Sabtu, 29 Juli 2023

RADEN SAID PRAWIROSASTRO: DARI SENJAKALA HINDIA BELANDA DAN JEPANG HINGGA FAJAR INDONESIA RAYA

Raden Said mungkin samar terdengar dan hanya diketahui beberapa generasi lanjut usia di Kebumen serta lingkaran keluarga tertentu. Namun figur satu ini menjadi salah satu dari sekian banyak saksi bagaimana pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang berakhir dan pemerintahan baru lahir yaitu Republik Indonesia.

Dari Bupati Zaman Hindia Belanda Menjadi Bupati Zaman Indonesia

Selain menjadi saksi perpindahan zaman, Raden Said juga menjadi bagian dari struktur pemerintahan yang baru terbentuk di daerah yaitu Kabupaten Kebumen. Beliau tercatat sebagai Bupati Kebumen pertama di era pasca kemerdekaan 1945.

Dalam buku Gelegar di Bagelen: Perjuangan Resimen XX Kedu Selatan 1945-1949 Dan Pengabdian Lanjutannya, kita melihat sebuah fragmen peran Raden Said dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia di Kabupaten Kebumen sbb:

“Bupati Kebumen Said Prawirosastro, yang juga berasal dari Kebumen sungguh-sungguh memperhatiakan terbentuk BKR di Kebumen. Eks Shodancho Chanafie yang ditunjuk menjabat sebagai Perwira Logistik BKR Kebumen, menjelaskan bahwa Bupati Kebumen menyerahkan uang Jepang yang waktu itu masih berlaku sebanyak satu koper (tidak disebutkan jumlahnya) untuk membiayai BKR di Kebumen” (2003:32). Uang satu koper tentu bukan jumlah yang kecil dan uang tersebut dipergunakan untuk pembiayaan operasional terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kelak akan menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Tentu tidak mudah mengambil bagian dari sebuah struktur pemerintahan baru sementara dirinya telah bertahun-tahun menjadi bagian dari struktur pemerintahan kolonial. Posisi Raden Said mengingatkan saya pada posisi Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir sebelum digantikan oleh imperium Jepang yaitu Tjarda Starkenborgh Stachouwer.

Di era kepemimpinannya, Tjarda seolah menjadi sebuah medan “badai konflik internasional” di mana seluruh kekuatan berkontestasi mulai dari kalangan konservatif, etis, liberal, fasis (Christopher Reinhart, Mempertahankan Imperium: Gubernur Tjarda Starkenborgh Stachouwer dan Akhir Hindia Belanda, 2021:107).

Sekalipun tidak mengambil posisi yang sama persis dengan Tjarda namun Raden Said tentu mengalami situasi yang hampir sama dengan Tjarda sebagai bagian dari birokrasi kolonial di mana beliau melihat senjakala pemerintahan lama berakhir dan sebuah pemerintahan baru lahir. Bedanya, Tjarda tidak mengambil bagian dari struktur pemerintahan baru sementara Raden Said mengambil bagian dari pemerintahan baru pasca kolonial.

Kisah dan Kiprah Serta Pandangan Hidup Raden Said Dalam Pemerintahan

Jika pada awal tulisan ini dikatakan bahwa Raden Said sebelum menjadi bagian dari struktur pemerintahan republik Indonesia di daerah adalah bagian dari struktur birokrasi pemerintahan kolonial, jabatan apakah yang beliau emban selama bertahun-tahun karirnya? Jika kita meneliti sejumlah laporan berita surat kabar berbahasa Belanda dan berbagai dokumen almanak pemerintahan Hindia Belanda, kita akan menemukan sejumlah informasi berharga yang memperlihatkan kisah dan kiprah Raden Said sebagai seorang pejabat pemerintah daerah.

Jabatan terakhir beliau di era pemerintahan Hindia Belanda adalah Bupati Magelang (1939-1942). Beliau adalah bupati Magelang keenam saat ditetapkan pada tanggal 6 November 1939. Bupati Magelang sebelumnya adalah Raden Tumenggung Danuningrat I, Raden Tumenggung Danuningrat II, Raden Tumenggung Danuningrat III, Raden Ario Danoekoesoemo, Raden Adipati Ario Danoesoegondo.

 

Dalam sebuah berita saat pelantikan beliau sebagai bupati Magelang yang dimuat surat kabar De Indische Courant (9 November 1939) diperoleh keterangan sbb: Raden Said dilahirkan di Kebumen dan putra seorang asisten wedana. Setelah menyelesaikan Europeesche Lagere School (sekolah dasar Eropa) Said melanjutkan studi di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren - Sekolah Pendidikan Pribumi untuk Pegawai Negeri Sipil) sampai tahun 1914. Surat kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië (8 November 1939) menambahkan keterangan bahwa ayahanda raden Said adalah asisten wedono Magelang.

Namun jika merujuk pada daftar silsilah keluarga yang disusun oleh Raden Said bertanggal 3 Februari 1937, saat masih menjabat sebagai Patih di Tuban, ayahanda Raden Said yang bernama Raden Prawirosastro adalah Asisten Wedono dari Kretek, Kawedanan Rowokele, Kabupaten Karanganyar (saat itu Karanganyar masih berstatus kabupaten dan belum digabungkan dengan Kebumen). Dan jika ditarik terus ke atas, Raden Said masih keturunan Demang Setjogati, yaitu Demang Sewu di Kartosura yang ditempatkan di Tanjung, Kebumen. Naskah silsilah ini saya dapatkan dari Bapak Hartono, eks anggota DPRD Kebumen dari Partai PAN dan masih berkerabat dengan Raden Said.

Setelah melalui jenjang yang berbeda, pertama di Jawa Tengah dan kemudian di Jawa Timur, ia masuk Bestuursschool (Sekolah Administrasi) di Batavia pada tahun 1929, di mana ia menyelesaikan studinya pada tahun 1931. Karir pekerjaannya dimulai sebagai wedono di Jawa Timur, di Sidoardjo dan Pare, setelah itu diangkat menjadi patih di Tuban, kemudian dipindahkan ke Magetan. Sebagai patih di Magetan, beliau juga menjadi pejabat bupati di sana selama satu tahun, hingga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Belanda.

Surat kabar ini memberikan keterangan pendek diakhir berita sbb: “Selama seluruh masa jabatannya. R. Said Prawirosastro membuat dirinya dikenal sebagai pegawai negeri yang cakap dan rajin, dan tentu saja jasa-jasa besar inilah yang akhirnya membawa pada keputusan Pemerintah untuk mempercayakannya pada jabatan tinggi Bupati Magelang”.

Dalam sebuah laporan berita yang cukup panjang dengan judul, Magelangs Nieuwe Regent: Heden Door Gouverneur Bertsch Geinstalleerd (Bupati Magelang Baru: Dilantik Hari Ini Oleh Gubernur Bertsch) yang dimuat De Locomotief (9 September 1939) kita mendapatkan sejumlah informasi cukup menarik yang menggambarkan kemampuan birokrasi dan pola kepemimpinan Raden Said.

Isi berita ini bukan hanya melaporkan suasana pelantikan Raden Said yang meriah di pendopo kabupaten Magelang dimana terjadi pertemuan kebudayaan yang disatukan dalam musik tradisional berupa gamelan Jawa dengan irama monggang dan lagu kebangsaan Belanda yaitu Wilhelmus. Di dalamnya kita bisa membaca isi pidato Gubernur Jawa Tengah, Residen Kedu, Asisten Residen Kedu serta pidato Raden Said menjawab sambutan-sambutan sebelumnya.

Diantara sambutan dan tanggapan Bupati Magelang, Raden Said yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Tengah dan Residen setelah dilantik, ada beberapa pernyataan yang dapat menggambarkan prinsip kepemimpinan dan manajemen pengelolaan wilayah yang dipercayakan kepadanya. Pernyataan ini disampaikan sebagai sebuah janji (beloofte) semasa menjabat. Berikut kutipan pernyataannya:

Saya akan memastikan bahwa pejabat bawahan saya mengambil posisi yang tepat dan bahwa mereka juga berusaha untuk kerjasama yang bermanfaat dengan penghapusan kecemburuan kekanak-kanakan. Tugas rangkap ketua Regentschapraad dan Dewan Komisaris juga akan saya laksanakan dengan sepengetahuan dan kekuatan saya.

Tidak diragukan lagi, Tuan Gubernur, bahwa banyak, mungkin sangat banyak kesulitan yang menunggu saya, tetapi kesulitan ada untuk diatasi, bukan untuk dihindari (maar de moeilijkheden zijn er om overwonnen te worden, niet om ze uit den weg te gaan)

Dalam menerapkan kekuasaan yang diberikan kepada saya, saya akan mencoba, dengan pertimbangan dan kebijakan yang tenang, untuk mempertimbangkan berbagai kepentingan yang terkadang bertentangan satu sama lain dan, jika mungkin, menyatukannya.

Bagaimanapun moral Jawa (de Javaansche zedeleer) mengatur agar dalam pemerintahan dan pemerintahan selalu memperhatikan dan memperjuangkan cita-cita: gemah ripah, toto, tentrem dan kerto rahardjo, sedangkan untuk pelaksanaan yang benar harus memperhatikan resep: empan papan, duga duga lawan prajoga, ngoembar wahjaning mongso kala

Menarik membaca prinsip kerja Raden Said dalam mengatasi sejumlah masalah yaitu, tetapi kesulitan ada untuk diatasi, bukan untuk dihindari (maar de moeilijkheden zijn er om overwonnen te worden, niet om ze uit den weg te gaan). Kalimat ini bukan hanya mencerminkan pengalaman seseorang yang sudah matang ditempa persoalan namun juga sebuah mentalitas petarung dan pekerja yang bertekad mengatasi persoalan  sampai tuntas dan tidak mudah menyerah serta mencari jalan pintas.

Raden Said sebagai seorang yang dilahirkan dari keturunan priyayi Jawa tentu mewarisi sejumlah nilai dan norma serta moralitas Jawa yang telah diterimanya bukan di sekolah formal melainkan dalam pendidikan keluarga. Tanpa kerendahan diri, beliau menerjemahkan moralitas Jawa yang terkandung dalam sejumlah ungkapan khas dalam bidang pemerintahan dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut masih bergema dalam kesadaran keturunan beliau. Ketika saya menemui salah satu cucu beliau yang bernama Bapak Tony (putra Bapak Noer Ari. Bapak Noer Ari putra ke-6 Raden Said) beliaupun pernah mendapatkan nasihat yang masih diingat dari kakeknya tersebut bahwa, “Nek dadi pejabat kudu wani mlarat lan aja nganti kalungan kala”. Inti pesan ini adalah menjadi pejabat publik bukan untuk mencari kekayaan pribadi semata dan jangan sampai terjerat masalah yang diakibatkan tindakan yang tidak hati-hati.

Hari Tua dan Kewafatan

Demikianlah kisah dan kiprah Raden Said semasa masih menjadi bagian dari struktur pemerintahan Hindia Belanda dan akhirnya menjadi bagian dari struktur pemerintahan pasca kolonial di kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Beliau menghabiskan masa tuanya di Purwokerto setelah menjabat sebagai bupati pertama di Kebumen dari tahun 1945-1947. Pada tahun 1973 beliau menghadap Sang Khalik pada usia 84 tahun.


Raden Said dikebumikan di pemakaman Nyimban di Karangasem, Karangsari, Kebumen. Di pusaranya tertulis angka kelahirannya yaitu 3 Februari 1896 dan wafat pada 25 januari 1973 di Purwokerto. Di sebelah utara pemakaman yang dipisahkan oleh sebuah jalan kecil yang membujur arah barat dan timur ini, terbaring juga leluhur Raden Said yaitu Demang Setjogati. Pusaranya terlihat kuno dan dipenuhi dengan unur atau rumah semut.

 

 

Selain makam trah Kolopaking (masa pemerintahan Panjer sebelum Kebumen) dan makam trah Aroengbinang (masa pemerintahan Kebumen pasca Perang Jawa), makam Raden Said sebagai bupati Kebumen pertama pasca kemerdekaan selayaknya menjadi tempat yang dikunjungi dan diperingati oleh para pejabat pemerintahan baik di saat Hari Kemerdekaan maupun Hari Jadi Kabupaten.

Kiranya semangat pengabdian dan pelayanan masyarakat yang dimiliki Raden Said memberikan inspirasi dan keteladanan bagi kita semua, terkhusus para pemangku kepentingan politik dan pemerintahan.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Qureta.com (2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar