Sabtu, 29 Juli 2023

KEBUMEN DALAM PERISTIWA BANJIR BESAR DI JAWA 21-23 FEBRUARI 1861

Sumber gambar: Wikipedia.com

Sebuah peristiwa mengerikan terjadi pada tanggal 21-23 Februari 1861 di Jawa – 161 tahun silam – ketika masih di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Peristiwa mengerikan itu adalah banjir besar yang melanda sebagian besar wilayah Jawa khususnya Jawa Tengah. Tidak terkecuali Kabupaten Kebumen yang ketika peristiwa itu terjadi masih berada di bawah Karesidenan Bagelen.

Anehnya, peristiwa banjir besar ini tidak terekam dalam memori kolektif masyarakat, baik berupa monumen, plakat, tulisan babad atau tradisi lisan setempat. Berbeda dengan di kabupaten Banyumas yang mengenang masa menakutkan itu dengan sebutan Blabur Banyumas dan sejumlah prasasti.

Berdasarkan ketiadaan memori kolektif masyarakat ataupun penanda peringatan berupa monumen dsj, maka penulis akan melakukan pelacakan dokumen-dokumen era kolonial khususnya berita-berita di surat kabar untuk mendapatkan gambaran yang cukup mewakili dan merepresentasikan mengenai besaran dan dampak kerusakan mengerikan yang ditimbulkan dari peristiwa banjir besar tahun 1861 tersebut.

Sebuah berita berjudul, Watersnod op Java dua bulan pasca banjir yang diterbitkan oleh surat kabar De ‘s Gravenhaagsche Nieuwsbode (17 April 1861) memberikan deskripsi sbb:

Sebuah bencana besar (Een groote ramp) telah melanda sebagian besar pulau Jawa yang indah, milik utama kita di Hindia Belanda...

Hujan tiba-tiba (Plotselinge regens) di belahan bumi utara sangat deras, yang dalam beberapa jam mengangkat sungai dan mengalir deras setinggi sepuluh kaki, tetapi kemudian dengan kekerasan yang tak tertahankan menyapu dan menghancurkan segalanya, baru-baru ini telah merusak beberapa provinsi di pulau Jawa sedemikian rupa...

Puluhan ribu penduduk pribumi telah kehilangan harta benda....sementara kerugian besar nyawa manusia, menurut kabar terakhir, bahkan belum dapat dipastikan

Dari laporan tersebut hujan yang sangat deras menjadi penyebab banjir yang meluluh lantakkan  sebagian besar wilayah di Jawa. Wilayah Jawa manakah yang dimaksudkan dalam berita tersebut?

Jika membaca artikel berjudul Overstrooming op Java yang ditulis surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant (28 April 1861) disebutkan wilayah terdampak banjir di Jawa Tengah adalah Karesidenan Bagelen meliputi kabupaten Ledok/Wonosobo, Purworejo, Kutoarjo, Ambal, Kebumen, Karanganyar. Karesidenan Kedu yang meliputi Temanggung dan Magelang di kawasan yang tinggi terdampak pula. Bahkan di Karesidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga.

Selain itu wilayah kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta turut terdampak hebat. Beberapa wilayah Jawa Timur seperti Surabaya dan Pacitan dilaporkan terkena banjir hebat. Demikian pula di Jawa Barat yaitu Krawang.

Dalam laporan surat kabar di atas ternyata beberapa wilayah di luar Jawa seperti Sumatra, Bengkulu, Riau, Nias mengalami peristiwa mengerikan pada tanggal 16-17 Februari 1861 yaitu berupa gempa bumi yang merusak bangunan dan sejumlah infrastruktur lainnya.

Deskripsi Banjir Besar di Karesidenan Bagelen 1861

Pasca Perang Jawa berakhir (1830) wilayah Mancanegara Kilen Kasunanan dan Kasultanan jatuh ke tangan pemerintah Hindia Belanda sebagai ganti pembiayaan memadamkan Perang Jawa dan dijadikan wilayah karesidenan. Untuk wilayah Bagelen dan Kedu dijadikan Karesidenan Bagelen dan Karesidenan Kedu.

Sejauh mana banjir besar telah menghancurkan wilayah Karesidenan Bagelen dan Kedu? Kita akan melihat deskripsi dan kronologi peristiwa mengerikan ini dengan merujuk laporan dari surat kabar Java Bode (6 April 1861) mengenai banjir di wilayah Bagelen.

Dilaporkan bahwa sejak tanggal 25 Desember 1861 yang biasanya cuaca berhujan justru dilaporkan situasinya mengalami kekeringan hebat dan panas yang luar biasa (jaargetijde buitengewone droogte en hitte). Situasi ini menimbulkan rekahan-rekahan tanah menganga di sejumlah tempat termasuk di perbukitan yang sangat berbahaya jika hujan deras turun secara tiba-tiba.

Kekeringan ini berlangsung hingga akhir Januari dan pada tanggal 19 Februari dilaporkan angin kencang mulai bertiup dari arah Barat Daya. Pada sore hari tanggal 20 Februari, hembusan angin yang awalnya terputus-putus berubah menjadi badai yang ganas, disertai dengan hujan lebat yang semakin meningkat intensitasnya selama 24 jam, membentuk lingkaran besar, yang titik pusatnya terbentuk kira-kira di Kabupaten Kutoarjo.

Dijelaskan dalam surat kabar tersebut bahwa di Kabupaten Ambal, Kebumen, Ledok/Wonosobo, dan Purworejo pohon beringin, kanari, asam, dan jati terbesar ratusan tumbang dan tumbang oleh kekuatan badai, bahkan ranting tipis semak bambu pun tidak mampu berdiri akibat menahan hembusan angin yang kencang.

Puncaknya pada tanggal 21-22 Februari 1861, hujan deras terus menerus turun tanpa henti. Pada malam tanggal 22 hingga 23 Februari semua sungai, terutama yang berhulu di dataran tinggi Ledok, mulai meluap. Peluapan itu begitu tiba-tiba sehingga dalam waktu kurang dari satu jam ratusan dessa dan ribuan hektar tanah terendam banjir, dan banyak keluarga yang sedang tidur nyenyak meninggal dalam gelombang.

Di Kabupaten Purworejo air sungai Bogowonto meluap dan dan luapaan airnya yang menyebabkan kerusakan terbesar di sana. Air sungai yang disebut sebelumnya di atas, naik ke ketinggian yang belum pernah terjadi dan membanjiri serangkaian desa makmur, yang membentang sepanjang dua puluh paal di kedua tepiannya hingga bermuara ke laut.

Pada malam tanggal 22 Februari, ketinggiannya mencapai 25 kaki di atas ketinggian air (1 kaki=0,3048 x 25=7,62 m). Arus yang mengamuk menyapu ke mana-mana di mana sebuah tikungan memotong jalannya, menyapu seluruh negeri, menyeret orang, ternak, rumah, dan pohon, bahkan pohon kelapa di jalurnya.

Jembatan Bogowonto akhirnya runtuh dan ayu-kayunya hanyut serta ditambah dengan ribuan batang pohon yang tumbang oleh aliran sungai atau terbawa oleh tanah, dilemparkan dengan kekuatan penghancur melintasi desa.

Sungai Jali dan Tepus di Kutoarjo meluap. Balok kayu banyak yang terbawa sampai ke jalan termasuk ke depan rumah kontrolir di jalan Kenari. Mayat seorang pribumi berjubah imam ditemukan di dalam sumur di pekarangan rumah sang kontrolir, yang kemudian dikenali sebagai haji, 8 paal dari desa Loning.

Deskripsi Banjir Besar di Karesidenan Banyumas 1861

Sebagaimana Bagelen dan Kedu yang dijadikan karesidenan pasca Perang Jawa berakhir (1831) demikian pula  Banyumas. Karesidenan Banyumas meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga.

Menurut laporan Javaasche Courant 2 sampai 6 Maret yang diringkaskan oleh Nieuwe Rotterdamsche Courant (28 April 1861) disebutkan pada malam 22-23 Februari, sungai Serayu sangat meluap sehingga air berada dalam jarak tiga puluh kaki dari jalan utama.

Air pasang datang begitu tiba-tiba sehingga penduduk harus mengungsi di atap dan di pepohonan. Beberapa penduduk Eropa telah menghabiskan 36 jam di atap. Mereka bahkan tidak bisa menyelamatkan pakaian mereka. Pada tanggal 25 Februari air sudah surut jauh. Rute besar ke pusat kota telah dibersihkan dari air. Hanya lapisan lumpur yang tersisa.

Memori Kolektif Masyarakat Banyumas Terhadap Banjir Besar 1861

Menariknya, di wilayah kabupaten Banyumas hingga kini peristiwa banjir besar 1861 masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. Memori kolektif tersebut tersimpan dalam sejumlah plakat penanda di sebuah bangunan, babad, legenda, buku harian, buku reportase.

Terdapat sebuah plakat  yang ditempelkan di komplek Pondok Pesantren GUPPI Banyumas (eks kompleks gedung karesidenan Banyumas) pada tembok bagian selatan gedung, persis di pintu masuk komplek dengan menggunakan bahasa Belanda yang berbunyi, Overstrooming te Banjoemas den 21 tot 23 Februari 1861.

Sejumlah naskah Babad Banyumas menyinggung perihal Blabur Banyumas yang merujuk peristiwa banjir bandang yang meluluhlantakkan Banyumas. Sebuah sasmita yang pernah diucapkan orang-orang tua sebelum peristiwa banjir bandang adalah ungkapan, Besuk bakal ana betik mangan manggar (besok akan ada ikan rawa memakan bunga pohon kelapa).Bagaimana mungkin ikan makan manggar di ketinggian? Itu bisa terjadi karena air bah mencapai pohon kelapa (Ratmini Soedjatmoko Gandasubrata, Sebuah Pendopo di Lembah Serayu: Kisah Keluarga Bupati Banyumas Jaka Kahiman Hingga Gandasubrata, 2009:43)

Kekeramatan pendopo Si Panji dihubungkan dengan sebuah legenda perihal keajaiban yang terjadi saat peristiwa banjir besar 1861 di Banyumas. Bupati Banyumas era kolonial R.A.A. Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata menuliskan dalam memoirnya yang berjudul, Kenangan-Kenangan 1933-1950 Bagian I.

Katanja pada waktu air bah membubung tinggi pendopo Si Pandji terlepas dari pondamenja sehingga orang-orang jang berada di atasnja seakan-akan terapung-apung di atas air. Kemudian sa’at air bah mulai surut, pendopo itu kembali ke tempat asalnja. Karena kegaiban ini maka selandjutnya pendopo Si Pandji dipandang sakti oleh rakjat Banjumas (1952:27)

William Barrington d' Almeida dalam bukunya, Life in Java: With Sketches of The Javanese Vol II menuliskan perjalanannya ke Banyumas dan berjumpa dengan Bupati Banyumas Tjakranegara (jika Barrington berkunjung ke Banyumas tahun 1861 berarti Bupati Banyumas yang memerintah tahun 1832-1864 adalah Raden Adipati Tjakranegara 1).

Dalam bukunya Barrington menuliskan sbb:

Kami diberitahu olehnya bahwa Banjoemas baru-baru ini menjadi tempat genangan yang menakutkan, karena sungai Serayu meluap, meskipun tingginya empat puluh kaki. Penduduk cukup terkejut, air naik begitu cepat di banyak tempat sehingga mereka harus berenang ke atap rumah, pohon, dll dan di sana menunggu untuk dijemput oleh tetangga yang lebih beruntung yang berhasil mendapatkan perahu.

Tiga ratus nyawa hilang, selain sedikit ternak dan barang dari berbagai macam. Beberapa orang Eropa, di antaranya adalah residendan istrinya, terpaksa mencari tempat persembunyian yang aman di lantai atas rumah mereka, di mana selama beberapa hari mereka hidup dari sedikit makanan yang mereka sita dalam pengungsian tergesa mereka ke atap (1864:236-237)

Wilayah Kebumen Yang Terdampak Banjir Besar 1861

Kabupaten Kebumen yang berada di wilayah Karesidenan Bagelen mengalami sejumlah dampak banjir yang mematikan. Beberapa wilayah yang tercatat dalam surat kabar Java Bode (6 April 1861)  adalah di Jlegi, bendung Bedegolan, Kutowinangun, Ambal.

Seluruh wilayah Prembun, sebagian besar Kedungtawon (Kutowinangun) dalam beberapa saat terendam banjir. Seperti halnya Bogowonto, arus deras yang memotong lekukan di sepanjang tepian sungai, mengalir deras melalui desa dan ladang 148 dessa menunjukkan pemandangan kehancuran yang mengerikan setelah air surut.

Di mana arus deras tidak membawa rumah-rumah, maka sejumlah  rumah tergeletak runtuh dan berserakan di tanah. Di dessa Kedoeg-soemoer, Ketjeme, Babat dan Tersobo, bahkan pohon kelapa pun tak luput. Di Djlegi, dari 151 jiwa, hanya 44 yang masih hidup. Semua yang lain binasa dalam gelombang.

Di Kabupaten Ambal, kerusakan di desa relatif kecil. Namun rawa-rawa besar di sana, meluap jauh melampaui tepiannya, sehingga airnya menembus ke jalur desa Urut  Sewu dan penduduk harus mengungsi ke tempat bukit pasir yang lebih tinggi.

Jika dalam laporan surat kabar Java Bode (6 April 1861) disebutkan di Ambal tidak ada korban barangkali karena belum teridentifikasi dengan baik. Sementara dalam surat kabar Javaasche Courant 2 dan 6 Maret 1861 yang dikutip Nieuwe Rotterdamsche Courant (28 April 1861) disebutkan bahwa orang-orang Ambal telah melarikan diri ke bukit-bukit pasir.

Lebih dari 700 orang telah tewas. Sejak 26 Februari, situasinya membaik. Kabel telegraf telah digali hingga ke perbatasan Kedu. Sungai-sungai mulai surut pada tanggal itu.

Sementara debit air di Bendung Bedegolan mencapai ketinggian lebih dari 40 kaki (12,92 m) dan meluap mencapai desa Jlegi dan menghancurkan areal pesawahan dan rumah warga desa (Band. Teguh Hindarto, Bendung Bedegolan: Saksi Bisu Penataan Irigasi Era Kolonial - http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2022/01/bendung-bedegolan-saksi-bisu-penataan.html)

Apa yang dituliskan ini sebatas apa yang dilaporkan oleh media surat kabar pada tahun tersebut dan tahun-tahun selanjutnya. Bisa jadi kerusakan parah terjadi di sejumlah tempat lain di Kebumen yang tidak dituliskan atau belum ditemukan datanya dalam penulisan artikel ini.

Surat kabar Java Bode (6 April 1861) sampai mengulangi dua kali pernyataan bahwa banjir besar ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dituliskan: Belum pernah bencana seperti ini menimpa karesidenan (Nimmer had eene ramp als deze de residentie getroffen)...Namun, banjir, seperti itu pada malam tanggal 22 dan hari-hari berikutnya, adalah peristiwa yang tidak dikenal dalam sejarah.

Peristiwa Banjir Kebumen Pasca 1861

Pasca banjir besar di tahun 1861, Kebumen mengalami sejumlah banjir yang terdokumentasi dalam surat kabar era kolonial. Meskipun kedahsyatannya tidak seperti tahun 1861 namun tetap memakan sejumlah korban yang tidak sedikit dan kerusakan yang cukup parah.

Sebuah penggalan berita dengan judul, Ban'djirs en Aardschuivingen in Kedoe (Banjir dan Tanah Longsor di Kedu) yang dimuat koran Soerabaiasch Handelsblaad (2 Desember 1904) melaporkan demikian:

“Setelah mengalami banjir di afdeeling Keboemen, Residen Kedoe menginformasikan tentang kerusakan yang disebabkan oleh bandjir dan endapan lumpur dan jalan serta jembatan, berikut ini:

Di distrik Alian dengan total 4 desa, hamparan seluas 5065 persegi R. R sawah ditimbun oleh longsoran tanah, sementara jalan umum Sadang - Alian rusak parah di berbagai tempat, terutama di antara pos 13 dan 16.

Beberapa tahun kemudian yaitu tahun 1928 dilaporkan peristiwa banjir parah di Kebumen oleh harian De Indsiche Courant (14 Desember 1928) sbb:

“A.I.D melaporkan dari Keboemen bahwa hujan lebat yang terus-menerus menyebabkan (sungai) Loekolo meluap dan membanjiri bagian barat kota hingga ketinggian 2 meter. Banyak rumah yang runtuh dan terseret, termasuk sejumlah perabotan. Banyak ternak kecil hilang dan 2000 balok pasar desa terhanyut.

Kerusakan juga terjadi di Kotawinangoen dan Premboen. Sejumlah jalan desa telah terendam. Ratusan areal persawahan telah tergenang air Jembatan, pipa, dan pekerjaan desa lainnya mengalami kehancuran

Dilaporkan pula dari Alian bahwa sebanyak 6 orang terkejut dan diseret saat sedang tidur pulas. 3 dari mereka sudah ditemukan. Mayat mereka ditemukan di perbatasan antara Alian dan Keboemen. Adapun Kehilangan ternak sangat besar”

Satu tahun berikutnya yaitu 1929 sebuah berita pendek berjudul, Overstroomingen (banjir) yang dimuat De Locomotief (3 Januari 1929) melaporkan sejumlah kerusakan akibat banjir di Kebumen yaitu:

Di Kabupaten Kebumen, 697 bahu pekarangan, 60 bahu tegalan, dan 2.117 bahu sawah terendam banjir. Di kawedanan Alian: 354 bahu pekarangan, 46 bahu tegalan dan 864 bahu sawah; di Kutowinangun 322 bahu pekarangan, 333 gedung tegalan, 1.223 bahu sawah. Di kawedanan Prembun, 331 bahu pekarangan, 400 bahu sawah. Dari jumlah tersebut, sejumlah tanaman mengalami kehancuran.

Sejumlah kehilangan harta benda al., di Kebumen berupa 8 kambing, 130 ayam; di Alian 56 kambing dan 492 ayam; di Kutowinangun 3 kambing, 149 ayam dan 4737 ikan gurami; di Prembun hanya 101 ayam. Sejumlah rumah roboh di Kebumen 20, di Alian 46, di Prembun 27 di Kutowinangun 19.

Kerugian ditaksir untuk Kebumen sebesar f 5135.20, Alian f 10.997.42. Prembun f 4807, dan Kutowinangun f 8547.50

Dan akhirnya pada tahun 1937 sebuah berita berjudul, Bandjir Eischt Drie Menschenlevens (Banjir Memakan Korban Tiga Orang) yang dilaporkan oleh harian Het Nieuws Van Den Daag Voor NederlandscH Indie (1 Desember 1937) melaporkan sbb:

Pada Kamis malam, badai ganas terjadi di atas Keboemen dan daerah sekitarnya, disertai dengan hembusan angin dan hujan yang kuat. Api menyambar dari langit (kilat) selama satu jam, dan petir membuat rumah berdebam. Beberapa rumah roboh dalam kegelapan.

Di kecamatan Alian (Krakal), 15 km dari Keboemen, kali Wonokromo dan kali Kedongbener mengalami banjir disebabkan  curah hujan yang sangat tinggi. Banjir membawa sejumlah material sehingga menyebabkan kerusakan serta membunuh seorang pria dan dua anak.

Sepuluh rumah di pedalaman diseret dengan perabotan serta isinya, demikian pula dengan lumbung yang diisi padi dari lurah Wonokromo. Rumah bagian belakang lurah juga mengalami rusak parah, sementara itu dek jembatan desa sepanjang 30 m dekat Wonokroma lenyap ke dalam genangan air. Sekitar 20 areal perkebunan jagung dan tembakau rusak parah serta  dianggap hilang. Kerusakan material diperkirakan mencapai 1.200 florin

Dari lintasan peristiwa banjir besar 1861 yang pernah terjadi di karesidenan Bagelen dan Banyumas terkhusus kabupaten Kebumen serta peristiwa banjir di tahun – tahun berikutnya di era kolonial bukan untuk membuat menyerah dan pasrah serta menganggap sebagai takdir yang tidak bisa dihindari.

Sebaliknya, catatan historis perihal sejumlah peristiwa banjir membuat kita berwaspada jangan sampai betik mangan manggar (ikan rawa makan bunga pohon kelapa) akibat banjir besar terjadi kembali dengan melakukan sejumlah antisipasi dan peningkatan teknologi dan sistem drainase untuk mengatasi kepungan banjir.

 

Artikel ini pernah dimuat di Qureta.com (2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar