Rabu, 26 Januari 2022

SOKA DARI MASA KE MASA

Nama Soka/Sokka saat ini dihubungkan dengan sebuah ruas jalan yang menghubungkan antara Pejagoan hingga Sruweng (Jl. Raya Sokka, menurut keterangan google map) dan Pejagoan ke Petanahan (Jl. Raya Sokka Petanahan, menurut google map) dan sebuah produk genteng yang bernama Sokka serta sebuah eks Stasiun bernama Sokka. 

Genteng ini diberikan nama dari daerah tempat pembuatan genteng ini pertama kalinya. Nama Aboengamar merupakan nama bekend (bahasa Belanda yang artinya "terkenal") di era kolonial sebagai seorang haji dan pemain bisnis genteng dan bata (Band.Jejak Kejayaan Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Soka - https://youtu.be/0M9dAs1gXc8).

Tentu yang tidak kurang familiar adalah nama Stasiun Soka yang selalu dilintasi kereta api dari arah Jakarta atau Bandung menuju Yogyakarta atau Surabaya demikian sebaliknya. Namun sejak diberlakukannya double track maka terhitung sejak tanggal 14 Desember 2019 atau 2000-an awal stasiun ini tidak lagi difungsikan.


Dari Halte Sokka Menjadi Stasiun Soka

Di era Hindia Belanda, kereta api pertama yang berfungsi di Jawa dimulai dari kalangan swasta yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (N.I.S.M). Pada tahun 1862, Mr. Poolman diberikan konsesi membangun lintasan Semarang—Vorstenlanden (Yogyakarta-Surakarta) diikuti dua tahun kemudian dengan konsesi jalur Batavia - Buitenzorg. 

Setelah N.I.S.M berhasil membuka jalur kereta api disusul Statspoorwegen (S.S) alias perusahaan kereta api negara melalui Undang-Undang anggal 6 April 1875 (Statblad Indie no. 141) diberikan izin untuk membangun jalan kereta api negara di Hindia Belanda dengan jalur lintasan Surabaya — Pasuruan — Malang. Perusahaan pemerintah yaitu Staatsspoorwegen (SS) mengerjakan jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta ke Cilacap dari tahun 1879-1887 dan dari Stasiun Cilacap ke pelabuhan Cilacap tahun 1888. 

Keberadaan Stasiun Soka yang di era Hindia Belanda berstatus halte, keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari proyek pembangunan jalur kereta dari Yogyakarta sampai Cilacap milik pemerintah yaitu Staatspoorwegen pada tahun 1887 (Teguh Hindarto, Stasiun Kebumen: Masa Lalu dan Masa Kini - http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2019/11/stasiun-kebumen-masa-lalu-dan-masa-kini_13.html). Perlu diketahui bahwa ada pembedaan antara stasiun dan halte. Keberadaan halte lebih kepada lokasi perhentian kereta untuk beberapa saat jika berpapasan dengan kereta lain. Namun di era pasca kemerdekaan tidak ada lagi pembedaan antara halte dan stasiun.

Keberadaan Stasiun Soka atau yang dahulu Halte Soka juga menjadi titik awal pemberangkatan setiap pesanan genteng dan batu bata sebagaimana dilaporkan dalam sebuah artikel berjudul, Een Groote Inlandsche Industrie oleh surat kabar Het Nieuws (17 Februari 1920)sbb:

"Lebih dari dua ratus grobak bolak-balik hari demi hari antara halte Sokka dan pembakaran dan di antara berbagai area pengeringan itu sendiri. Sepuluh hingga lima gerbong (wagons) dikirimkan per hari. Tapi ini bukan hanya genting (pannen), tetapi juga berbagai jenis batu bata dan ubin (baksteenen en tegels)” 

 

Dalam sebuah laporan berita yang dimuat surat kabar Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage (13 Okt1892)menyebutkan nama petugas di stasiun tersebut. Surat kabar ini menyebutkan perihal pemberhentian petugas di halte Soka atas nama Djojoatmodjo dan diangkatnya petugas pengganti atas nama Tjokroatmodjo.

Saat penulis memandu wisata heritage bersama Sahabat Heritage Indonesia (SHI), Bandung 2023 lalu

Dari Status District (Kawedanan) Menjadi Onderdistrict (Kecamatan)

Jika kita melakukan pelacakan dokumen kolonial maka Soka (atau Sokka) ternyata pernah menjadi sebuah district (kawedanan) di bawah regentschap (kabupaten) Karanganyar sebelum status kabupatennya dihapuskan tahun 1935. Dalam Regeerings Almanak 1884 disebutkan bahwa Karanganyar memiliki 9 district yaitu: Karanganyar, Gombong, Soka, Petanahan, Puring, Karangbolong. District Soka memiliki onderdistrict (kecamatan) bernama Pejagoan.

  

Pada tahun 1902, Soka berubah status menjadi onderdistrict (kecamatan). Jika di Regeerings Almanak 1901 status Soka masih district (kawedanan) maka menurut Regeerings Almanak 1902, Soka telah berubah menjadi onderdistrict (kecamatan) sementara Pejagoan naik status menjadi district yang membawahi Soka.

Bukan hanya pernah menjadi nama sebuah district (kawedanan) dan onderdistrict (kecamatan) namun menjadi nama sebuah desa di district Pejagoan. Sebagaimana dilaporkan oleh De Indische Mercuur, No 10 (10 Maret 1908) bahwa di desa Soka sempat hendak didirikan sebuah pabrik untuk kepentingan gula seluas 600 bahu oleh J.C.L.J Van Deun yang telah meminta ijin Residen Kedu.

Di masa kini, Soka hanya menjadi nama sebuah dukuh di desa Kedawung Kecamatan....



Cat: Artikel ini diperbarui dengan beberapa penambahan data  pada Tanggal 21 Maret 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar