Senin, 14 Maret 2016

BEBERAPA PEMIKIRAN PERIHAL KEWISATAAN DI KEBUMEN



Dalam acara Penyampaian Program Unggulan Bupati dan Wakil Bupati Bagi Para Pelaku Wisata di Kabupaten Kebumen yang dilaksanakan di Pendopo Bupati pada tanggal 10 Maret 2016 lalu pemerintahan daerah di bawah kepemimpinan Bapak H.M. Yahya Fuad bertekad untuk memfokuskan pada pembangunan kewisataan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan tentunya meningkatkan pendapatan daerah pula.

Menurut data, selama tahun 2015, pendapatan obyek wisata (Obwis) di Kabupaten Kebumen mencapai Rp. 5.653.204.994 atau 88,16% dari yang ditargetkan, yakni sebesar Rp 6.412.700.000. Dengan jumlah pengunjung mencapai tak kurang dari 1 juta orang. Data Disparbud Kabupaten Kebumen menunjukan pendapatan tertinggi berasal dari Obwis Gua Jatijajar sebanyak Rp. 2.292.678.320, kemudian disusul Pantai Suwuk yang mencapai Rp. 1.770.808.800. Selanjutnya pantai Logending menyumbang pendapatan Rp 594.446.500 serta Pantai Petanahan Rp. 318.234.200.http://www.kabupatenreport.com/pendapatan-obyek-wisata-kabupaten-kebumen-2015-capai-rp-56-milyar/). Dari data tersebut kita mendapati fakta bahwa hanya obyek-obyek wisata lama yang memberikan sumbangsih bagi PAD sementara jika ditelaah, Kebumen ternyata memiliki sejumlah destinasi wisata baru yang dikembangkan oleh beberapa komunitas masyarakat namun belum memberikan dampak secara signifikan bagi PAD.

Rabu, 17 Februari 2016

KARST GOMBONG

nasional.tempo.com


Antara Investasi dan Kelestarian Lingkungan Serta Dampak Sosial

Dengan keberadaan Otonomi Daerah yang diatur dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014 maka daerah memiliki kewenangan yang lebih besar untuk melakukan pembangunan di daerah dengan memaksimalkan potensi-potensi di daerah baik potensi sumber daya alam, potensi wisata bahkan potensi investasi dengan mengundang investor masuk untuk menanamkan investasinya dan tidak hanya mengandalkan pendapatan dari sektor pajak dan restribusi belaka sesuai amaran dalam UU No 23 Tahun 2014 Bab XI Pasal 285.

Secara makro ekonomi, investasi diperlukan karena dapat menimbulkan sejumlah keuntungan al., meningkatkan pendapatan asli daerah, membuka lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat. Terkait dengan rencana pendirian Pabrik Semen Gombong di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan yang masih menimbulkan kontroversi dan penolakkan dari sejumlah elemen masyarakat khususnyadari Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Pepag), merupakan bagian dari proses investasi di daerah.

Senin, 25 Januari 2016

REVITALISASI NILAI POLITIS DAN EDUKATIF SENI TRADISI KETOPRAK BERBASIS KARAKTER BANYUMAS




Ketoprak Sebagai Seni Tradisi

Kesenian tradisional atau seni tradisi bisa didefinisikan sebagai bentuk kesenian yang lahir dan tumbuh dalam konteks wilayah tertentu yang diteruskan dari satu periode ke periode berikutnya. Setiap wilayah di Nusantara memiliki seni tradisinya masing-masing, baik yang lahir sejak periode pra kolonial maupun di era kolonial serta paska kolonial.

Ketoprak, merupakan salah satu seni tradisi yang berkembang di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dan berkategori teater rakyat yang memiliki karakteristik narasi bertemakan sejarah klasik (raja-raja), legenda (tokoh maupun asal usul sebuah wilayah), dongeng dan dimainkan oleh sejumlah pemain dengan menggunakan bahasa Jawa mulai dari ngoko hingga kromo inggil dengan diselingi canda dan sindiran. Istilah ketoprak sendiri diyakini berasal dari bunyi alat musik lesung yang menghasilkan bunyi “dung”, “dung”, “prak”, “prak”. 

Minggu, 17 Januari 2016

NEGARA TANPA SEJARAWAN?


Lazim dalam percakapan umum terlontar nada merendahkan jika seorang siswa SMU hendak melanjutkan pada studi sejarah di perguruan tinggi dengan mengatakan, “mau kerja apa jika ambil ilmu sejarah?” Bahkan tidak jarang beberapa pendidik melontarkan kata dan kalimat yang melemahkan hasrat dan keinginan seorang siswa mendalami dan mempelajari ilmu sejarah. Mengapa ilmu sejarah kurang diapresiasi baik oleh segolongan pendidik maupun peserta didik? Alasan klasik yang kerap dikatakan biasanya, “ah, ilmu sejarah membosankan karena harus menghafal kisah dan tahun peristiwa bersejarah”. 

Selasa, 05 Januari 2016

TIDAK ADA PERADABAN KABALISTIK DI KEBUMEN!


Tanggapan Terhadap Artikel, “Temuan Peradaban Kabalistik di Kebumen”
 
Saat membaca judul dan memahami isi artikel Sdr. Ravie Ananda, saya benar-benar diherankan dengan sebuah istilah yang aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun yaitu “peradaban Kabalistik di Kebumen”. Mengapa saya katakan aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun? Pertama, penggunaan istilah peradaban yang dihubungkan dengan nama Kebumen terlalu berlebihan karena tidak pernah ada peradaban Kebumen selain peradaban Jawa dimana Kebumen adalah bagian dari Jawa. 

Rabu, 30 Desember 2015

DAYA TARIK GOMBONG BAGI ETNIS TIONGHOA DI ERA KOLONIAL




Jika kita memperhatikan dengan seksama wilayah Gombong, maka didapati sejumlah bangunan khas etnis Tionghoa klasik yang masih bertahan hingga kini di sejumlah ruas jalan. Sebut saja yang terkenal dan kini dijadikan museum sekaligus kegiatan kebudayaan yaitu Rumah Martha Tilaar (RMT) yang bercorak the Dutch Colonial. Rumah ini didirikan tahun 1920 milik Liem Siaw Lan putra kedua Liem Kiem Seng/Song, seorang Tionghoa yang datang dari Desa Jinli, Kota Haichang, Xianmen, China. Kemudian gedung khas Tionghoa yang berdiri di tepi perhentian lampu merah menuju Sempor. Menurut informasi dahulunya adalah pabrik rokok dengan nama Nusa Harapan. Sayang kondisinya tidak terawat hingga hari ini sekalipun kondisi gedung masih nampak utuh jika dipandang dari luar.

Yang menarik dalam presentasi yang disampaikan Sigit Tri Wibowo selaku Deputi Program Rumah Budaya Martha Tilaar pada pertemuan Pegupon Kopong (Pertemuan Minggu Pon Komunitas Pusaka Gombong) Tanggal 20 Desember 2015 lalu perihal perkembangan lembaga-lembaga pendidikan di Gombong pada zaman kolonial, ternyata ditemukan beberapa sekolah yang didirikan untuk etnis Tionghoa yaitu Holland Chinese School yang didirikan oleh pemerintah Belanda (berlokasi di Jl. Sempor Lama 28) dan Zong Hua Xue Xiao yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) (berlokasi di Jl. Sempor Lama 2) selain sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda, badan Misi Kristen, serta masyarakat seperti Neutrale Lagere School, Twede School, Pupilen School, Kartini School, Christelijke Holands Hollands Javanse, Schaalkel School, Europeesche Lagere  School (Kebumen Ekspres, 22 Desember 2015).

Kamis, 24 Desember 2015

APAKAH KIAI SADRACH SEORANG PEMIMPIN KRISTEN ABANGAN?

 
 
Tanggapan Artikel Hendri F. Isnaeni, “Kristen Abangan Ala Sadrach”


Sekalipun diberi judul “Kristen Abangan Ala Sadrach” namun Hendri F. Isnaeni tidak memberikan definisi dan alasan mengapa Sadrcah disebut sebagai “Kristen Abangan”. Namun dari pendahuluan artikelnya saya dapat meraba maksud pernyataan penulis yaitu, “Para pekabar Injil Belanda kelabakan mencari jalan bagaimana agar orang-orang Jawa menjadi Kristen yang sungguh-sungguh. Masyarakat Jawa tak ingin tercerabut dari akar budayanya yang telah dipegang teguh jauh sebelum Kristen datang. Lain halnya dengan para pekabar Injil awam Indo-Eropa yang memperhatikan budaya lokal. Maka muncullah jemaat bumiputera berpenampilan Jawa. Mereka disebut “jemaat Sadrach” karena pemimpinnya adalah penginjil Jawa kharismatik, Sadrach Surapranata”(http://historia.id/agama/kristen-abangan-ala-sadrach). 

Dari pemaparan awal saya berusaha meraba maksud penulisan judul tersebut bahwa ada dikotomi jenis Kekristenan yang pernah berjaya di era kolonial dan berpusat di Karangyoso (Kutoarjo, 40 menit perjalanan dari kota saya tinggal, Kebumen) yaitu “Kekristenan Belanda” dan “Kekristenan Jawa” dan model Kekristenan Jawa yang diusung Sadrach ini dilabelisasi dengan istilah “Abangan”. Benarkah Kiai Sadrach adalah seorang pemimpin Kristen Abangan? Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita melakukan pelacakkan terlebih dahulu asal usul kata “Abangan” tersebut.

Melacak Makna Istilah “Abangan”

Istilah “Abangan” biasanya menujuk pada sebuah golongan dalam masyarakat Jawa atau lebih luas dari itu yang mempraktekkan keislaman namun tidak secara menyeluruh sebagaimana didefinisikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sbb: “1.Abang-an Jw n. golongan masyarakat yg menganut agama Islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan”(http://kbbi.co.id/arti-kata/abangan). Namun istilah “Abangan” menjadi populer sejak Clifford Geertz (lahir 1926) menerbitkan bukunya pada tahun 1960 dengan judul “The Religion of Java” (di Indonesia diterjemahkan “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”, terj. Aswab Mahasin,  Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 1981). Clifford Geertz dilahirkan di San Francisco, California, Amerika Serikat pada tanggal 23 Agustus 1926. Dia merupakan ahli antropologi budaya yang beberapa kali melakukan penelitian lapangan di Indonesia dan Maroko. Dia menulis esai tentang ilmu-ilmu sosial serta merupakan pelopor pendekatan “interpretif” dalam bidang antropologi. 

Clifford Geertz  pernah mengajar di Universitas Chicago, sebagai profesor antropologi dan kajian perbandingan negara-negara baru. Ia juga pernah mengajar sebagai profesor tamu di Universitas Oxford, dan sejak 1975 hingga pensiun pada tahun 2000 (Biography of Clifford Geertz - http://www.researchover.com/biographies/Clifford_Geertz-28238.html).