Minggu, 04 Juli 2021

BRECONG (BAGIAN PERTAMA): JEJAK JAKA SANGKRIP DAN SYUKURAN ARUNG BINANG VII MENERIMA GOUDEN STER

Pada hari Minggu tanggal 10 di Bretjong, salah satu pantai selatan yang berjarak 12 pal dari Keboemen, sebuah pesta besar diadakan untuk menghormati bupati oleh masyarakat kecamatan (onder district) Boeloespesantren. Pesta yang dimulai pukul 10 sangat sukses. Banyak wanita dan pria dari kota mendatangi pesta perayaan tersebut, demikian sebuah berita berjudul, R. A. Aroengbinang Gehuldigd (R.A. Aroengbinang Menerima Penghormatan) yang dimuat surat kabar De Locomotief (21 Januari 1927) mengawali laporannya.

Sekalipun dalam surat kabar tersebut tidak disebutkan Arung Binang keberapa namun dapat dipastikan yang dimaksudkan adalah Arung Binang VII yang bernama Maliki Soerjomihardjo yang telah menjabat sebagai bupati Kebumen sejak 1909 (berakhir menjabat tahun 1935).

Kegiatan yang dilaporkan tersebut berupa sebuah selamatan besar (groote slametan). Selamatan besar dalam rangka apa dan mengapa di Brecong? Berita pendek ini memberikan sejumlah informasi menarik dan penting bagi kita yang hidup di masa kini.

Pada tanggal 13 Desember 1926, Arung Binang VII menerima bintang kehormatan berupa gouden ster (bintang emas) dari Ratu Belanda atas prestasi melakukan sejumlah perbaikan dan penataan kewilayahan. Oleh karenanya beliau hendak melakukan syukuran di pantai Brecong.

Pemilihan tempat ini didasarkan landasan historis (historische aarde) bahwa leluhurnya yaitu Kentol Soerowidjojo alias Jaka Sangkrib alias Arung Binang I pernah melakukan pertapaan (kluizenaars) selama 40 hari dengan menggali lubang (kuil) di tanah dan diayomi sebuah pohon waru (waroeboom).

Bretjong adalah tempat leluhur keluarga Aroengbinang biasa mengasingkan diri (placht af te zonderen), demikian tulis surat kabar tersebut. Dengan demikian menjadi jelas bahwa posisi pantai Brecong, Buluspesantren menjadi penting bagi keluarga Arung Binang karena leluhurnya pernah melakukan pertapaan di lokasi tersebut.

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa sejak tahun 1927 di lokasi di mana Kentol Soerowidjojo bertapa dibangun sebuah rumah kecil untuk memperingati pertapaannya. Sebuah pesanggrahan yang sudah dibangun sebelumnya menjadi pusat kegiatan perayaan.

Sebuah tongkat untuk berjalan (wandelstok) yang terbuat dari bagian pohon waru yang keras dan ada kuncup emas (gouden knop) dipersembahkan masyarakat Buluspesantren melalui Patih Kebumen kepada Bupati Kebumen Arung Binang VII

Menariknya, lokasi pertapaan Kentol Soerowidjojo ini masih ada hingga kini (sekalipun bangunannya sudah bangunan baru dan sederhana serta ada sebuah makam di sudut ruangan). Bahkan pohon waru yang menaungi masih ada dan masyarakat biasa menyebutnya waru doyong. Laporan surat kabar tahun 1927 menjelaskan bahwa pohon waru (waroeboom) ini menumbuhkan sejumlah hutan waru (waroebosch) di sekelilingnya.

Berkaitan dengan lokasi pantai Brecong yang sedang dalam persiapan pengelolaan kewisataan, narasi historis ini bisa menjadi sebuah daya tarik (attraction) bagi pengunjung wisata. Bukan sekedar pantai biasa tempat untuk melancong dan bersantai bersama keluarga melainkan pantai yang memiliki akar historis baik Arung Binang I yang pernah bertapa di lokasi ini dan Arung Binang VII yang pernah hadir di sini melakukan selamatan besar di pesanggrahan serta meresmikan bangunan lokasi pertapaan sebagai peringatan.

Bukan sekedar narasi historis sebagai daya tarik melainkan dilanjutkan dengan penataan lokasi pertapaan beserta pohon warunya dengan lebih bersih, rapih, indah serta nyaman saat pengunjung mendatangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar