Senin, 20 April 2015

KARTU TANDA PENDUDUK DI GOMBONG TAHUN 1960

Kontroversi seputar pengisian kolom agama sudah bergeser, yang semula diperbolehkan mengosongkan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP), jika menganut kepercayaan selain Islam, Kristen, Hindu, Budha maka di tahun 2014 sempat mengemuka wacana untuk membuang kolom agama sama sekali. Nampaknya wacana tersebut masih akan menuai reaksi di masyarakat antara mereka yang pro dan kontra.

Namun secara historis, pencantuman kolom agama tidak memiliki pijakkan sama sekali karena sejak zaman pra kemerdekaan dan paska kemerdekaan, kolom agama tidak pernah disertakan dalam Kartu Tanda Penduduk. Bahkan dalam Kartu Tanda Penduduk dari periode Tahun 1960-an di Gombong pun tidak ada pencantuman kolom agama sebagaimana KTP an Winoto penduduk Semanding berikut ini:




Lantas sejak kapan kemunculan kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk muncul? Secara historis, kemunculan kolom agama adalah bagian dari bentuk "politik agama" yang digulirkan rezim Orde Baru untuk mengantisipasi dan mencegah berkembangnya paham komunisme paska penumpasan politik yang dilakukan pada tahun 1965. Todung Mulya Lubis mengatakan terkait fakta sejarah ini, "Pada 1965, melalui UU No I/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan Penodaan Agama, disebutkan dalam penjelasannya bahwa agama yang dipeluk penduduk Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Tak salah apabila orang menafsirkan adanya pengakuan negara terhadap agama tertentu ini dipicu juga oleh ketakutan atas bahaya komunisme yang dianggap tidak beragama" (Kolom Agama Dalam Perspektif HAM, Kompas, 27 November 2014).

Senin, 19 Januari 2015

NARASI KONSPIRASI DALAM SASTRA LOKAL KEBUMEN



 
RESENSI DAN NOTASI NOVEL "SILANG SELIMPAT"

Penulis:

Kang Juki 

Penerbit:

Majelis Kajian Peradaban dan Budaya (MASJIDRAYA)

Tahun:

2015

Tebal:

267

Novel setebal 267 halaman dengan judul Silang Selimpat karya Achmad Marzoeki yang akrab dipanggil Kang Juki melalui dua novel yang telah dihasilkannya (novel pertama berjudul, Pil Anti Bohong), merupakan kisah yang ditulis dengan konteks lokal yaitu wilayah Kabupaten Kebumen, dimana sang penulis novel berasal dan tinggal di dalamnya.

Karya Kang Juki merupakan novel lokal pertama yang mengulas persoalan topik berlatarbelakangkan konspirasi (persekongkolan) dengan mengambil seeting wilayah Kebumen. Setelah sebelumnya saya melakukan resensi dan catatan kritis terhadap novel bertema konspirasi karya Rizky Ridyasmara dengan judul The Jacatra Secret[1] dan novel karya Ridwan Saidi yang berjudul Anak Betawi Diburu Intel Yahudi[2], maka kali ini saya tertarik untuk memberikan resensi dan catatan kritis pada novel lokal ini.

Judul Silang Selimpat mengekspresikan sebuah istilah mengenai kerumitan sebuah persoalan yang dialami Fajar Shodiq tokoh utama dalam novel ini, “Begitu rumitnya asal usul dan peredaran foto ini, sudah menyilang masih menyelimpat pula” (hal 135). Foto? Foto apakah yang dimaksudkan sehingga menimbulkan silang selimpat dalam novel ini?

Kisah dimulai dengan sebuah persekongkolan untuk menjatuhkan nama baik dan reputasi kinerja Bupati Fazar Shadiq yang bertekad menciptakan kultur clean government (pemerintahan yang bersih) dan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik). Tempat kejadian perkara penjatuhan nama baik Bupati didesain di desa Condong Campur dengan skenario Bupati Fazar Shadiq didapati sedang tidur di samping istri Nurbowo, Kades Condong Campur (hal 7-8). Adapun mengapa Fazar Shodiq bisa ada di desa tersebut dikarenakan kebiasaannya tiap hari sabtu mengunjungi dan menginap di sejumlah desa untuk meninjau desa-desa di wilayah pemerintahannya. Bertepatan di desa Condong Campur dilaksanakan kegiatan Perkampungan Kerja Pelajar (PKP) yang diselenggarakan oleh Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat Fazar Shadiq terbangun di pagi hari untuk menjalankan sholat shubuh sebagaimana kebiasaannya, betapa terkejut dirinya mendapati sedang berada di tempat yang tidak sebagaimana mestinya dia temui saat bangun, bahkan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya.

Dikarenakan latar belakang keorganisasian yang pernah digelutinya yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII) dimana di dalam keorganisasian tersebut Fazar Shadiq mendapatkan pelatihan intelejen khususnya di Brigade PII, maka kepanikkannya berhasil dikendalikan dan dia menggunakan kamera hand phone-nya untuk memfoto beberapa tempat tertentu di rumah Kades Condong Campur untuk kepentingan penyelidikan dan dipergunakan sebagai data-data yang dapat meloloskan dirinya dari perangkap yang mencemarkan nama dirinya.

Selasa, 02 Desember 2014

APAKAH IDEOLOGI PANCASILA PRODUK FREEMASONRY?


Dalam sebuah artikel berjudul, “Pendidikan Pancasila, Freemasonry dan Pergolakkan Umat Islam: Rancunya Pelajaran PPKN” penulis tanpa nama menuangkan kesimpulannya mengenai hubungan Pancasila dengan Freemasonry sbb, “Banyak fakta lain yang sebenarnya masih banyak terkubur tentang kaitan Pancasila, Pendidikan Pancasila dan Freemason. Sudah selayaknya Umat Muslim waspada dan berfikir ulang mencari persamaan antara Pancasila dengan Islam, karena dengan berbagati data yang ada, Pancasila lebih dekat dengan Freemason dan berbagai ajaran agama bathil lainnya. Inilah ideology yang kita bangga-banggakan itu. Allahua'lam[1]. Pandangan-pandangan negatif dan berburuk sangka semacam itu bertebaran dalam sejumlah buku-buku Keislaman yang anti dengan nilai-nilai Demokrasi dan Pancasila.

Kita akan mengurai secara singkat mengenai sejarah lahirnya Pancasila dan membuktikan validitas dugaan subyektif di atas. Kajian ini dituliskan agar kita memahami sejarah nasionalisme yang dibangun oleh para bapak pendiri bangsa yang beraneka ragam agama, suku bahasanya dan agar kita tidak melakukan pengkhianatan dan pengingkaran atas sejarah tersebut dengan membuat analisis dan tudingan yang mengecilkan apa yang pernah dirumuskan oleh para pendiri bangsa demi terciptanya kesatuan dan nasionalisme Indonesia.

INTERNALISASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA




Saat pidato pada Hari Jadi Pancasila 1 Juni 2011 lalu, mantan Presiden R.I. kedua, B.J. Habibie dengan berapi-api mengatakan, “Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan  relevansinya   di   tengah  menguatnya   paham  radikalisme,   fanatisme   kelompok   dan kekerasan  yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi  terus    dikonsolidasikan,     sikap    intoleransi    dan     kecenderungan        mempergunakan        kekerasan      dalam  menyelesaikan  perbedaan,  apalagi mengatasnamakan  agama,  menjadi  kontraproduktif  bagi  perjalanan bangsa  yang  multikultural  ini.  Fenomena  fanatisme  kelompok, penolakan terhadap  kemajemukan  dan  tindakan  teror  kekerasan  tersebut menunjukkan  bahwa  obsesi  membangun  budaya  demokrasi  yang  beradab,  etis  dan eksotis  serta  menjunjung  tinggi  keberagaman  dan menghargai  perbedaan  masih  jauh  dari kenyataan" (1)

Keprihatinan mantan Presiden tersebut merupakan keprihatinan kita bersama. Betapa saat ini, Pancasila sebagai buah pemikiran luhur Presiden Soekarno yang telah mempersatukan berbagai perbedaan agama, suku, ras, budaya Indonesia dan diterima sebagai konsensus bersama sebagai dasar negara oleh para bapak pendiri bangsa, saat ini semakin menjauh dari ingatan warga negara Indonesia dan mulai dikhianati dengan berbagai tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama, korupsi yang tidak juga berhenti, tidak menghormati keputusan hukum, berbagai tindakan amuk massa dan anarkisme yang merajalela.


Kamis, 23 Oktober 2014

TARI CEPETAN: DARI PERLAWANAN MENJADI SENI TARI






Kesenian tidak bisa dilepaskan dari Kebudayaan. Kebudayaan didefinisikan oleh Edward B. Taylor sebagai, “Kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan serta lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”[1]. C. Kluckhon dalam bukunya, Universal Categories of Culture menyebutkan adanya tujuh unsur kebudayaan secara universal sbb: sistem pengetahuian, sistem organisasi,, sistem sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, bahasa serta kesenian[2]. Jika disederhanakan, kebudayaan memiliki tiga wujud sebagaimana dijelaskan Koentjaraningrat yaitu: Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebaginya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai kompleks aktifitas serta berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia[3]. Seni dan kesenian adalah salah satu “unsur kebudayaan” (istilah C. Kluckhon) atau “wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia” (istilah Koentjaraningrat).

Cepetan adalah seni yang lahir dan tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Kebumen. Kebumen memiliki karakteristik kebudayaan yang cukup unik dikarenakan menjadi “wilayah jepitan dua kebudayaan yaitu Banyumas dan Bagelen” (istilah Mustolih Brs, pengajar di STAINU). Budaya Bagelen dekat dengan Purworejo yang mencirikan sifat kesantunan dengan bahasa yang “mbhandek” dikarenakan dekat dengan wilayah Keraton Yogyakarta yang penuh dengan simbol-simbol dan adab keraton. Sementara Budaya Banyumasan kental dengan sifat merakyat yang kental dengan budaya pertanian, komunikasi yang spontan bahkan cenderung tidak berbasa-basi.

Kebumen sebagai sub kultur dua kebudayaan mapan sebelumnya yaitu Banyumas dan Bagelen, menghasilkan keunikkan dalam logat berbahasa antara timur sungai Luk Ulo dan barat sungai Luk Ulo. Selengkapnya Mustolih mendeskripsikan: 

“Dari logat bahasanya, Kebumen terbagi dua. Sebelah timur aliran sungai Luk Ulo berbahasa dengan didominasi vokal ''o'', dan mbandek (poko'e). Sementara di sebelah barat aliran sungai Luk Ulo didominasi vokal ''a'' dan ''k'' medok, (pokoke). Sedangkan, di antara aliran sungai Luk Ulo dan aliran Sungai Kedungbener bahasanya campur bawur, ada yang memakai poko'e, ada yang memakai pokoke. Sedangkan sebelah utara Gunung Krakal masyarakat lebih fasih berbicara dengan logat Wonosoboan dengan memanjangkan fonem akhir. Kebiasaan dan adat istiadat di Kebumen juga beragam, penduduk yang tinggal di sebelah barat sungai Luk Ulo lebih suka nanggap calung, dan eblek, sedangkan penduduk yang tinggal di sebelah timur sungai Luk Ulo lebih suka nanggap wayang kulit atau ndolalak untuk acara resepsi. Orang Kebumen yang tinggal di sebelah timur aliran sungai Luk Ulo disebut wong wetan kali, di antaranya Kecamatan Kutowinangun, Ambal, dan Mirit. Mereka lebih terkesan mriyayi sedang di Kecamatan Padureso, Poncowarno dan Alian lebih kental dengan logat Wonosoboan. Sebaliknya, orang Kebumen yang tinggal di sebelah barat aliran Sungai Luk Ulo disebut wong kulon kali, di antaranya Kecamatan Pejagoan, Klirong, Sruweng, Petanahan, Kuwarasan, Gombong, yang lebih terkesan merakyat, meskipun tidak seluruhnya”[4]
Keunikkan kebudayaan Kebumen sebagai sub kultur Banyumas dan Bagelen akan menghasilkan keunikkan dan karakteristik tertentu pada seni dan kesenian khususnya Cepetan yang berkembang di wilayah utara namun sekaligus telah masuk wilayah “Kulon Kali” yang mengekspresikan kebudayaan Banyumas yang bersifat kerakyatan. Kentalnya budaya kerakyatan sebagai ciri budaya Banyumas diulas oleh Yus Wong Banyumas dalam artikelnya, “Spirit Pengiyongan Dalam Pergulatan Dua Kutub Budaya” sbb:

WAWANCARA KEBUDAYAAN MENGENAI TARI CEPETAN BERSAMA BPK PEKIK SAT SISWONIRMOLO (Ketua I Dewan Kesenian Daerah Kebumen)





Seni tradisional Cepetan belakangan ini kerap tampil dalam berbagai event di Kebumen. Belum lama ini, seni Cepetan ditampilkan di Alun-Alun Kebumen saat momentum Car Free Day dalam rangka memeriahkan Gempita Borobudur, tanggal 19 Oktober lalu[1]. Apa dan bagaimanakah seni Cepetan tersebut? Kita akan mengenal lebih dekat seni melalui wawancara kebudayaan bersama Bpk Pekik Sat Siswonirmolo yang merupakan pendidik di SMP 2 Kutowinangun dan sekaligus Ketua I Dewan Kesenian Daerah, Kebumen.

Tanya: Sejak kapan seni Cepetan di kenal di Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo: Cepetan berkembang di wilayah utara Kebumen khususnya Karanggayam sejak Abad XIX di kawasan onderneming (perkebunan luas yang dikuasai Hindia Belanda). Sebagai bentuk perlawanan non fisik, rakyat di Karanggayam membuat topeng terbuat dari kayu pule yang mudah dibentuk. Topeng tersebut dibentuk menjadi sosok yang menakutkan dengan disertai ijug sebagai rambut. Mulanya topeng-topeng tersebut dipergunakan untuk menakut-nakuti pemilik onderneming sehingga mereka tidak kerasan berada di sana dan menyebutnya sebagai wilayah angker. Diharapkan dengan rasa takut tersebut mereka meninggalkan wilayah onderneming tersebut. Pembuatan topeng sendiri bukan sekedar mengukir namun melibatkan ritual tertentu dan jenis kayu tertentu di wilayah tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis.

Tanya: Atas dasar apa klaim bahwa seni Cepetan adalah asli Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo: Bukan terletak pada tariannya melainkan pada bentuk topeng yang berbeda dengan jenis topeng dari daerah lain. Wujud topeng yang dilukis dengan ala kadarnya tidak seperti topeng panji yang lebih menyiratkan kebudayaan priyayi atau keraton dan bentuk pembuatan yang bersifat kasar menjadi pembuktian bahwa topeng Cepetan dan kesenian ini merupakan bentuk kebudayaan asli Kebumen.

Tanya: Begini Pak Pekik, Saya pernah membaca data dari Dinas Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Kebumen Tahun 2012 bahwa dari 10 jenis kesenian, tidak ada satupun produk kesenian yang diklaim sebagai kesenian asli Kebumen (Jemblung, Menthiet, Cepetan) masuk dalam daftar kesenian asli. Sebaliknya justru hanya jenis kesenian umum saja yang didaftarkan spt Kuda Lumping, Wayang kulit, Lengger, Rebana dll. Bukankah seni Cepetan adalah asli produk kebudayaan Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo (sambil terkaget): Wah, betul itu. Kenapa bisa tidak terdaftar ya? Ini bisa menjadi bahan masukan bagi pejabat yang mengelola hal tersebut.

Tanya: Apakah ada pengaruh luar Kebumen dalam seni Cepetan?

Di desa-desa di wilayah Karanggayam khususnya Kajoran, Karangjoho topeng Cepetan dikembangkan menjadi seni tari tradisional yang diiringi dengan suara kenthongan dan kaleng. Pada zaman itu disebut dengan kesenian “Dangsak” atau “Tongbreng”. Kegiatan Cepetan sendiri pada zaman tersebut belum menjadi seni yang ditanggap secara khusus seperti wayang atau jenis tarian lainnya melainkan sebagai penyerta pada perayaan-perayaan rakyat atau arak-arakkan seperti “merti desa” (bersih desa). Dalam berbagai tampilan seni Cepetan tidak bisa dilepaskan dari pelibatan aspek magis yang dimasukkan dalam diri para penari sehingga menimbulkan situasi “trance” (ketidaksadaran atau dikuasai eksistensi lain). Fenomena ini menjadi daya tarik dan pemikat bagi para penonton untuk menonton seni Cepetan karena dalam kondisi “trance” banyak hal-hal yang dilakukan oleh penari yang di luar kemampuan manusia normal.

Perkembangan modern menjadikan Cepetan sebagai seni tari yang mengadopsi banyak elemen baik musik (gamelan, simbal, bedhug, saron) maupun gerak tari (tari Wasono dll) dan tidak harus melibatkan aspek magis di dalamnya. Jika dahulu pelaksanaan tari Cepetan hanya bertelanjang dada, maka sekarang mengunakan kostum-kostum yang menarik dan beraneka warna.

Minggu, 25 Mei 2014

WADUK SEMPOR: JEJAK KEJAYAAN YANG MEREDUP




Waduk Sempor, sekitar 30-an km dari Kota Kebumen dan 7 km dari pusat kota Gombong. Saya bersama istri meluangkan waktu untuk menyambangi bendungan yang dibuat pada era tahun 1970-an itu. Waduk Sempor hanyalah salah satu obyek wisata yang menawarkan eksotisme disamping obyek wisata lainnya yang berada di wilayah Kabupaten Kebumen (1)
 
Setiba di lokasi, saya melihat ekspresi kesedihan istri dan keluhannya mengenai keberadaan Waduk Sempor kini. Dia menceritakan bahwa sekitar 20-an tahun silam saat dia masih tinggal di Klaten dan mengajar di sekolah dasar, pernah mendatangi waduk ini. Namun keadaannya sungguh berbeda sangat jauh. Istri saya kemudian mendeskripsikan perbandingan kondisi waduk beberapa puluh tahun silam dengan kondisi waduk saat ini. 


Dahulu, ramai pengunjung dari berbagai kota, bis dan mobil berderet ramai memadati lokasi wisata Waduk Sempor, banyak penjaja salak dan asesoris laut serta warung-warung yang ramai pembeli. Perahu-perahu wisata hilir mudik dengan ramainya. Monumen-monumen yang tersedia di areal waduk masih dalam keadaan baru dan bersih. Keadaan puluhan tahun itu berubah saat ini menjadi tempat yang menyisakan jejak kejayaan pariwisata yang semakin meredup. Sekalipun masih tetap dikunjungi masyarakat, namun kondisinya sangat sepi. Tidak ada rombongan bis maupun deretan kendaraan yang ramai memadati areal wisata. Pedagang hanya beberapa orang saja, warung-warung hanya tersisa beberapa.