Menurut laporan situasi ekonomi
di Karesidenan Kedu pada triwulan kedua, bulan April dan Mei 1940 merupakan
bulan yang lesu (slap) bagi industri batik di Baledono (Purworejo), demikian
tulis berita berjudul, Batik en
Weefnijverheid in Zuid Kedoe (Batik dan Industri Tenunan di Karesidenan
Kedu) yang dimuat surat kabar Bataviaasch
Nieuwsblad (20 Agustus 1940).
Pada bulan Juni 1940, permintaan
batik sedikit membaik, tetapi dengan harga yang lebih rendah. Pasokan pewarna
(verfstoffen) ke pabrik-pabrik batik terbatas karena situasi perang (de
oorlogstoestand) namun, pasokan bahan baku (doekgrondstof) kain mencukupi. Apa
yang dimaksudkan “situasi perang” dalam berita surat kabar ini? Bukankah Hindia
Belanda baru menyerang pada invasi Jepang pada tanggal 8 Maret 1942? Yang
dimaksudkan “situasi perang” dalam berita surat kabar ini merujuk pada
peristiwa penaklukan pemerintahan Belanda di Amsterdam oleh Jerman pada 10 Mei
1940 sebagai jembatan untuk menginvasi Prancis.
Kemenangan telak Nazi Jerman
dalam menaklukkan Belanda tentu saja membawa pengaruh buruk bagi eksistensi
orang Belanda di Nusantara. Kekalahan itu menimbulkan goncangan besar baik
terkait stabilitas ekonomi termasuk terkait nasib Hindia-Belanda ke depan.
Kembali ke industri batik di
Karesidenan Kedu yang terdiri dari lima kabupaten yaitu Wonosobo, Temanggung,
Kutoarjo, Purworejo, Kebumen, Karanganyar (tahun 1933 Kutoarjo dihapus status
kabupatennya dan menyusul Karanganyar tahun 1935). Dalam laporan surat kabar
yang dikutip di atas, industri batik di Gombong, Karanganjar, dan Keboemen
lebih bergairah (levendiger) daripada di Balédono pada triwulan sebelumnya.
Pesanan masih diterima secara teratur. Di daerah-daerah ini pun, pasokan
pewarna terbatas, sementara pasokan bahan baku kain mencukupi. Pada tahun 1940,
Karanganyar dan Gombong telah berubah statusnya menjadi district (kawedanan) di
bawah regentschap (kabupaten) Kebumen.
Industri batik di Kebumen,
Gombong dan Karanganyar (termasuk Kutoarjo dan Purworejo) terpantau dalam radar
surat kabar sekitar tahun 1930-an. Demikian pula P. De Kat Aggelino dalam Batikrapport memberikan deskripsi
perkembangan batik di Jawa Tengah dengan menyebutkan sejumlah wilayah sentra
seperti Kroya, Gombong, Karanganyar, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo (Teguh
Hindarto, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung
Binang VII, 2020:163). Mengenai industri batik di Kebumen, Anggelino
menuliskan, “Kebumen adalah batikcentrum (pusat batik) yang terutama dikenal
dengan kain Jumputan dan Tritik serta batik bang (yaitu tangan berwarna merah
dan batik cap) yang diproduksi di desa Kambangsari, Gemeksekti, Tanuraksan,
Panjer, Tamanwinangun, Tembono, Kutosari, Bumirejo dan Surotrunan” (Teguh
Hindarto, 2020:166)
Menariknya, dalam sebuah artikel
yang ditulis Ir. Soepardi Kepala Biro Konsultasi Industri, Kabupaten Jawa
Tengah-Selatan dengan judul, De Aspecten
der Klein-Industrie op Java (Aspek-aspek Industri Kecil di Jawa Tengah)
yang dimuat surat kabar Het Nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie (21 September 1936) menyebutkan korelasi yang
saling mempengaruhi antara keberhasilan panen tembakau dengan produksi batik.
Disebutkan dalam artikel tersebut, “Jika panen tembakau ini baik, pabrik-pabrik
batik umumnya diuntungkan. Jika petani tembakau tidak meraup untung, industri
batik akan tetap lesu”. Nampaknya daya beli batik dikaitkan dengan pendapatan
dan keuntungan dari penjualan tembakau.
Dari berita singkat di atas
setidaknya kita bisa mengetahui peta ekonomi batik di wilayah Karesidenan Kedu
(eks Karesidenan Bagelen) di mana beberapa sentra batik disebutkan di Kebumen,
Karanganyar dan Gombong selain Kutoarjo dan Purworejo. Bagaimana dengan situasi
batik Kebumen masa kini?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar