Minggu, 25 Mei 2014

WADUK SEMPOR: JEJAK KEJAYAAN YANG MEREDUP




Waduk Sempor, sekitar 30-an km dari Kota Kebumen dan 7 km dari pusat kota Gombong. Saya bersama istri meluangkan waktu untuk menyambangi bendungan yang dibuat pada era tahun 1970-an itu. Waduk Sempor hanyalah salah satu obyek wisata yang menawarkan eksotisme disamping obyek wisata lainnya yang berada di wilayah Kabupaten Kebumen (1)
 
Setiba di lokasi, saya melihat ekspresi kesedihan istri dan keluhannya mengenai keberadaan Waduk Sempor kini. Dia menceritakan bahwa sekitar 20-an tahun silam saat dia masih tinggal di Klaten dan mengajar di sekolah dasar, pernah mendatangi waduk ini. Namun keadaannya sungguh berbeda sangat jauh. Istri saya kemudian mendeskripsikan perbandingan kondisi waduk beberapa puluh tahun silam dengan kondisi waduk saat ini. 


Dahulu, ramai pengunjung dari berbagai kota, bis dan mobil berderet ramai memadati lokasi wisata Waduk Sempor, banyak penjaja salak dan asesoris laut serta warung-warung yang ramai pembeli. Perahu-perahu wisata hilir mudik dengan ramainya. Monumen-monumen yang tersedia di areal waduk masih dalam keadaan baru dan bersih. Keadaan puluhan tahun itu berubah saat ini menjadi tempat yang menyisakan jejak kejayaan pariwisata yang semakin meredup. Sekalipun masih tetap dikunjungi masyarakat, namun kondisinya sangat sepi. Tidak ada rombongan bis maupun deretan kendaraan yang ramai memadati areal wisata. Pedagang hanya beberapa orang saja, warung-warung hanya tersisa beberapa. 


Minggu, 30 Maret 2014

AKSI DAN INTERAKSI HANTU-HANTU DI TELEVISI:

 

TELAAH KRITIS TERHADAP PROGRAM REALITY SHOW MISTIK DAN MISTERI 

Catatan: 

Kebumen dikunjungi oleh Tim "Mister Tukul Jalan-Jalan" dan hasilnya ditayangkan dalam program siaran televisi reality show berjudul "Mister Tukul Jalan-Jalan" (22,23,29 Maret 2014). Tulisan ini tidak ditujukan untuk menanggapi secara khusus kegiatan syuting di Kebumen namun hendak menyajikan kembali artikel yang pernah penulis muat di blog pribadi (http://teguhhindarto.blogspot.com/2014/03/aksi-dan-interaksi-hantu-hantu-di.html) maupun forum umum (http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2014/03/16/aksi-dan-interaksi-hantu-hantu-di-televisi-641875.html) mengenai kritik konstruktif dibalik berbagai penayangan program televisi khususnya reality show bertemakan mistik dan misteri dengan berlatarbelakangkan tempat-tempat wisata bersejarah. Tempat-tempat bersejarah telah dimanfaatkan menjadi arena membuktikan eksistensi mahluk-mahluk gaib penunggu wilayah melalui proses komodifikasi tempat-tempat angker. Tindakan ini bukan mendekatkan dan mencerdaskan masyarakat untuk mengerti latar belakang dan peranan sebuah wilayah bernilai sejarah namun semakin menjauhkan masyarakat untuk berfikir kritis mengenai lokasi bersejarah di sekitarnya dan lebih peduli terhadap keberadaan mahluk-mahluk gaib penunggu wilayah dan terpesona dengan aktifitas-aktifitas gaib sehingga melanggengkan "Mystic Society" (masyarakat mistik).
 
Pendahuluan

Televisi Indonesia tidak pernah sepi dari berbagai tayangan yang berbau mistik dan misteri lengkap dengan kehadiran fenomena gaib dan gejala hantu. Berbagai tayangan mistik dan misteri tersebut terbagi dalam beberapa bentuk yaitu: film, sinetron, reality show. Sejak tayangan “Kismis” (Kisah-kisah Misteri) di RCTI pada tahun 2003, maka sampai saat ini berbagai tayangan reality show bergenre mistik dan misteri lainnya bermunculan dan tetap menjadi andalan pengelola televisi untuk meningkatkan rating dan meraup perhatian penonton.

Beberapa tayangan reality show berbalut mistik dan misteri dengan melibatkan aktifitas paranormal dan fenomena hantu al., “Gentayangan” (TPI/MNC dengan host Toro Margen), “Dunia Lain” (Trans TV dengan host Harry Pantja), “Silet” (RCTI dengan host Feny Rose), “Pemburu Hantu” (Lativi dengan melibatkan sejumlah ustadz penangkap hantu), “Percaya Ngak Percaya” (ANTV dengan host Leo Lumanto), “Masih Dunia Lain” (Trans 7 dengan host Rudi Kawilarang), “Indigo” (Trans TV dengan host Vira Razak), “Dua Dunia” (Trans 7 dengan host Indah Ananta)[1]. Sebagian dari program-program tersebut telah habis masa tayangnya dan tidak diperpanjang namun sebagian lainnya masih tetap bertahan dengan pergantian judul program atau disiarkan oleh televisi lain. Tahun 2014 ini, stasiun televisi ANTV menayangkan program baru “Angker Banget”.

Trans 7 nampaknya yang paling banyak menampilkan tayangan reality show bergenre mistik dan misteri. Selain dua tayangan andalan “(Masih) Dunia Lain” dan “Dua Dunia”, Trans 7 memiliki program andalan “Mister Tukul Jalan-Jalan” yang dipandu oleh presenter dan komedian Tukul Arwana. Animo masyarakat begitu luar biasa terkait dengan program reality show ini. Hal ini nampak dengan berbondong-bondongnya masyarakat saat syuting dan pengambilan gambar di berbagai tempat yang diyakini mistis dan angker. Hal ini terjadi dikarenakan minat masyarakat yang masih besar terhadap berbagai fenomena mistik dan popularitas Tukul yang menjadi daya pikat dan perekat yang mengokohkan penerimaan masyarakat terhadap program reality show mistik tersebut.

Mengapa Masih Diminati?

Maraknya berbagai tayangan bergenre mistik dan misteri serta fenomena hantu yang menyelusup dalam realitas masyarakat kita melalui film layar lebar, sinetron serta reality show dan tetap diminati masyarakat dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kultur masyarakat. Eksistensi mistik dan misteri masih merupakan kultur yang menonjol dalam realitas sosiologis kemasyarakatan. Istilah lain untuk kultur mistik di atas disebut dengan “Mystic Society”[2]

Rabu, 11 Desember 2013

EKSOTIKA KEBUMEN: MAKSIMALISASI POTENSI GEOWISATA PANTAI MENGANTI


Dalam artikel sebelumnya, Melibatkan Potensi Geografis dan Historis Pada Kurikulum Pendidikan di Kebumen[1],saya menuliskan beberapa lokasi yang memiliki potensi geografis dan historis agar dimasukkan dalam kurikulum lokal pendidikan di Kebumen untuk membangun jati diri. Namun kali ini saya hendak menuliskan opini bahwa beberapa potensi geografis tertentu di wilayah Kabupaten Kebumen untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai wilayah pariwisata.

Pariwisata: Definisi & Potensi Kewisataan Kebumen

Undang-Undang RI No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan di Pasal 1 menjelaskan mengenai Wisata, Wisatawan, Pariwisata sbb:
  1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. .
  2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
  3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan Pemerintah Daerah[2]
Kabupaten Kebumen mempunyai luas wilayah sebesar 128.111,50 ha atau 1.281,11 km² dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan, namun sebagian besar merupakan dataran rendah[3]. Di wilayah-wilayah pantai dan pegunungan inilah terletak berbagai potensi geografis yang sudah dan perlu dikembangkan serta dimaksimalkan menjadi potensi-potensi kewisataan.

Kamis, 05 Desember 2013

NILAI DAN KANDUNGAN BATUAN KARANGSAMBUNG SERTA PROBLEM KEEKONOMIAN PENGRAJIN BATUAN



Saya memiliki kegemaran mengoleksi berbagai cincin atau batu akik. Saat saya hendak mencari emban (penopang batu akik) yang baru, saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa batu-batuan di wilayah Sungai Luk Ulo dan Kebumen pada umumnya tidak bagus untuk dijadikan batu akik. Orang tersebut mengatakan bahwa berbagai batu akik yang dijual di wilayah Kebumen lebih banyak batuan yang berasal dari luar Kebumen, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Pernyataan ini mendorong saya untuk melakukan penelusuran dan pembuktian. Penelusuran dan pembuktian pertama adalah dengan mendatangi LIPI Karangsambung untuk mendapatkan penjelasan obyektif dari sudut pandang keilmuan Geologi dan mewawancarai Bapak Chusni Ansori, MT. Selaku Peneliti Madya. Penelusuran kedua adalah dengan mendatangi salah satu pengrajin di wilayah Sadang (utara LIPI) dan mewawancarai Bapak Supratikno.

Nilai Supranatural dan Nilai Natural Ilmiah

Saat penulis mewawancari Bapak Chusni Ansori, ada sebuah penjelasan yang cukup menarik terkait nilai batuan Karangsambung. Menurutnya, ada dua kelompok pemahaman yang memiliki kesimpulan berbeda terhadap obyek yang sama yaitu batuan Karangsambung. 

Kelompok pertama, adalah mereka yang menekuni dunia supranaturalis berkeyakinan bahwa batuan tertentu yaitu Eklogit dan Amfibolit mengandung daya penyembuh untuk berbagai penyakit. Proses penyembuhan dengan memanfaatkan khasiat bebatuan yang dilambari doa tertentu dan dioleskan kepada tubuh tertentu yang mengalami sakit. Bapak Chusni Ansori menyebut salah satu nama tokoh supranaturalis di wilayah Klirong yang biasa menggunakan media batuan Karangsambung untuk dipergunakan bagi proses terapeutik. Menurut beliau, batuan-batuan yang dikategorikan memiliki kemampuan supranatural tersebut jika ditelaah secara keilmuan Geologi memang termasuk bebatuan yang terbentuk dengan derajat panas dan energi yang besar. Dengan kata lain, ada korelasi ilmiah antara keyakinan supranatural terhadap bebatuan tertentu dikaitkan dengan proses pembentukannya di dalam perut bumi. Menurut Awang Harun Satyana, “Eklogit adalah batuan metamorf regional yang terbentuk pada temperatur dan tekanan tinggi(tekanan > 14 kilobar (> 1,2 Gigapascal), temperatur > 550 C, pada kedalaman > 45 km (lihat diagram fasies metamorfik terlampir). Eklogit dapat merupakan transformasi dari batuan basa/mafik seperti lava basal dan tuf basaltik, atau gabro dalam lingkungan mantel setelah memasuki fasies metamorfik sekis biru atau amfibolit. Tetapi eklogit juga dapat merupakan batuan beku hasil pembekuan magma di kerak bagian bawah atau mantel bagian atas”[1]. Menurut keterangan Bapak Chusni, Eklogit yang mengandung Garnet oleh para supranaturalis diusapkan pada bagian tertentu yang sakit sehingga mengalami kesembuhan. Garnet sendiri bermakna, “Salah satu dari sekelompok batu silikat semi mulia yang berkisar dari warna dari merah ke hijau. Garnet memiliki kekerasan 6-8 dan berat jenis 3,5-4,3”[2].

Selasa, 26 November 2013

BUKAN CANDI TAPI SANGGAR MEDITASI



Saya terkejut saat membaca laporan Kebumen Ekspres beberapa minggu lalu sbb: “Akibat sudah mulai mengalami kerusakkan, candi Wonomarto yang berada di Kelurahan Wonokriyo Kecamanaan Gombong akhirnya dipugar, Rabu (13 November 2013)” (Mulai Rusak, Candi Wonomarto Dipugar, Kebumen Ekspres 15 November 2013). Keterkejutan saya dikarenakan saya pernah menulis artikel dengan judul, “Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi”[1] dimana saya pernah mengulas mengenai satu-satunya artefak kebudayaan sisa peninggalan Agama Hindu Ciwa dalam bentuk Lingga dan Yoni di desa dimana terletak Pesantren Somalangu. Sepengetahuan penulis bahwa keberadaan artefak tersebut hanya berada di desa Sumberadi tidak di tempat lain. Pemberitaan Kebumen Ekspres memunculkan minat penulis untuk mencari tahu kebenaran adanya candi lain selain yang ada di wilayah Sumberadi, Kebumen.

Pada tanggal 26 November 2013, penulis mengadakan penelusuran untuk membuktikan keberadaan candi lainnya di kawasan Kebumen dan sekitarnya. Sampailah penulis di rumah Bapak Adji Tjaroko sebagai pewaris dan pemilik lokasi yang disebut sebagai Candi oleh koran Kebumen Ekspres dalam laporannya. Namun setelah berbincang-bincang cukup lama, sebenarnya apa yang disebut dengan “Candi” sebenarnya lebih tepat disebut dengan “Sanggar Meditasi” sebagaimana pengakuan Bapak Adji Tjaroko. Adapun istilah “Candi” tidaklah tepat karena istilah Candi memiliki karakter khas sebagaimana terkandung dalam definisinya sbb: “Menurut akar katanya (etimologi),istilah Candi diduga berasal dari kata Candika yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian.[2] Keberadaan Candi bersifat multi fungsi. Bisa berfungsi sebagai  tempat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14[3].

Sabtu, 28 September 2013

HILANGNYA ARTEFAK BERSEJARAH DI MUSEUM GAJAH: KELALAIAN SEKURITAS DAN SIMBOLISASI PENGABAIAN NILAI SEJARAH




Harian Kompas melaporkan head line berjudul, “Museum Nasional Dibobol: Empat Koleksi Emas Berumur 1000 tahun Hilang”[1]. Pencurian tersebut terjadi di Museum Gajah yang telah berdiri sejak 1778. Sejumlah benda-benda yang hilang tersebut meliputi:


Lempengan Naga. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan emas berbentuk naga ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.

Lempengan Bulan Sabit. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk lempengan bulan sabit dari emas dan di kedua ujungnya ada empat buah ukiran segitiga lancip. Segitiga ini seakan membentuk cakar. Di lempengan ini ada enkripsi jawa kuno yang sudah samar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.

Cepuk. Sama dengan Lempengan Naga dan Bulan Sabit, artefak ini diperkirakan berusia sejak 10 Masehi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk seperti dandang kecil dengan tutupnya, cepuk ini terbuat dari emas dengan teknik pukul, pembengkokan, dan patri. Permukaannya tidak rata tapi kokoh dan tegak. Ada ukiran yang sudah tipis. Dasarnya agak cembung dengan bibir cepuk tajam dan menghadap ke atas. Tutupnya memiliki pegangan seperti stupa dan berongga. Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter.

Lempengan Harihara. Ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur. Usianya diperkirakan sejak 10 Masehi. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas. Ada relief Harihara yang sedang berdiri di atas teratai ganda. Hirahara digambarkan berkucir ke atas dengan hiasan bunga mekar. Tangan kanan diletakan di atas tangan kiri di depan perut. Di belakang kepalanya ada hiasan sinar dewa dengan lidah api dan titik-titik. Lengannya mengenakan gelang motif bunga dan ada anting bulat. Kain yang dikenakannya sebatas lutut dan mengenakan sampur semacam selendang di kanan kiri.

Berikut foto-foto artefak tersebut[2]

Senin, 05 Agustus 2013

MELIBATKAN POTENSI GEOGRAFIS DAN HISTORIS PADA KURIKULUM PENDIDIKAN DI KEBUMEN




Akhir-akhir ini dunia pendidikan kembali disibukkan dengan kontroversi tentang Kurikulum 2013. Berbicara mengenai kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka selayaknya pelaksanaan kurikulum pendidikan tidak hanya mengacu pada pola kebijakan kurikulum pemerintah pusat melainkan harus melibatkan pada pengenalan wilayah di mana para siswa didik bersekolah. Pola tersebut dinamakan kurikulum muatan lokal (mulok). Gubernur Kalimantang Tengah, A. Teras Narang SH., dalam Seminar Pendidikan Transformatif: Menganggkat Nilai-nilai Kearifan Lokal Dalam Menyikapi Arus Globalisasi di Universitas Kristen Indonesia (UKI) bulan September 2012 lalu mengatakan bahwa kurikulum muatan lokal (mulok) adalah kurikulum pendidikan yang berbasiskan berbagai potensi daerah, ciri khas daerah dan keungulan daerah yang selanjutnya disebut kearifan lokal (local wisdom" (Kurikulum Mulok Dibutuhkan Masyarakat,shnews.co).

Kabupaten Kebumen memiliki  potensi geografis dan potensi historis yang dapat dijadikan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Atas sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal yang turut menyeimbangkan dengan kurikulum nasional. Kita akan mengkaji secara singkat potensi geografis dan potensi historis Kebumen.