Rabu, 23 September 2026

SKETSA RINGKAS PERBATIKAN DI KEBUMEN, GOMBONG, KARANGANYAR 1930-1940-AN

Foto ilustrasi, Evolution the Inhabitans of Java (1920)

Menurut laporan situasi ekonomi di Karesidenan Kedu pada triwulan kedua, bulan April dan Mei 1940 merupakan bulan yang lesu (slap) bagi industri batik di Baledono (Purworejo), demikian tulis berita berjudul, Batik en Weefnijverheid in Zuid Kedoe (Batik dan Industri Tenunan di Karesidenan Kedu) yang dimuat surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (20 Agustus 1940).

Pada bulan Juni 1940, permintaan batik sedikit membaik, tetapi dengan harga yang lebih rendah. Pasokan pewarna (verfstoffen) ke pabrik-pabrik batik terbatas karena situasi perang (de oorlogstoestand) namun, pasokan bahan baku (doekgrondstof) kain mencukupi. Apa yang dimaksudkan “situasi perang” dalam berita surat kabar ini? Bukankah Hindia Belanda baru menyerang pada invasi Jepang pada tanggal 8 Maret 1942? Yang dimaksudkan “situasi perang” dalam berita surat kabar ini merujuk pada peristiwa penaklukan pemerintahan Belanda di Amsterdam oleh Jerman pada 10 Mei 1940 sebagai jembatan untuk menginvasi Prancis.

Kemenangan telak Nazi Jerman dalam menaklukkan Belanda tentu saja membawa pengaruh buruk bagi eksistensi orang Belanda di Nusantara. Kekalahan itu menimbulkan goncangan besar baik terkait stabilitas ekonomi termasuk terkait nasib Hindia-Belanda ke depan.

Kembali ke industri batik di Karesidenan Kedu yang terdiri dari lima kabupaten yaitu Wonosobo, Temanggung, Kutoarjo, Purworejo, Kebumen, Karanganyar (tahun 1933 Kutoarjo dihapus status kabupatennya dan menyusul Karanganyar tahun 1935). Dalam laporan surat kabar yang dikutip di atas, industri batik di Gombong, Karanganjar, dan Keboemen lebih bergairah (levendiger) daripada di Balédono pada triwulan sebelumnya. Pesanan masih diterima secara teratur. Di daerah-daerah ini pun, pasokan pewarna terbatas, sementara pasokan bahan baku kain mencukupi. Pada tahun 1940, Karanganyar dan Gombong telah berubah statusnya menjadi district (kawedanan) di bawah regentschap (kabupaten) Kebumen.

Foto ilustrasi, Evolution the Inhabitants of Java (1920)

Industri batik di Kebumen, Gombong dan Karanganyar (termasuk Kutoarjo dan Purworejo) terpantau dalam radar surat kabar sekitar tahun 1930-an. Demikian pula P. De Kat Aggelino dalam Batikrapport memberikan deskripsi perkembangan batik di Jawa Tengah dengan menyebutkan sejumlah wilayah sentra seperti Kroya, Gombong, Karanganyar, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo (Teguh Hindarto, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII, 2020:163). Mengenai industri batik di Kebumen, Anggelino menuliskan, “Kebumen adalah batikcentrum (pusat batik) yang terutama dikenal dengan kain Jumputan dan Tritik serta batik bang (yaitu tangan berwarna merah dan batik cap) yang diproduksi di desa Kambangsari, Gemeksekti, Tanuraksan, Panjer, Tamanwinangun, Tembono, Kutosari, Bumirejo dan Surotrunan” (Teguh Hindarto, 2020:166)

Menariknya, dalam sebuah artikel yang ditulis Ir. Soepardi Kepala Biro Konsultasi Industri, Kabupaten Jawa Tengah-Selatan dengan judul, De Aspecten der Klein-Industrie op Java (Aspek-aspek Industri Kecil di Jawa Tengah) yang dimuat surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (21 September 1936) menyebutkan korelasi yang saling mempengaruhi antara keberhasilan panen tembakau dengan produksi batik. Disebutkan dalam artikel tersebut, “Jika panen tembakau ini baik, pabrik-pabrik batik umumnya diuntungkan. Jika petani tembakau tidak meraup untung, industri batik akan tetap lesu”. Nampaknya daya beli batik dikaitkan dengan pendapatan dan keuntungan dari penjualan tembakau.

Dari berita singkat di atas setidaknya kita bisa mengetahui peta ekonomi batik di wilayah Karesidenan Kedu (eks Karesidenan Bagelen) di mana beberapa sentra batik disebutkan di Kebumen, Karanganyar dan Gombong selain Kutoarjo dan Purworejo. Bagaimana dengan situasi batik Kebumen masa kini?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar