Tumenggung Kolopaking? Siapakah Ngabehi Wangsanegara? Sebelum Kebumen ditetapkan sebagai administrasi baru pasca Perang Jawa berakhir (1830), adalah Panjer nama wilayah yang berada dalam kekuasaan Mataram. Tumenggung Kolopaking I-IV berkuasa di Panjer sampai pecah Perang Jawa. Kolopaking adalah perubahan nama dari kalapa aking. Saat terjadi pemberontakan Trunajaya (1677), Sunan Amangkurat menyingkir dari Plered dan tiba di Panjer (Teguh Hindarto, Dari Panjer Menjadi Kebumen: Sebuah Kronik Singkat - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2022/10/dari-panjer-menjadi-kebumen-sebuah.html).

Makam Trah Kolopaking

Sunan Amangkurat menjadi segar badannya setelah meminum air kelapa aking (versi lain menyebutkan terkena racun) yang disuguhkan Ngabehi  Kertawangsa. Jadilah julukan baru Ngabehi Kalapaking I alias Ki Gede Panjer Roma III. Dalam babad versi Banyumas, Kiai Kertawangsa (Kolopaking I) turut terlibat aktif dalam pencarian tanah peristirahatan bagi Sunan Amangkurat I yaitu di tegal arum atau Tegal (Budiono Herusatoto, Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa dan Watak, 2008:71).


Makam Tumenggung Kolopaking I

Kertawangsa berputra Bagus Mandangin (Mandingen) dan bergelar Kalapaking II alias Ki Gede Panjer Roma IV. Bagus Mandangin berputra Kertawangsa Sulaiman dan bergelar Kalapaking III alias Ki Gede Panjer Roma V.

Tokoh Kertawangsa Sulaiman yang bergelar Kalapaking III alias Ki Gede Panjer Roma V dalam Serat Sujarah Banyumas tidak disebut Kolopaking III melainkan Kertawangsa III. Yang berjuluk Kolopaking III adalah justru Kertawangsa IV.

Di masa Kertawangsa Sulaiman alias Kalapaking III (versi Kebumen) inilah terjadi Geger Pacina dan Kertawangsa Sulaiman terlibat membantu Pangeran Garendi yang bersekutu dengan pasukan Tionghoa.


Makam Tumenggung Kolopaking III

Dalam versi Kebumen yang ditulis oleh Alm. Tirtowenang Kalapaking dalam Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Ki Ageng Mangir–Kolopaking–Arung Binang, Trah Kolopaking (2006) beliau ini beristrikan wanita Tionghoa yang pernah menyamar sebagai prajurit Tionghoa lelaki. Namanya Tan Peng Nio (Teguh Hindarto, Jejak Samar Pendekar Tionghoa - https://www.academia.edu/44430949/TAN_PENG_NIO_JEJAK_SAMAR_PENDEKAR_TIONGHOA). Menariknya, beberapa teks Babad Banyumas tidak mengenal nama dan kisah Tan Peng Nio ini. Jika Alm.Tirtowenang Kolopaking tidak menuliskan kisah Tan Peng Nio walaupun singkat maka kisahnya hanya akan dikenang dalam ingatan yang terbatas setelah pergantian generasi (Teguh Hindarto, Mengenang Tirtowenang Kolopaking, Mengapresiasi Legacy yang Ditinggalkannya - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2023/01/mengenang-tirtowenang-kolopaking.html)


Makam Tan Peng Nio sendiri di tengah sawah dan tepian jalan

Saat Perang Jawa pecah, Panjer dipimpin Kertawangsa IV alias Kalapaking IV (teks Banyumas hanya mengenal Kalapaking III) alias Ki Gede Panjer Roma VI.


Makam Tumenggung Kolopaking IV

Tokoh Kolopaking (I-V) tercatat dalam naskah babad yang berhubungan dengan Banyumas, meski hanya 3 naskah babad dari 62 naskah. Yang pertama adalah Serat Sudjarah Banyumas (terbitan tahun 1921 aksara Jawa yang dilatinkan tahun 1970) dan Tedhakan Serat Soedjarah Joedanegaran (koleksi Museum Sana Budaya Yogyakarta tanpa tahun) serta Inti Silsilah Sejarah Banyumas (1969) (Sugeng Priyadi, Sejarah dan Kebudayaan Kebumen,2004:82-94).

Selain tiga naskah di atas juga tercatat dalam buku Sejarah Dinasti Kanjeng Raden Adipati Tumenggung Kolopaking Pendopo Panjer Rooma Kebumen (1997) karya Alm.Tirtowenang Kolopaking  dan direvisi serta diterbitkan ulang dengan judul, Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas: Kiai Ageng Mangir, Kolopaking, Arung Binang (2006) serta Dongeng Karang Sambung (1987).

Terlepas antar naskah memiliki varian narasi namun dan pentarikhan yang bisa jadi keliru namun keberadaan babad tersebut berkontribusi memberikan gambaran keberadaan sebuah wilayah vasal Mataram bernama Panjer (pasca Perang Jawa berakhir 1830 berganti menjadi Kebumen) dan para pemimpin wilayah mulai dari Bodronolo (putra Ki Ageng Mangir) hingga trah Kolopaking I-V.


Bapak Mulyadi, Jurukunci Makam Tumenggung Kolopaking

Mengapa tokoh Kolopaking I-V tercatat dalam naskah babad yang berhubungan dengan dengan Banyumas yaitu Serat Sudjarah Banyumas dan Tedhakan Serat Soedjarah Joedanegaran ? Karena saudara Tumenggung Kolopaking I (alias Kyai Bagus Kertowongso,Ngabehi Panjer) yaitu Wangsanegara I (alias Kyai Bagus Kertodipo, Ngabehi Kalijirek) kelak akan menurunkan generasi pengganti yaitu Wongsonegoro V. Anak perempuan Wongsonegoro V diperistri Kanjeng Raden Adipati Bratadiningrat (alias Mertadiredja I), Bupati Kanoman Banyumas. Dalam Serat Sujarah Banyumas disebutkan nama dan gelar Wangsanegara I-V sbb: Kyai Bagus Kertodipo bergelar Wongsonegoro I, Bagus Ompong bergelar Wongsonegoro II, Bagus Kucir/Sutrapata I bergelar Wongsonegoro III, Bagus Suta/Sutrapata II bergelar Wongsonegoro IV, Bagus Sutrapata III bergelar Wongsonegoro V (Drs. Sugeng Priyadi, M.Hum., Sejarah dan Kebudayaan Kebumen, 2004:85).

Namun jika kita memeriksa makam Kolopaking di desa Kalijirek khususnya trah Wangsanegaran hanya tertulis nama Wongsonegoro I. Sisanya menggunakan nama diri tanpa gelar. Beberapa makam disamping Wongsonegoro I adalah Kyai Adipati Empang (jika merujuk naskah Serat Sujarah Banyumas bernama Bagus Ompong alias Wongsonegoro II), Kyai Dipati Koetjir ((jika merujuk naskah Serat Sujarah Banyumas bernama Bagus Kucir), Kyai Wongsodipo, Kjai Tirtodirjo (mungkin keduanya adalah Bagus Suta alias Wongsonegoro IV dan Bagus Sutrapata alias Wongsonwgoro V menurut Serat Sujarah Banyumas).

Makam Wongsonegoro I,II,III

 



 

Makam Wongsonegoro IV dan V

Tahun 1816-1830 Banyumas pernah dibagi dua menjadi Banyumas Kasepuhan (dipimpin Raden Adipati Cakrawedana) dan Banyumas Kanoman (Raden Adipati Bratadiningrat). Pembagian Banyumas sebelum Perang Jawa meletus ini terkait dengan pemecatan Yudanegara V, Bupati Banyumas oleh Kasunanan dikarenakan berani menanam beringin kembar di alun-alun Banyumas sehingga dituduh melakukan mirong kampuh jingga alias permberontakan (Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum, Sejarah Kota Banyumas (1571 Hingga Kini),2018:48).

Ketiga naskah babad ini memberikan informasi penting perihal kedudukan Panjer dan Kalijirek pada masa lalu. Bahkan dalam Inti Silsilah Sejarah Banyumas disebutkan bahwa sebagian Panjer dahulu pernah dikuasai Banyumas Kasepuhan dan sebagian Panjer dikuasai Banyumas Kanoman.

Daerah kekuasaan Banyumas Kasepuhan (Raden Adipati Cakrawedana) meliputi; Adireja, Adipala, Purwokerto, sebagian Panjer (dipimpin Raden Ngabehi R Raden Adipati Cakrawedanaeksapraja), sebagian Banjarnegara. Adapun daerah kekuasaan Banyumas Kanoman (Raden Adipati Bratadiningrat) meliputi: Sokaraja, sebagian Panjer (Raden Ngabehi suradiredja yang kemudian berganti menjadi Raden Ngabehi Wangsabrata), sebagian Banjarnegara (Dr. Tanto Sukardi, M.Hum., Tanam Paksa di Banyumas: Kajian mengenai Sistem, Pelaksanaan dan Dampak Sosial Ekonomi, 2014:17-18)


Makam Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek

Karena trah Arung Binang kelak akan bertemu dengan trah Kolopaking dalam konflik Perang Jawa (1825-1830) di mana trah Kolopaking berpihak kepada Pangeran Diponegoro sementara trah Arung Binang di pihak Kasunanan yang dibantu pasukan Belanda, maka penting menyelami masing-masing pihak yang pernah berseteru dengan membaca babad versi kedua belah pihak.

Jika hendak memahami trah Arung Binang dan kaitannya dengan Jaka Sangkrip (Arung Binang I) sebagai trah Pangeran Bumidirjo maka dapat membaca naskah babad seperti Babad Arungbinangan (1937), Babad Arung Binang (tanpa tahun), Babad Kebumen (1953). Sayangnya naskah-naskah ini tidak tersedia di Perpusda Kebumen ataupun di masyarakat Kebumen melainkan di perpustakaan perguruan tinggi di luar Kebumen (Teguh Hindarto, Pelacakan dan Pemanfaatan Naskah Babad Kebumen dan Sumber-Sumber Kolonial Sebagai Sumber Sejarah Kota - https://www.academia.edu/49448472/PELACAKAN_DAN_PEMANFAATAN_NASKAH_BABAD_KEBUMEN_DAN_SUMBER_SUMBER_KOLONIAL_SEBAGAI_SUMBER_SEJARAH_KOTA).

Sementara jika hendak memahami trah Kolopaking dan keterkaitannya dengan Bodronolo sebagai trah Mangir dapat membaca Serat Sudjarah Banyumas (terbitan tahun 1921 aksara Jawa yang dilatinkan tahun 1970) dan Tedhakan Serat Soedjarah Joedanegaran (koleksi Museum Sana Budaya Yogyakarta tanpa tahun) dan Inti Silsilah Sejarah Banyumas (1969) serta Sejarah Dinasti Kanjeng Raden Adipati Tumenggung Kolopaking Pendopo Panjer Rooma Kebumen (1997)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar