Kamis, 05 Oktober 2023

KAFE DAN KAPITAN HUIS TIONGHOA DI MADIUN

Apa yang kita ingat dari Madiun? Bagi yang gemar melakukan perjalanan wisata atau bepergian dan mampir ke Madiun, tentu pecel dan peyek yang renyah menjadi ikon kuliner yang melekati Madiun.

Madiun, memiiki sejarah panjang yang dapat ditarik hingga era Mataram dan menjadi wilayah "brang wetan" atau "mancanegara wetan" hingga kemudian menjadi kota karesidenan pada tahun 1830. Sejarawan Ong Hok Ham mengulas secara komprehensif dalam bukunya, Madiun Dalam Kemelut Sejarah (KPG 2018).

Ketika berstatus kota karesidenan, Madiun memiliki lima afdeelling (regentschap/kabupaten) yaitu afdeeling Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Patjitan. Beberapa Residen yang pernah bekerja di Madiun al., J.A.E. Van Deventer (2 Januari 1914), J.H. Rering (29 Januari 1921), Dr. L. Adam (27 Aug 1934). Beberapa bupati yang pernah bekerja di Madiun al., Raden Mas Adipati Ronggo Ario Koesnodhiningrat (6 Desember 1900), Raden Ras Tumenggung Ronggo Ario Koesmen (2 Januari 1929)

Sebagai kota eks Karesidenan, Madiun juga kaya akan sejumlah bangunan heritage. Sebut saja satu yaitu Rumah Kapitein der Chinezen atau Kapitan Cina (selatan alun-alun) yang sekarang dipakai beberapa tempat usaha dan salah satunya sebuah kafe.

Apa itu Kapitein der Chinezen atau Kapiten Cina? Pemerintah Kolonial memberikan pangkat resmi untuk kalangan etnis Cina yang menjadi penghubung komunitas etnisnya dengan pemerintah Hindia Belanda. Kapiten bertanggung jawab atas administrasi sipil masyarakat Tionghoa, mengawasi pencatatan perkawinan, perceraian, kematian, kelahiran, pendidikan, perpajakan, dan administrasi peradilan dasar.

Kepangkatan untuk Opsir Tionghoa terdiri dari Majoor, Kapitein, dan Leutenant. Menurut Mona Lohanda dalam buku The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society (1996) pangkat tersebut kerap disebut Chinezen Officieren (opsir Cina).

Bangunan ini dahulu dihuni oleh Kapiten Njoo Swie Lian, seorang pemimpin etnis Tionghoa di Kota Madiun. Tokoh berpengaruh tersebut menempatinya mulai 1912 sampai akhir hayatnya pada 1930. Dalam Regeering Almanak 1914 tercatat nama Kapitein der Chineezen al., Njoo Swie Lian (22 Juni 1912) dan Luitenant der Chineezen yaitu Liem King Jang (22 Juni 1912).

Surat kabar De Locomotief (29 Februari 1930) memberitakan perihal kewafatan Njoo Swie Lian pada tanggal 17 Februari 1930 setelah mengalami sakit dalam waktu lama (langdurige ongesteldheid). Dilansir dari laman https://www.mychinaroots.com nampak kemerahan proses pemakaman orang terkemuka pada zamannya tersebut. 

Dijelaskan bahwa pada Rabu pagi di tahun 1930, sekelompok 20 pria menempatkan peti mati yang dihias dengan megah di atas kereta megah berwarna perak dan abu-abu, ditarik oleh empat ekor kuda yang dibungkus dengan kain yang dirancang dengan indah. Dengan latar belakang pakaian berkabung berwarna putih, pohon palem hijau, dan rangkaian karangan bunga, sebuah parade militer berbaris di depan peti mati.

Bangunan-bangunan bernuansa heritage di era kolonial, di setiap kota sejatinya memberikan rekam jejak kehidupan sosial politik dan sosial budaya pada masanya. Menjadi bagian dari kekayaan sejarah kota. Sudah selayaknya kita merawat dan melestarikan serta memberdayakannya bukan sebaliknya meniadakan dan menghapusnya seolah sejarah baru dimulai hari ini.

Nah, sembari meminum kopi lemon khas sajian kafe ini, Anda bisa berswafoto atau mengabadikan keindahan jejak arsitektur Hindia Belanda tahun 1900-an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar