Rabu, 30 November 2022

KUBURAN BELANDA (EUROPESCHE BEGRAAFPLAATS/KERKHOF) DI KEBUMEN DAN SEPENGGAL KISAH VAN PELT

Barangkali ada diantara pembaca yang telah melewati sebuah gang yang berada di kawasan Jalan Karangsambung, tidak jauh  dari Pasar Mertakanda. Nama gang tersebut diberi nama “Gang Krekop”. Sebuah nama yang agak terdengar asing maknanya ditelinga bukan? Biasanya kita mendengar nama hewan, nama bunga, nama tokoh sebagai nama jalan nama gang namun kali ini nama “Gang Krekop” menarik perhatian kita.

Apa makna dibalik nama “Gang Krekop”. Pengucapan “Krekop” adalah penamaan lokal masyarakat terhadap istilah dalam bahasa Belanda Kerkhof (Bandingkan kata Jawa “teken” dan “bengkel” dari kata Belanda tekenen dan wingkel). Istilah kerkhof saat ini lazim dipahami sebagai kuburan atau kuburan orang-orang Belanda.

Antara Kerkhof dan Begraafplaats

Secara umum istilah kerkhof dimaknai kuburan orang Belanda. Secara etimologis dan historis, istilah kerkhof sebenarnya berasal dari kata Belanda “kerk” yang bermakna “gereja” dan “hof” (tunggal) dan “hoven” (jamak) “halaman yang luas” atau “ruang bertembok dan luas” (http://www.woorden.org/woord/kerkhof). Di Batavia (Jakarta sekarang), pemerintahan Belanda melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie - Perusahaan Hindia Timur Belanda) memiliki kebiasaan kala itu bahwa gereja bukan hanya tempat peribadatan melainkan tempat pemakaman yang bisa diletakkan di dalam maupun di halaman gereja.

Namun sudah menjadi pemahaman jamak (yang berlaku sejak era kolonial barangkali) bahwa istilah kerkhof selalu ditujukan untuk nama sebuah kuburan orang Belanda, padahal istilah yang umum untuk kuburan dalam bahasa Belanda adalah begraafplaats atau kalau itu merujuk pada kuburan orang Eropa di Hindia Belanda disebut Europesche Begraafplaats.

Sebenarnya apa sich perbedaan diantara kedua istilah tersebut? Ringkasnya, kerkhof merujuk pada “tempat pemakaman di sekitar bangunan gereja’ sementara  begraafplaats merujuk pada “tempat terbuka atau area tempat penguburan dilakukan, bukan di sekitar bangunan gereja” (Wat is het Verschil Tussen een Begraafplaats en een Kerkhof? https://uitvaartvlaanderen.be/wat-is-het-verschil-tussen-een-begraafplaats-en-een-kerkhof/)

Itulah sebabnya dalam sejumlah pemberitaan di surat kabar berbahasa Belanda, beberapa kuburan orang Belanda di Kebumen, Pejagoan, Karanganyar, Gombong disebut dengan Europesche Begraafplaats.

Dimanakah Kerkhof/Europescshe Begraafplaats Kebumen?

Setelah kita mengerti istilah kerkhof dan bisa membedakan dengan begraafplaats, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “apakah penamaan Gangg Krekop berkaitan dengan sebuah keberadaan kompleks pekuburan orang Belanda yang pernah ada di sana?” Jawabannya adalah “ya”. Jika benar demikian maka pertanyaan berikutnya adalah, “dimanakah lokasi pekuburan orang-orang Belanda itu?”

Melalui hasil pencarian dan percakapan dengan beberapa masyarakat maka kita akan diarahkan pada sebuah lokasi yang pernah menjadi kompleks pemakaman orang-orang Belanda di Kebumen. Menariknya, bukan di lokasi di mana nama “Gang Krekop” berada namun diseberang “Gang Krekop” di mana ada sebuah gang kecil dan sungai yang membelah rumah warga serta di atasnya ada perbukitan kecil.

Menurut keterangan ibu Sri Kusyanti ketika bercakap-cakap dengan penulis pada tanggal 19 April 2021 lalu bahwa tanah pemakaman orang Belanda ini disewa dari tanah warga pribumi bernama Haji Asngari. Menurut ibu Sri, pemerintah Belanda yang ada di Kebumen dahulu pernah menyerahkan surat kepemilikan tersebut kepada Haji Asngari. Sayangnya ibu Sri tidak bisa memperlihatkan di mana surat itu saat ini.

Keterangan lain datang dari pak Nur Hasyim yang pernah penulis mintai keterangan dan mengajak meninjau lokasi eks pemakaman Belanda (13 November 2020) yang saat ini sudah menjadi kompleks perumahan warga. Sekalipun sudah tidak ada bekas makam sama sekali, namun sejumlah penampakkan bekas pintu gerbang dan bekas nisan masih terlihat.

Bahkan Bapak Nur Hasyim masih mengingat bagaimana dahulu pintu masuk terbuat dari regol dan pintu besi serta sejumlah makam Belanda yang besar dan ditutupi atap bata. Sekitar tahun 1980-an perlahan dan bertahan keberadaan makam tersebut mulai dihuni beberapa rumah. Bahkan dahulu ada kereta jenazah yang khas buatan Belanda diletakkan tidak jauh dari lokasi pemakaman.

Menurut keterangan Ibu Sri Kusmiyanti, beberapa jenazah orang Belanda yang sudah menjadi tulang belulang ada yang diambil dan dibawa ke negeri Belanda dan sebagian dikuburkan jadi satu. Entah di mana dikuburkannya.

Nama Mereka Yang Terbaring di Kerkhof/Europescshe Begraafplaats Kebumen

Sekalipun saat ini di kawasan eks kerkhof atau lebih tepatnya Europesche Begraafplaats Kebumen telah berganti menjadi kawasan perkampungan penduduk, namun penulis berhasil melakukan pelacakan perihal siapa saja yang pernah dikebumikan di lokasi ini.

Sebuah buku karya Mr. P.C. Bloys Van Treslong Prins yang berjudul Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigheden Betreffende Europeanen Op Java Dell III, Koninklijke Drukkerij De Unie Batavia Centrum (1938) pada halaman 204-208 memberikan 39 daftar mereka yang pernah dikebumikan dilokasi ini. 

Menariknya, ada keterangan pendek sebelum menjelaskan daftar nama orang yang dikebumikan yaitu, “Boven de poort las men in 1936 “Momento mori” yang artinya, “Di atas gerbang terdapat tulisan ‘Momento mori’ Tahun 1936”. Istilah Latin “momento mori” artinya “ingatlah kematianmu”. Keterangan ini selaras dengan testimoni dan ingatan Bapak Nur Hasyim yang mengatakan bahwa pemakaman ini memiliki pintu gerbang dari besi.

Mereka yang dikebumikan di kompleks pemakaman ini paling dari tahun 1890 yaitu Georgine Mariane Adolphine Simon kelahiran Cirebon 1 Oktober 1862 dan wafat di Kebumen  5 Oktober 1890. Beberapa nama lainnya adalah Nellie van Haeften Kortlandt kelahiran Roterdam 27 Mei 1891 dan wafat di Kebumen 12 September 1925. Ada juga Hendrik Johannes Jacobus Blom kelahiran lahir Almelo 14 Januari 1895 dan wafat di Keboemen 26 Oktober 1924. Penulis hanya membatasi pada beberapa nama tersebut karena akan memakan ruang penulisan jika semua dituliskan.

Disamping nama-nama di atas, ada dua nama yang patut diketahui pembaca sekalian karena dua nama ini berkaitan dengan beberapa figur penting di Kebumen antara kurun waktu 1900-an dan 1930-an. Pertama, adalah Helena Wilhelmina Bakker, lahir 12 April 1902 dan meninggal 22 Desember 1902. Di makamnya ada keterangan kutipan Markus 10:14 dalam bahasa Belanda, Laat de kinderkens tot Mij komen (Biarkan anak-anak itu mendekati-Ku).

Siapa gerangan anak perempuan yang berusia hanya berusia 8 bulan tersebut? Dalam buku tersebut ada keterangan pendek bahwa dia adalah adalah putri Pdt. Dirk Bakker dan Margret van der Bom. Bakker adalah seorang pendeta utusan dari Friesche Kerk di desa Heeg Propinsi Friesland ibukotanya Leeuwarden yang memasuki Kebumen Tahun 1901 (Teguh Hindarto, Benih Injil di Kebumen - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/12/benih-injil-di-kebumen-short-story.html). 

Pendeta Bakker pada tahun 1904 telah membeli sebuah pesanggrahan di dekat pemandian air panas Krakal dan mendirikan hulp hospitaal Krakal sebelum pendirian Zending Ziekenhuis Pandjoeroeng tahun 1915 (Teguh Hindarto, Rumah Sakit Pandjoeroeng Kebumen dan Kisah Mbok Minah - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/01/rumah-sakit-pandjoeroeng-kebumen-dan.html).

Kelak, umat Kristiani yang dibaptis dan dibina olehnya akan dilanjutkan oleh beberapa pendeta penggantinya di kemudian hari yang melayani umat Kristiani Eropa dan Jawa di Kebumen. Umat Kristiani ini kelak menjadi cikal bakal Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebumen.

Anehnya, tidak ada berita mengenai kewafatan dan penyebab kewafatan putri Baker dalam berbagai surat kabar dan buku resmi yang melaporkan kegiatan Pekabaran Injil di Kebumen. Beruntungnya ada satu buku berjudul, Schetsen en Herrineeringen (1925) yang mengisahkan sejarah terbentuknya jemaat Kristiani di Kebumen oleh karya Pekabaran Injil Gereja Friesland (Friesche Kerken) yang tergabung dalam Zending de Gereformeerde Kerken in Nederlands (ZGKN), di mana Pendeta Bakker sebagai pendeta perintis.

Buku ini melaporkan masa-masa sulit yang harus dialami Bakker ketika memasuki Kebumen. Pada tahun 1902 wabah cacar melanda Kebumen dan merenggut banyak nyawa termasuk anak bungsu Baker sebagaimana dikatakan:

Pada tahun yang sama 1902 negeri ini dilanda penyakit cacar yang mengerikan (de vreeselijke pokziekte). Anak bungsu dari keluarga Bakker yang lahir di sini pun menyerah (bezweek). Juga dua anak lainnya, dan Ds. Bakker sendiri terpengaruh olehnya. Untungnya, mereka pulih (1925:44).

Entah mengapa istilah yang dipergunakan adalah bezweek (menyerah) tinimbang istilah dode, sterven, gestorven (meninggal dunia). Apapun itu, pernyataan ini menjelaskan apa yang terjadi pada putri Baker yang hanya berusia 8 bulan yaitu terpapar cacar ganas yang melanda Kebumen tahun 1902.

Kedua, adalah nama Willem Diederik van Pelt. Dalam buku catatan tersebut selengkapnya dituliskan ada tiga nama yang terkait dan dikebumikan di pemakaman Eropa di Kebumen sbb:

Di sini beristirahat / Maria Agatha Meyeringh Van Pelt / lahir di Helder 23 Mei 1891 meninggal di Keboemen 10 Juni 1927 / dan putranya yang lahir meninggal pada 5 Juni 1927 / dan / Willem Diederik van Pelt / lahir di Dordrecht 5 Juni 1860 meninggal di Keboemen 2 November 1932

Kemudian buku ini memberikan keterangan pendek bahwa Maria A. van Pelt adalah anak perempuan Willem Diederik van Pelt dan Maria Paarlberg sbb:

Maria A. van Pelt, istri Johan Jocobus Meyeringh, perwakilan Maatschapij tot Explotatie van Oliefabrieken, anak perempuan Willem Diederik van Pelt , karyawan Maatschappij van Dakpannen dan Maria Paarlberg

Siapakah Van Pelt Yang Terbaring di Kerkhof/Europescshe Begraafplaats Kebumen?

Dalam beberapa artikel yang ditulis sebelumnya, nama Van Pelt atau lengkapnya Willem Diederik van Pelt telah seringkali disitir. Beliau adalah salah satu direktur perusahaan genting bernama N. V. Tichelwerken "Palembang" yang berpusat di Kebulusan, tidak jauh dari perusahaan genting Haji Aboengamar. Perusahaan Tichelwerken ini disebutkan lebih modern dalam mesin yang dipergunakan sebagaimana disebutkan surat kabar De Locomotief (13 Februari 1930) (Teguh Hindarto, Genting Aboengamar di Sokka dan Tichelwerken di Keboeloesan - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/07/genting-aboengamar-di-sokka-dan.html).

Dalam situs https://www.genealogieonline.nl kita bisa melacak orang tua Van Pelt yaitu dari pasangan Anthonij van Pelt dan Willemina Hesmerg dan hasil pernikahan Willem Diederik van Pelt dengan Maria Paalberg menurunkan Maria Agatha Van Pelt dan Anthonie Van Pelt. Namun beberapa surat kabar justru menyebutkan nama anak W.D. Van Pelt lebih dari dua termasuk J.Van Pelt yang menjadi Residen Kedu (1929-1933) yang saat kewafatan Van Pelt akan mewakili keluarga untuk mengucapkan terimakasih.


Nama Van Pelt muncul kembali dalam pidato sambutan Bupati Arung Binang VII saat perayaan 25 tahun Regentschapbank Kebumen (Bank Kabupaten Kebumen) di tahun 1930, dimana nama Van Pelt dipuji sebagai seorang yang berhasil merenovasi bangunan bank yang baru (Teguh Hindarto, Regentschapbank Kebumen 1930 - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2022/11/regentschapbank-kebumen-1930.html)

Dalam sebuah artikel berjudul, Ombouw Regentschapsbank Keboemen yang dimuat surat kabar  De Locomotief (22 Juli 1930) beberapa bulan sebelum ulang tahun Bank Kabupaten disebutkan peran Van Pelt sebagai pihak yang diserahi tugas renovasi sbb:

Renovasi bank hampir selesai. Dilihat dari luar, pintu masuk yang luas dan gerbang yang monumental langsung menarik perhatian. Fasadnya juga telah dihias dan kini memberikan kesan yang lebih sederhana. Interior kantor pusat hampir siap, kecuali pengecatan. Perbaikan tata letak di sini sangat besar, semua pujian diberikan kepada panitia pembangunan dan pelaksana, Bpk. W.D. van Pelt, direktur Tichelwerken di Keboemen... Diharapkan semuanya akan selesai pada akhir Agustus.

Selang dua tahun yaitu 1932, beberapa surat kabar berbahasa Belanda memberitakan perihal kewafatan Willem Diederik van Pelt. “Pada pagi hari tanggal 2 November, meninggal pada usia 72 tahun di Zendingsziekenhuis, Mr. W. D. van Pelt, direktur Tichelwerken "Palembang". Seorang pria yang mulia dan dicintai banyak orang telah meninggal dunia, seseorang dengan energi luar biasa, namun selain pekerjaannya yang melelahkan, masih dapat meluangkan waktu untuk orang lain!”, demikian tulis De Locomotief (4 November 1932).

Adapun pemberangkatan jenazah dilaksanakan tanggal 3 November sore. Begitu banyak yang menhadiri pelepasan jenazah Van Pelt di kediamannya, mulai dari para bupati di wilayah Karesidenan Kedu, termasuk pejabat pemerintahan Eropa dan pribumi di Kebumen.

Pada pukul 5 sore tumpukan karangan bunga di bawa ke pemakaman dan sejumlah doa dan sambutan di sampaikan oleh Pdt. Keiling dan Pdt. Bergema, serta kolonel kolonel Boeye. Dari pohak keluarga yaitu putra W.D. Van Pelt yang juga berstatus sebagai Residen Kedu yaitu Residen  J. van Pelt memberikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada para hadirin yang telah memberikan penghormatan terakhir, demikian pungkas surat kabar De Locomotief (5 November 1932).

Residen J. Van Pelt bertugas sebagai Residen Kedu sejak Juli 1929 dan pada Juli 1933 mengajukan cuti tugas serta pada Juli 1934 berhenti dari tugas sebagai Residen dengan meninggalkan catatan yang baik, demikian tulis sebuah berita pendek berjudul Resident van Pelt yang dimuat Haagsche Courant, 9 November 1934.

Demikianlah kisah sejumlah figur yang pernah menghuni Europesche Begraafplaats atau kerkhof di Kebumen. Seandainya kompleks pemakaman ini masih ada sebagaimana keberadaan Europesche Begraafplaats atau kerkhof di Semanding, Gombong (Teguh Hindarto, Nama dan Kisah di Kerkhof Gombong - http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2019/05/nama-dan-kisah-di-kerkof-gombong.html), maka lokasi ini bisa menjadi saah satu tujuan edukasi sejarah melalui kegiatan wisata sejarah lokal maupun kelas sejarah secara outdoor.

Sekalipun saat ini kompleks pemakaman telah beralih fungsi menjadi perkampungan warga, namun kenangan terhadap kompleks pemakaman ini masih menjadi memori kolektif warga – walau tidak sepenuhnya mengingatnya – dengan ditandai penamaan nama sebuah gang yaitu “Gang Krekop” asa kata dari “Kekhof”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar