Sabtu, 28 Januari 2023

STASIUN KALASAN DAN KOPI STASIUN KALASAN

Stasiun Kalasan resmi ditutup Tahun 2007 semenjak adanya sistem double track. Dikarenakan tidak adanya lagi kereta yang bersimpangan secara bergantian maka keberadaan dan keberfungsiannya dibekukan. Dibalik rimbunnya dua pohon beringin tua yang mengapit eks stasiun ini, masih terlihat model bangunan stasiun ini memperlihatkan jejak-jejak warisan arsitektur kolonial sekalipun sudah mendapatkan sentuhan masa kini.

Keberadaan Stasiun Kalasan ini tidak dapat dilepaskan dari dibukanya jalur transportasi pengangkutan komoditas hasil bumi oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoor en Tramwegen Maatschapij (NISM).

Perusahaan ini menugaskan insiyur J.P. de Bordes untuk membuka jalur kereta api di Jawa Tengah dengan lebar jalur (spoorwijdte) 1.435 mm. Kemudian tanggal 17 Juni 1864 Gubernur Jenderal Sloet van de Beele menancapkan sekop ke tanah sebagai awal pekerjaan dimulai. Pekerjaan dilanjutkan dengan giat, sehingga tanggal 10 Agustus 1867 jalur Semarang-Tanggung sepanjang 24,7 km dapat dioperasikan. Kemudian untuk jalur lintasan Solo Yogyakarta diselesaikan Tanggal 10 Juli 1872 (S.A., Korte Geschiedenis der Nederlandsche Indische Spoor en Trawwegen, 1928).

Keberadaan NISM mendahului jalur kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yaitu Staatspoor en Tramwegen (SS) yang baru memulai pekerjaan pembukaan jalurnya pada tanggal 6 April 1875 dengan rute Surabaya-Pasuruan dengan biaya f 10.000.000. Pimpinan proyek jalur lintasan kereta api SS ini adalah David Maarschalk, seorang  Kolonel titulair der Genie (Buku Peringatan Dari Staatspoor en Trawegen di Hindia Belanda 1875-1925, 1925). Ketika produksi gula yang dihasilkan perkebunan di Yogyakarta meningkat pesat maka diperlukan sebuah jalur pengangkutan komoditas menju pelabuhan Cilacap, sehingga pada tahun 1879 dibuka jalur Yogyakarta sampai Cilacap sepanjang 187,283 km dengan biaya f 14.709.074,75. Pembangunan ini diselesaikan tahun 1887 (Purnawan Basundoro, Arkeologi Transportasi: Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Karesidenan Banyumas 1830-1940-an,2019)


Surat kabar De Locomotief (17 Desember 1873) memuat sebuah berita perjalanan kereta api NISM. Bunyi berita waktu perjalanan kereta tersebut adalah, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij: Uren van vertrek voor den dienst, aanvang nemende den 10den Juni 1872 (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij: Waktu layanan keberangkatan dimulai sejak tanggal 10 Juni 1872). Rute yang dilayani adalah Semarang, Kedungjati, Surakarta dan Yogyakarta. Nampak dalam berita tersebut Stasiun Kalasan sudah disebutkan dalam jadwal tiba dan berangkat sejumlah kereta al., 9.19 (pagi untuk kereta barang nomor 2) dan 2.01 (sore untuk kereta barang nomor 4), 5.54 (pagi untuk kereta barang nomor 7), 7.50 (pagi untuk kereta barang nomor 3), 11.9 (pagi untuk kereta non barang nomor 5), 3.31 (sore untuk kereta barang nomor 8).

Salah satu kepala Stasiun N.I.S.M yang pernah bertugas di Kalasan adalah Bapa Rozet. Dalam surat kabar De Locomotief (11 Juli 1932) diberitakan sebuah perayaan 25 tahun pelayanan Bapak Rozet di NISM bersamaan dengan 60 tahun keberadaan NISM (1932-1872). Stasiun dihias dengan meriah dan berbagai pimpinan, kolega datang turut meramaikan perayaan tersebut.

Demikianlah riwayat ringkas sebuah stasiun yang pernah berjaya sejak era kolonial hingga era kemerdekaan dan yang keberfungsiannya dihentikan sejak tahun 2007 silam. Namun kesunyian yang ditinggalkan stasiun ini kembali ramai oleh kehadiran sebuah cafe tempat kongkow keluarga dan kawula muda dengan menyajikan minuman kopi dan makanan.

Diinisiasi oleh beberapa pegiat yang memiliki kepedulian untuk merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya kemudian menginisiasi pendirian sebuah kafe yang diperuntukkan bagi wahana rekreasi keluarga. Setelah mendapatkan ijin dari KAI Daop VI Yogyakarta dan pihak terkait (pengurus lingkungan setempat dll), bekas rumah dinas karyawan Stasiun KA Kalasan akhirnya disulap menjadi sebuah kafe bernama Kopi Stasiun Kalasan (Kostaka), yang dibuka pada 20 Mei 2021 (Bangunan Cagar Budaya Jadi Rekreasi Keluarga - https://www.krjogja.com/berita-lokal/read/253980/bangunan-cagar-budaya-jadi-rekreasi-keluarga). Beberapa waktu penulis mencoba untuk menyambangi lokasi ini pada malam hari. Terlepas dari penilaian terkait menu, lokasi ini menawarkan sebuah eksotika masa lalu melalui ruangan yang terbagi secara in door dan out door (kelemahannya jika gerimis atau hujan lantas bubar). Hiburan tambahan selain mendengarlan lantunan musik tentu saja kereta yang melintas pada jam tertentu dengan memperdengarkan suara klaksonnya.

Kehadiran cafe ini bisa menjadi sekian dari banyak contoh bagaimana sebuah bangunan bersejarah di era kolonial dapat dimanfaatkan menjadi sebuah kawasan ekonomi. Setiap bangunan lawas tentu punya cerita. Tidak harus dibiarkan mangkrak apalagi dirusak hingga hilang jejak.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar