Sabtu, 01 Juli 2023

JEJAK DAN PENINGGALAN KIAI SADRACH SOEROPRANOTO


Donga Rama Kawula

Sekar Pucung

Dhuh Ramalun, ingkang mungggweng suwargagung, mugi asma Tuwan linuhurna sagung jalmi, kraton Tuwan mugi rawuh mring pra umat.

Ing sakayun Tuwan mugi den pituhu, kadya neng suwarga, inggih mekatena ugi, aneng bumi dhumateng sagung sujalma.

Mugi ulun sadinte dintenipun Tuwan paringana, rejekinya diri mami, sarta Tuwan mugi angaksama.

Dhateng sagung dosengong kang mring pukulun den ulun pan samya ngapunteni dhateng jalmi, ingkang samya kalepatan dateng amba.

Myang Hyang Agung, ywa ngantya nandukken ulun, dhumateng panggodha, nanging ingkang mugi-mugi, kauwalaken saking sagunging piala.

Wit Hyang Agung, ingkang kagungan karatun, tuwin pamisesa, miwah kamulyan sejati, ingkang ngantyo tumekeng neng kalanggengan.

Amin sestu, kabula pandonga ulun, amargi sawabnya, Yesus Kristus Gusti mami, kadya ingkang sampun dados prasetyanya

Doa di atas adalah adaptasi Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus Kristus (Yeshua ha Mashiakh) dan dilantunkan dalam sekar macapat yaitu Pucung oleh seorang tokoh Pekabar Injil Jawa terkemuka bernama Kiai Sadrach Soeropranoto.

Pewarta Injil Tanah Jawa

Sadrach, hidup di era kolonial pasca Perang Jawa. Sejumlah koran dan buku berbahasa Belanda mengulas kontroversi kehadiran dan ajaran Sadrach yang dituding “menyimpang” dari ajaran Kristen Calvinis yang diwakili Gereformeerde Kerken dan beberapa aliran gereja lainnya.

Tidak banyak literatur yang mengkaji kehidupan dan karya Pekabaran Injil Sadrach namun ada dua buku yang cukup representatif dan ditulis dari perspektif orang Eropa dan perspektif Indonesia khususnya Jawa. Buku pertama karya C. Guillot, Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa (Grafiti Pres, 1981) dan buku kedua oleh DR. Sutarman Soediman Partonadi, Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya: Suatu Ekspresi Kekristenan Jawa Pada Abad XIX (BPK Gunung Mulia dan TPK Yogyakarta, 2001). Kedua buku ini dapat menjadi bacaan yang saling melengkapi sehingga mendapat gambaran komprehensif mengenai kehidupan, karya pelayanan, ajaran serta pergulatan Sadrach dan jemaatnya menghadapi reaksi dari Kekristenan Belanda.

Dalam sebuah artikel pendek berjudul Sadrach Gestorven (Kewafatan Sadrach) yang dimuat Koran Algemeen Handelsblad  bertanggal 25 Februari 1925 ada ulasan yang cukup menarik dan berimbang sekalipun dituliskan secara singkat perihal riwayat hidup dan karya pekabaran Injil yang dilakukannya.

Koran tersebut membuka kalimatnya dengan, “Den 15 een November 1924 is de bekende Javaan Sadrach gestorven... Maar Sadrach is: oud geworden, heel oud, ik meen over de 90 jaar...” (Tanggal 15 November 1924, orang Jawa yang terkenal yaitu Sadrach meninggal dunia. Tetapi Sadrach telah menjadi tua, sangat tua, saya pikir dalam usia 90 tahun...). Jika tahun 1924 usia Sadrach 90 tahun maka usia kelahirannya adalah 1834. Empat tahun setelah Perang Jawa berakhir.

Kepribadian Sadrach digambarkan sbb, “Sadrach is een der merkwaardigste figuren onder het Javaansche volk van de tweede helft der vorige eeuw, een man van wien groote invloed in breeden kring is uitgegaan” (Sadrach adalah salah satu tokoh paling luar biasa yang muncul di antara orang Jawa pada paruh Abad ke-20, seorang pria yang pengaruhnya besar di komunitas yang lebih luas). Selebihnya dijelaskan perihal pertemuan awalnya dengan para pekabar Injil di Jawa Timur baik yang berlatar belakang Jawa (Tunggul Wulung) maupun Belanda (Coolen) namun yang tetap melestarikan adat istiadat Jawa sekalipun telah menganut agama Kristen.

Saat di Purworejo berjumpa dengan Nyonya Philips dan membantu penyebarluasan Injil dengan corak yang khas dan banyak menarik pengikut baru. Sadrach adalah seorang kiai dan berlatar belakang pesantren dan guru ngelmu. Melalui metode diskusi dan perdebatan di antara para guru, Sadrach memperoleh banyak pengikut. Belum lagi berbagai peristiwa yang menghadapkan kuasa Kristus dengan kuasa kegelapan yang dipraktikkan Sadrach semakin meningkatkan jumlah pengikut dan murid.

Sadrach mengajarkan kekristenan sebagai ngelmu sejati dan Yesus Kristus yang bangkit dari kematian diberitakan dalam bingkai pemahaman Jawa sebagai Ratu Adil dan Juruslamat sebagaimana dikatakan, “De Ratoe Adil, de rechtvaardige heerscher, is verschenen in Jesus Christus” (Ratoe Adil, penguasa yang saleh, muncul di dalam Yesus Kristus). Hal mana pemberitaan Sadrach menuai reaksi keras dari seorang misionaris Belanda bernama Lion Chachet. Bahkan sempat ada tudingan Sadrach yang mengklaim dirinya sebagai Ratu Adil.

Pendekatan Sadrach dalam pewartaan Injil dengan menggunakan bingkai kebudayaan Jawa, mengingatkan penulis pada salah satu tokoh Wali Songo bernama Sunan Kali Jaga yang begitu adaptif membingkai ajaran agama dan budaya. Itulah penulis tidak sepakat ketika karakteristik pewartaan Sadrach disebut sebagai model “abangan” (Teguh Hindarto, Apakah Kiai Sadrach Seorang Pemimpin Kristen Abangan?http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2015/12/apakah-kiai-sadrach-seorang-pemimpin.html).

C.Guillot menjelaskan soal kesalahpahaman ini dengan menuliskan, “Akhirnya, Sadrach menerima ide Collen, Wilhelm dan Janz untuk mengumumkan bahwa Yesus adalah Ratu Adil. Namun, muridnya yang mengatakan bahwa Sadrach adalah Ratu Adil, dipanggil ke Karangjoso untuk ditatar kembali” (1981:193)

Ribuan jemaat Sadrach yang tersebar dari khususnya di tiga karesidenan yaitu Karesidenan Pekalongan, Karesidenan Banyumas serta Karesidenan Bagelen saat ini sudah tidak utuh lagi dan banyak yang bergabung ke Gereja Kristen Jawa dan Gereja Kerasulan. Namun rumah dan gedung gereja yang didirikan Sadrach di Desa Karangyoso, Kutoarjo masih berdiri gagah di tengah owah-owahaning zaman (perubahan zaman).

Mesjid Agung Gumantung Tanpa Canthelan

Ada yang unik dengan gereja yang didirikan Kiai Sadrach yang dahulu menamakan dirinya Golongane Wong Kristen Kang  Mardika (sekarang menjadi Gereja Kristen Jawa “Karangyoso”, Kutoarjo). Berdiri di samping rumah dan pendopo, bangunan ini tidak terlihat seperti sebuah gedung gereja Kristen pada umumnya.

Orang akan mengasosiasikan dengan bangunan masjid tinimbang gereja. DR. Soetarman Soedirman Partonadi mendeskripsikan kondisi “mesjid” Kristen ini sbb, “Gereja ini dibangun pada tahun 1870 dengan gaya mesjid desa kuno...Sebuah renovasi besar dilakukan pada tanggal 12 Juni 1886...Gereja tersebut mempunyai tiga tingkat dan sebuah senjata cakra (bentuk cakram bulat dengan beberapa anak panah yang menjulur) di atas atap sebagai pengganti salib” (2001:153).

Menurut Bapak Purwanto Nugroho (salah seorang ahli waris dan kerabat Kiai Sadrach) bangunan tersebut memiliki filosofi sbb: “Bangunan joglo Jawa dengan atap susun tiga yang melambangkan Sang Bapa, Sang Putra, Sang Roh Kudus sebagai Tritunggal Yang Esa. Bangunan berbentuk bujur sangkar seperti bangunan mesjid dengan ukuran lebar 12 m,  panjang 12 m. melambangkan jumlah murid Yesus Kristus sebanyak 12 orang. Di pucuk atap ada dua senjata yang dipadukan menjadi berbentuk Salib yg punya filosofi sumber cinta kasih adalah Yesus yg merupakan cinta kasih yang harus di sebarkan kesegala penjuru. Salib itu berupa perpaduan antara senjata dewa yaitu panah Pasopati dan senjata Cakra. Salib Kristus melebur dosa seperti dua pusaka bersatu” (wawancara, 26 Juli 2019).

Masih menurut penjelasan Bapak Purwanto Nugroho. Gereja ini didirikan pada lahan yang dulunya sawah yg kedung nya dalam dan ditempat itu menurut cerita daerah yang wingit (angker).  Sehingga orang bila mengerjakan sawah dekat daerah itu banyak yang sakit atau meninggal. Sehingga banyak janda karena ditinggal mati. Maka daerah itu disebut sawah perandan (sawah janda).

Pada awal sebelum Kyai Sadrach Soeropranoto membangun mesjid ini, ada yg meramalkan bahwa pada suatu saat akan ada mesjid agung yg tergantung tanpa kaitan. Ramalan tersebut didengar oleh rara Tampa yag kelak akan menjadi istrinya. Dalam “Sejarah Adeging Gerejo Pasamuan ing Karangjoso” ada sebuah petikkan kalimat, ...”besuk bakal ana masjid agung gumantung tanpa canthel; iku yen wis kalakon, pratondho wis jaman akhir” (...nanti akan ada masjid yang berdiri tanpa kaitan. Kalau itu sudah terwujud, berarti akhir zaman telah tiba). Sejak Kiai Sadrach mendirikannya pada tahun 1870, namanya tetap disebut masjid. Istilah “masjid tanpa cantelan” artinya tidak bergantung dari organisasi manapun dalam pembiayaannya, khususnya Belanda.

Jika kita memasuki ruangan dalam gereja (dahulunya disebut masjid Kristen), nampaklah pilar-pilar kayu yang menopangnya sejak tahun 1870. Ada kisah menarik mengenai salah satu pilar kayu gereja ini. Kayu ini didatangkan dari Desa Duren Sari (Purworejo) dan didirikan sebagai sokoguru sebanyak empat buah. Saat salah satu dari kayu tersebut hendak diangkat dan dipindahkan ke gerobak untuk diangkut, terjadi keanehan dimana kayu tersebut tidak dapat diangkat dan diangkut. Oleh Kiai Sadrach, kayu yang tidak bisa diangkat supaya dibungkus dengan kain kafan (mori), kemudian dinaiki penari ledek.  Setelah itu dilaksanakan, maka kayu besar itu bisa diangkat dan terpasang sampai sekarang.

Koran Algemeen Handelsblad mengakhiri kisah Sadrach dengan menuliskan, "Akan seperti apa kondisinya setelah Sadrach pergi? .... Jika kepribadian yang berpengaruh ini tidak lagi membentuk ikatan yang disatukan oleh para pendukungnya, tidakkah mereka akan melanjutkan ke misi yang baru terbentuk? Atau apakah jemaat-jemaat ini lebih atau kurangnya bakal jatuh ke dalam keadaan memfosil, sehingga mereka kemudian lenyap sebagai akibat kepunahan anggota mereka?.."

Pertanyaan ini telah tergenapi sejak kepergian Sadrach hingga kini. Yang tersisa saat ini hanyalah jejak pemikiran dan karya pelayanan yang terserak di antara banyak orang Kristen yang kemudian berpindah ke beberapa organisasi gereja (atau mungkin berpindah agama). Namun yang tidak berubah adalah bangunan gereja sebagai warisan iman yang sampai hari ini ada dan dihidupi oleh orang-orang yang beribadah di dalamnya, sekalipun telah berganti organisasi gereja dan segala peraturannya.


Artikel ini pernah dimuat di Qureta.com (2019)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar