Selasa, 14 November 2023

SEMUA TENTANG JENG YAH (Review Novel "Gadis Kretek")

“Yah kan sudah gadis, Pak. Malu kalau mukaku ditaruh di etiket”

“Gadis?”

“Iya…” Dasiyah merunduk seperti kembang sepatu. Malu-malu.

“Kamu…memang sudah jadi gadis. Gadis kretekku”

“Apa Pak?”

“Bapak tahu, nama dagangnya Kretek Gadis!”

(Gadis Kretek, 2019:149)

Demikianlah petikan percakapan Idroes Moeria, pemilik rokok kretek “Merdeka” dan “Kretek Gadis” dalam novel karya Ratih Kumala dengan judul Gadis Kretek. Ya, semua berkisah tentang seorang yang dipanggil Jeng Yah alias Dasiyah, yang kelak menggantikan sang ayah sebagai pemilik pabrik Kretek Gadis.

Membaca novel ini kita akan dibawa bolak-balik antara masa lalu dan masa kini melalui plot alur flashback/regresif (mundur) dan alur progresif (maju) dari tokoh-tokoh utama kisah ini mulai dari Idroes Moeria dan Roemaisa yang memiliki anak gadis dengan lidah bak Roro Mendut sehingga melambungkan rokok kretek Gadis dan jalinan cinta rumit Dasiyah dengan Soeraja yang kelak justru menikahi Purwanti anak pesaing Idroes yaitu Soedjagad yang juga pernah mencintai Roemaisa. Nampaknya Anda harus meletakkan selembar kertas dan memasang nama-nama di atas agar memudahkan jalur hubungan dan kisah cinta pelik di antara nama-nama tersebut. Macam membaca cersil Kho Ping Ho yang berjilid-jilid mengisahkan orang tua turun ke anak hingga cucu.

Alur cerita dalam novel tidak mudah ditebak bahkan hingga lembar-lembar halaman  akhir sebagaimana pencarian tiga anak Soedjagad (Tegar, Karim, Lebas) di masa kini yang berusaha menemukan masa lalu kisah cinta pelik sang ayah sebelum menikah.

Sebagaimana novel berjudul Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez) hendak mengisahkan dalam banyak cara agar pembacanya menggemari buku, demikian buku ini seolah mengingatkan pembacanya perihal kejayaan rokok kretek di sebuah kota bernama M (Muntilan?). Ada gema Pramoedya Anantoer Toer penulis novel Bumi Manusia dalam novel Gadis Kretek. Jika Pram menggunakan istilah “Bupati B” (Blora?) dalam novel yang terbit tahun 1980 maka Ratih menggunakan istilah “Kota M” (Muntilan?).

Kita akan diajak melintasi lorong waktu yang melatari cerita tentang cinta dan kretek, mulai dari akhir masa pemerintahan kolonial Belanda, pendudukan Jepang, awal kemerdekaan bahkan bulan berdarah yang melibatkan Partai Komunis Indonesia yang membuyarkan keberlanjutan kisah cinta Jeng Yah dengan Soeraja.

Saya telah membeli dan membaca novel ini pada tahun 2019 namun seiring kisahnya ditayangkan di Netflix, gairah untuk membaca kembali muncul. Tidak bosan dan selalu penasaran.

Meski Gadis Kretek versi novel dan film berbeda plot ceritanya, keduanya bagus dibaca dan ditonton sich. Tayangan dalam film tetap dapat mempertahankan kelogisan plotnya meskipun berbeda dengan kisah asli dalam novel. Hanya terasa lebih seru dan pelik konflik dan tragedi dalam novelnya.

Beberapa perbedaan plot novel dan film al., (1) Orang yang melamar Dasiyah bernama Sentot namun dalam film Seno Aji dan sudah langsung berprofesi sebagai tentara (2) Nama rokok kretek Soeraja ketika berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia bernama Kretek Arit Merah. Dalam film hanya disebut Kretek Merah. (3) Jika dalam novel aslinya, Soeraja dalam situasi komanya mengigau dan menyebut nama Jeng Yah (Dasiyah) karena merasa bersalah telah menggunakan resep rahasia saus Kretek Gadis ke dalam kretek Jagad Raja namun dalam film rasa bersalah Soeraja karena telah menjadi kaki tangan Soedjagad saingan Idroes Moeria (ayah Dasiyah) untuk memasukkan Idroes Moeria dalam daftar yang tersangkut Partai Komunis Indonesia, sehingga menyebabkan penangkapan dan kematian Idroes Moeria (4) Arum Cengkeh, putri Dasiyah yang dalam novel muncul sejenak diakhir novel, dalam film justru muncul sejak awal bersama Lebas (anak termuda Soeraja) dan terlibat hingga akhir dalam kisah pencarian figur Jeng Yah - yang tidak lain ibundanya sendiri - melalui penelusuran surat-surat yang dituliskan Soeraja dan Dasiyah muda.

Penulis membayangkan dalam film (sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah) bahwa sosok Dasiyah akan menggenakan kebaya dan jarik namun ternyata sosok Dasiyah dalam keseharian seperti mengenakan pakaian Cheongsam yang ditandai dengan kerah tinggi, sekalipun tetap enak dilihat dalam setiap adegan.

Bagi yang telah membaca novelnya, mungkin harus sedikit mengernyitkan alis mata ketika menonton dan menikmati setiap adegan dalam film karena sejumlah plot cerita dan nama-nama mengalami perubahan, meski tetap masih terasa logis hingga akhir tayangan.

Dibalik asap rokok kretek yang menguar dan semakin samar keberadaannya di masa kini, bukan hanya menyimpan sejarah tindakan ekonomi kelas sosial pada suatu masa, namun ada saja kisah asmara anak-anak manusia yang dapat dibekukan dalam sebuah buku, entah fakta atau fiksi.

Yang belum membaca novelnya, bacalah keseruan plot ceritanya. Mana yang lebih asik antara novel dan filmnya, itu terserah Anda menilainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar