Senin, 26 April 2021

ALUN-ALUN KEBUMEN: DARI MONUMEN WILHELMINA, JAM KOTA, PENANAMAN BERINGIN SERTA AKTIVITAS SOSIAL BUDAYA SEMASA KOLONIAL

Alun-alun bukan sekedar sebuah pelataran luas dengan bentuk bujur sangkar melainkan sebuah lokasi yang memiliki makna dan fungsi serta filosofi tersendiri berkaitan dengan keberadaan kraton (kerajaan) dan wilayah bawahan (kadipaten).

Keberadaan alun-alun telah lama ada sejak era pra kolonial dan era kolonial hingga pasca kolonial. Sekalipun keberadaan alun-alun mengalami pergeseran fungsi di setiap era (pra kolonial, kolonial, pasca kolonial) namun konsepsi makna dan filosofinya tetap tidak berupah dari masa ke masa.

Sejak abad ke-18 (pasca Perjanjian Giyanti 1755 yang dikenal dengan istilah “Palihan Nagari”) Mataram Islam dibagi dua menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kekuasaan raja Jawa bahkan harus berbagi dengan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda yang telah membagi wilayah Mataram tersebut.

Akibat dari keadaan politik tersebut, ibukota kerajaan Surakarta dan Yogjakarta tidak bisa dirancang sesuai dengan konsep yang telah ada sejak jaman Hindu Jawa. Itulah sebabnya pada pusat kota Surakarta maupun Yogjakarta terdapat benteng dan kantor Gubernur Belanda.

Sejak Abad ke-19 (pasca berakhirnya Perang Jawa 1825-1830, terjadi penataan wilayah dan administrasi baru di mana Jawa dibagi menjadi 3 propinsi dengan 16 karesidenan serta 66 kabupaten. Konsekwensi logis penataan wilayah dan administrasi tersebut menjadikan adanya bangunan tambahan di sekitar alun-alun. Yang semula kraton dan kabupaten maka bertambah menjadi kantor gubernur jendral (propinsi), kantor residen (karesidenan), kantor asisten residen (kabupaten).

Keberadaan kantor dan bangunan Belanda tersebut sebagai representasi sistem pemerintahan tidak langsung (indirect rule) dimana diadakan pembagian wilayah pemerintahan antara binnenlandsch bestuur (pemerintahan dalam negeri yang diwakili oleh pejabat Eropa) dan inlands bestuur (pemerintahan pribumi sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Belanda.

Jika diawal Abad ke-18 lokasi pusat pemerintahan kolonial terpisah dari pemerintahan pribumi (model ini disebut sebagai Oud Indische Stad) maka diakhir Abad 18, pusat pemerintahan kolonial dan pemerintahan pribumi dijadikan satu (model ini disebut sebagai Nieuwe Indische Stad).

Alun-alun tetap menjadi menjadi bagian penting dalam tata ruang kota pusat pemerintahan kabupaten, sekalipun telah berganti dengan sistem pemerintahan kolonial. Kalau mengacu pada arah mata angin, keletakan alun-alun selalu berada di tengah-tengah bangunan-bangunan penting, yaitu pendopo di sebelah selatan dan masjid agung di sebelah barat.

Sementara itu, keletakan pasar ada yang sebelah barat, selatan, atau timur.  Pada masa kolonial, penataannya ditambah oleh penjara dan kantor asisten residen atau controleur yang keletakannya bisa di sebelah utara atau timur.

Bagaimana dengan keadaan alun-alun di Kebumen semasa kolonial? Tidak jauh berbeda dengan keterangan di atas demikian pula struktur yang mengitari alun-alun Kebumen adalah kantor kabupaten (utara), kantor asisten residen (timur), masjid agung (barat), hotel Juliana dan kantor pos (selatan).

Menarik jika melacak sejumlah laporan surat-surat kabar yang menceritakan berbagai kegiatan sosial budaya karena kita bisa merasakan keramaian dan kemeriahan di masa lampau di kota Kebumen.

Namun sebelum kita melihat beberapa laporan surat kabar tersebut ada sebuah pemandangan menarik di alun-alun Kebumen yaitu berupa patung Ratu Wilhelmina di depan kantor kabupaten Kebumen sebagaimana telah ditampilkan di halaman judul tulisan ini.

Foto ini saya dapatkan dari Conrad Worlding di mana orang tuanya yang bernama Oscar Worlding dan Nelly Worlding pernah tinggal dan bekerja di Kebumen dari tahun 1932-1942 dan banyak mengabadikan beberapa lokasi di kota Kebumen.

Sayang plakat yang tertulis di bawah patung tidak bisa terbaca. Namun keterangan dibalik kartu pos dan foto ini berbunyi dalam bahasa Prancis demikian: Le Aloen-Aloen, la grande place du village, avec le buste de la Reine. Au fond l’hotel Juliana (Aloen-aloen, lapangan desa yang luas, dengan patung Ratu, di latar belakangi Hotel Juliana). Mengenai Hotel Juliana dapat dibaca dalam artikel berjudul, Melacak Jejak Kisah Hotel Juliana di Kebumen - https://www.qureta.com/next/post/melacak-jejak-kisah-hotel-juliana-di-kebumen)

Apakah di kemudian hari saat Jepang menguasai kota Kebumen atau pasca kemerdekaan patung ini mengalami perubahan bentuk menjadi monumen bunga padma atau teratai sebagaimana saat ini berdiri tegak lurus di depan pendopo kabupaten Kebumen, belum dapat dipastikan. Penulis memiliki dugaan ini dikarenakan adanya kesamaan penopang berbentuk persegi empat. Hanya saja, pada monumen yang sekarang plakat tersebut telah kosong tidak berisikan tulisan apapun.

 

Kiranya setelah tulisan ini dipublikasikan ada informasi penting yang menjelaskan asal-usul dan makna monumen bertangkai padma atau teratai dilabur putih dan merah di depan pendopo kabupaten Kebumen.

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana aktifitas sosial budaya di seputar alun-alun Kebumen melalui sejumlah pelacakan berita-berita di surat kabar berbahasa Belanda untuk mendapatkan gambaran kehidupan sosial pada masa kolonial.

Rencana Penanaman Waringin dan Jam Listrik Kota

Sebuah berita dengan judul, Een Eeuw Regentschap (Satu Abad Kabupaten) yang ditulis surat kabar bernama Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie (27 September 1929) melaporkan berita pendek sbb:

"Bulan April tahun berikutnya seratus tahun yang lalu Kabupaten Keboemen berdiri. Agar tidak luput dari perhatian, beberapa waktu kemudian di bawah kepemimpinan Raden Mas Soetomo, Patih Keboemen, dibentuklah panitia pendahuluan untuk menyelenggarakan pesta peringatan (een herdenkingsfeest). Bupati Keboemen didaulat menjadi pelindung (beschermheer). Jika hasil dari daftar penandatanganan yang beredar saat ini di kalangan warga Kaboepaten memenuhi harapan, jam listrik kota (een electrische stadsklok) akan ditawarkan sebagai kenang-kenangan permanen seratus tahun ini, di samping waringin untuk ditanam di Aloon-aloon yang akan diletakkan di tengah kota".

Berita pendek ini sekaligus memberikan kejelasan mengenai usia kabupaten Kebumen sebagai sebuah administrasi baru pasca Perang Jawa berakhir menggantikan Panjer. Arung Binang IV (Mangundiwiryo) diangkat sebagai bupati Kebumen pertama pada tanggal 22 Agustus 1831 dan berakhir pada 30 Juni 1849 (Sugeng Priyadi, Sejarah dan Kebudayaan Kebumen, 2004:68). Maka jika dihitung dari tahun 1930 ke belakang sampai tahun 1830 maka usia Kebumen sudah 100 tahun.

Namun demikian berita pendek ini juga menyisakan sejumlah pertanyaan. Apakah pemasangan jam listrik kota sebatas sebuah rencana ataukah sudah terealisasikan? Jika sudah terealisasi, kemana jam listrik kota yang pernah hendak dipasang pada peringatan satu abad pemerintahan Kebumen yang jatuh April 1930 tersebut? Apakah waringin yang nampak di masa kini ini waringin yang ditanam pada tahun 1930?

Perayaan Menyongsong Kelahiran Cucu Wilhelmina

Pada saat saat cucu Ratu Wilhelmina atau anak Juliana lahir yang bernama Beatrix di tahun 1938 terjadi keramaian luar biasa baik di alun-alun maupun tempat peribadatan (gereja, mesjid, klenteng). Digambarkan dalam laporan berita berjudul, Feest te Keboemen (Pesta di Kebumen) bahwa kembang api ditembakkan ke udara di alun-alun untuk memberitahukan kepada penduduk Kebumen mengenai kelahiran seorang putri kerajaan Belanda (De Locomotief, 5 Februari 1938).




Perayaan 40 Tahun Ratu Wilhelmina

Sebuah berita dengan judul, Dejubileumfessten (pesta perayaan hari jadi) yaitu perayaan 40 tahun Ratu Wilhelmina berkuasa, yang dimuat surat kabar De Locomotief (1 September 1938) membuat sebuah berita dengan sub judul Het programma (Rencana Kegiatan) alias sebuah rencana run down kegiatan yang berpusat di alun-alun Kebumen dan sekitarnya pada tahun 1938.

Menariknya, dari rencana kegiatan yang akan diselenggarakan selama beberapa hari yaitu dari tanggal 5-8 September tergambar sebuah aktivitas yang padat dan kehidupan sosial budaya yang dapat memberikan gambaran informatif mengenai kehidupan di Kebumen tahun 1938. Mari kita telaah satu persatu.

Senin, 5 September 1938.

17.30 - Pertemuan doa (bidstond) untuk orang Eropa, dipimpin oleh Pendeta Vonk di Gereja Misi (Zendingskerk)

18.30 - Berkumpul di Kaboepaten untuk pegawai negeri sipil pribumi (inlandsche ambtenaren) dan pensiunan pribumi (inheemsche gepensionneerden) bersama para istri mereka. (Pegawai negeri sipil bersetelan formal, lainnya berbaju hitam).

19:00 - Keberangkatan dengan prosesi obor (fakkeloptocht) berjalan kaki ke Masjid  (de Moskee) untuk pertemuan doa. Setelah itu kembali dengan prosesi menuju kaboepaten.

20.00 - Pertemuan doa (bidston) untuk orang Tiong Hoa di Klenteng.

Dari rencana run down kegiatan hari ini kita bisa mendapatkan keterangan bagaimana kehidupan beragama di era kolonial berjalan berdampingan untuk merayakan sebuah pesta perayaan hari jadi kabupaten di tempat ibadah masing-masing.

Selasa, 6 September.

08.00 - Prosesi penunggang dan kuda di arena pacuan kuda (Alun-alun).

09.00-14.00 - Lomba balapan (lari cepat, balap sepeda dan panggung, lari, dll.)

16.30-17.30 - Final pertandingan pagi.

19.12 - Bioskop terbuka (openluchtbioscoop), wayang-golek, wayang-puro (purwo) dan pertandingan bulu tangkis (badmintonwedstrijden) di Alun-alun

Mulai jam 20.00  Pesta di gedung asisten residen untuk orang Eropa. Pesta di kabupaten untuk masyarakat pribumi. Slametan di Masjid untuk para pemuka agama. Pesta untuk orang Tionghoa di Klenteng atau di tempat lain.

Dari laporan rencana run down hari kedua tergambar bagaimana alun-alun difungsikan menjadi kegiatan publik non keagamaan baik bulu tangkis, wayang purwo, bahkan wayang golek, sebuah penampilan seni pewayangan yang biasanya ditampilkan di Jawa Barat. Tergambar pula pesta perayaan menurut masing-masing agamanya yaitu slametan di masjid, pesta di klenteng atau di gedung asisten residen.

Rabu, 7 September

08.00-14.00 - Balapan seperti pada tanggal 6 September

16.30 -18.00 - Final pertandingan pagi, kemungkinan kompetisi atletik

19.00-23.00 -  Malam Pertandingan bulutangkis di Alun-alun

20.00-24.00 - Pertunjukkan bioskop terbuka, lomba lagu jawa, tari jawa, pertandingan tinju, anggar, pencak, wayang golek dan wayang puro. Parade lentera di Priajistraat (Jl. Priyayi) dekat Europeesche School (Sekolah Eropa). Rute: Prijajistraat, alun-alun melewati rumah asisten residen, Hotel Juliana, mesjid, kabupaten menuju arena pacuan kuda. Prosesi tersebut berakhir di arena pacuan kuda.

Kamis, 8 September

08.00-14.00 -  Balapan seperti pada tanggal 6 September.

16.30-18.00 - Pawai mobil, gerobak, sepeda yang dihias dan gunungan di lintasan balap

19.12 - Bioskop terbuka dll. Seperti pada tanggal 7 September disertai atraksi lainnya.

Kegiatan di tanggal 8 September masih ramai bahkan ada aktivitas pawai mobil dan gerobak serta sepeda bahkan gunungan. Mungkin maksudnya hiasan gunungan seperti dalam pesta garebeg di Kraton Yogyakarta.

Laporan surat kabar diakhir dengan kalimat sbb: 

“Masuk ke lokasi pesta gratis. Di tribun utama membayar sebesar 0,10 florin per orang per hari sementara di tribun lurah membayar sebesar  0,05 florin per orang per hari. Konsumsi selama pesta dengan biaya tertentu, disediakan oleh Inheemsche Damesvereeniging (Asosiasi Wanita Pribumi) P. N.O. dari Keboemen (yang benar P.M.O alias Perkumpulan Mardi Utomo). Di halaman kabupaten selama perayaan diadakan pameran ternak (de feestdagen veetentoonstelling)”.

Perayaan dan Kemeriahan Menyambut Pernikahan Puteri Juliana

Sebuah pemandangan di Kebumen (dan kota-kota lain di Hindia Belanda) saat merayakan pertunangan Puteri Juliana (putri dari Ratu Wilhelmina) dengan Pangeran Bernard pada 8 September 1936. Perayaan serentak pada 12 September 1936 di seluruh Hindia Belanda termasuk Kebumen (F.A.W Van Der Lip (diterjemahkan oleh Armijn Pane), Nederlandsch Indisch Herinneringen, 1937).


Lokasi-lokasi yang terfoto di Kebumen adalah masjid tempat orang melakukan doa syukur dan keselamatan dan kemungkinan pendopo kabupaten Kebumen (dengan huruf "B") serta jalanan kota Kebumen . Sejumlah aktivitas budaya seperti festival dan arak-arakan hiasan yang ditandu dan parade anak-anak sekolah memperlihatkan keramaian-keramaian di seputar alun-alun kota.

Melihat berbagai laporan surat kabar mengenai sejumlah aktivitas sosial budaya di alun-alun dan gedung-gedung seputar alun-alun Kebumen semasa kolonial, kita bisa merasakan kembali berbagai kemeriahan, keriangan, di mana berbagai orang saling bertemu baik untuk merayakan sebuah momentum penting ataupun melakukan pertandingan olah raga serta pertunjukan seni budaya bahkan menonton film terbuka.

Jika Anda sering mengunjungi alun-alun kota, baik kebutuhan berolahraga pagi ataupun sekedar menikmati kuliner malah hari serta hari libur. Lihatlah ke sekeliling Anda. Di setiap gedung baru dan gedung lama ada gema kisah sebuah peristiwa. Di setiap tanah yang Anda jejak, ada lapisan peristiwa yang pernah terjadi di atasnya.
 
 




5 komentar:

  1. Pak teguh salam kenal dari Masdar bs kebumen tak posting ya ijin pak teguh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan. Yang penting disertakan sumber rujukan tulisannya (nama penulis dan judul artikel serta alamat blog)

      Hapus
  2. Pak Teguh, apa boleh fotonya saya upload ke IG @potretlawaskebumen? Jika diperbolehkan, kira-kira apa saja yang harus dicantumkan, nggih? Matur nuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan. Sertakan sumber foto dan jika ada parafrase isi artikel bisa direfer judul artikel dan alamat artikel serta IG HST dan IG saya ditag

      Hapus