Kamis, 23 Oktober 2014

TARI CEPETAN: DARI PERLAWANAN MENJADI SENI TARI






Kesenian tidak bisa dilepaskan dari Kebudayaan. Kebudayaan didefinisikan oleh Edward B. Taylor sebagai, “Kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan serta lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”[1]. C. Kluckhon dalam bukunya, Universal Categories of Culture menyebutkan adanya tujuh unsur kebudayaan secara universal sbb: sistem pengetahuian, sistem organisasi,, sistem sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, bahasa serta kesenian[2]. Jika disederhanakan, kebudayaan memiliki tiga wujud sebagaimana dijelaskan Koentjaraningrat yaitu: Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebaginya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai kompleks aktifitas serta berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia[3]. Seni dan kesenian adalah salah satu “unsur kebudayaan” (istilah C. Kluckhon) atau “wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia” (istilah Koentjaraningrat).

Cepetan adalah seni yang lahir dan tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Kebumen. Kebumen memiliki karakteristik kebudayaan yang cukup unik dikarenakan menjadi “wilayah jepitan dua kebudayaan yaitu Banyumas dan Bagelen” (istilah Mustolih Brs, pengajar di STAINU). Budaya Bagelen dekat dengan Purworejo yang mencirikan sifat kesantunan dengan bahasa yang “mbhandek” dikarenakan dekat dengan wilayah Keraton Yogyakarta yang penuh dengan simbol-simbol dan adab keraton. Sementara Budaya Banyumasan kental dengan sifat merakyat yang kental dengan budaya pertanian, komunikasi yang spontan bahkan cenderung tidak berbasa-basi.

Kebumen sebagai sub kultur dua kebudayaan mapan sebelumnya yaitu Banyumas dan Bagelen, menghasilkan keunikkan dalam logat berbahasa antara timur sungai Luk Ulo dan barat sungai Luk Ulo. Selengkapnya Mustolih mendeskripsikan: 

“Dari logat bahasanya, Kebumen terbagi dua. Sebelah timur aliran sungai Luk Ulo berbahasa dengan didominasi vokal ''o'', dan mbandek (poko'e). Sementara di sebelah barat aliran sungai Luk Ulo didominasi vokal ''a'' dan ''k'' medok, (pokoke). Sedangkan, di antara aliran sungai Luk Ulo dan aliran Sungai Kedungbener bahasanya campur bawur, ada yang memakai poko'e, ada yang memakai pokoke. Sedangkan sebelah utara Gunung Krakal masyarakat lebih fasih berbicara dengan logat Wonosoboan dengan memanjangkan fonem akhir. Kebiasaan dan adat istiadat di Kebumen juga beragam, penduduk yang tinggal di sebelah barat sungai Luk Ulo lebih suka nanggap calung, dan eblek, sedangkan penduduk yang tinggal di sebelah timur sungai Luk Ulo lebih suka nanggap wayang kulit atau ndolalak untuk acara resepsi. Orang Kebumen yang tinggal di sebelah timur aliran sungai Luk Ulo disebut wong wetan kali, di antaranya Kecamatan Kutowinangun, Ambal, dan Mirit. Mereka lebih terkesan mriyayi sedang di Kecamatan Padureso, Poncowarno dan Alian lebih kental dengan logat Wonosoboan. Sebaliknya, orang Kebumen yang tinggal di sebelah barat aliran Sungai Luk Ulo disebut wong kulon kali, di antaranya Kecamatan Pejagoan, Klirong, Sruweng, Petanahan, Kuwarasan, Gombong, yang lebih terkesan merakyat, meskipun tidak seluruhnya”[4]
Keunikkan kebudayaan Kebumen sebagai sub kultur Banyumas dan Bagelen akan menghasilkan keunikkan dan karakteristik tertentu pada seni dan kesenian khususnya Cepetan yang berkembang di wilayah utara namun sekaligus telah masuk wilayah “Kulon Kali” yang mengekspresikan kebudayaan Banyumas yang bersifat kerakyatan. Kentalnya budaya kerakyatan sebagai ciri budaya Banyumas diulas oleh Yus Wong Banyumas dalam artikelnya, “Spirit Pengiyongan Dalam Pergulatan Dua Kutub Budaya” sbb:

WAWANCARA KEBUDAYAAN MENGENAI TARI CEPETAN BERSAMA BPK PEKIK SAT SISWONIRMOLO (Ketua I Dewan Kesenian Daerah Kebumen)





Seni tradisional Cepetan belakangan ini kerap tampil dalam berbagai event di Kebumen. Belum lama ini, seni Cepetan ditampilkan di Alun-Alun Kebumen saat momentum Car Free Day dalam rangka memeriahkan Gempita Borobudur, tanggal 19 Oktober lalu[1]. Apa dan bagaimanakah seni Cepetan tersebut? Kita akan mengenal lebih dekat seni melalui wawancara kebudayaan bersama Bpk Pekik Sat Siswonirmolo yang merupakan pendidik di SMP 2 Kutowinangun dan sekaligus Ketua I Dewan Kesenian Daerah, Kebumen.

Tanya: Sejak kapan seni Cepetan di kenal di Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo: Cepetan berkembang di wilayah utara Kebumen khususnya Karanggayam sejak Abad XIX di kawasan onderneming (perkebunan luas yang dikuasai Hindia Belanda). Sebagai bentuk perlawanan non fisik, rakyat di Karanggayam membuat topeng terbuat dari kayu pule yang mudah dibentuk. Topeng tersebut dibentuk menjadi sosok yang menakutkan dengan disertai ijug sebagai rambut. Mulanya topeng-topeng tersebut dipergunakan untuk menakut-nakuti pemilik onderneming sehingga mereka tidak kerasan berada di sana dan menyebutnya sebagai wilayah angker. Diharapkan dengan rasa takut tersebut mereka meninggalkan wilayah onderneming tersebut. Pembuatan topeng sendiri bukan sekedar mengukir namun melibatkan ritual tertentu dan jenis kayu tertentu di wilayah tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis.

Tanya: Atas dasar apa klaim bahwa seni Cepetan adalah asli Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo: Bukan terletak pada tariannya melainkan pada bentuk topeng yang berbeda dengan jenis topeng dari daerah lain. Wujud topeng yang dilukis dengan ala kadarnya tidak seperti topeng panji yang lebih menyiratkan kebudayaan priyayi atau keraton dan bentuk pembuatan yang bersifat kasar menjadi pembuktian bahwa topeng Cepetan dan kesenian ini merupakan bentuk kebudayaan asli Kebumen.

Tanya: Begini Pak Pekik, Saya pernah membaca data dari Dinas Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Kebumen Tahun 2012 bahwa dari 10 jenis kesenian, tidak ada satupun produk kesenian yang diklaim sebagai kesenian asli Kebumen (Jemblung, Menthiet, Cepetan) masuk dalam daftar kesenian asli. Sebaliknya justru hanya jenis kesenian umum saja yang didaftarkan spt Kuda Lumping, Wayang kulit, Lengger, Rebana dll. Bukankah seni Cepetan adalah asli produk kebudayaan Kebumen?

Pekik Sat Siswonirmolo (sambil terkaget): Wah, betul itu. Kenapa bisa tidak terdaftar ya? Ini bisa menjadi bahan masukan bagi pejabat yang mengelola hal tersebut.

Tanya: Apakah ada pengaruh luar Kebumen dalam seni Cepetan?

Di desa-desa di wilayah Karanggayam khususnya Kajoran, Karangjoho topeng Cepetan dikembangkan menjadi seni tari tradisional yang diiringi dengan suara kenthongan dan kaleng. Pada zaman itu disebut dengan kesenian “Dangsak” atau “Tongbreng”. Kegiatan Cepetan sendiri pada zaman tersebut belum menjadi seni yang ditanggap secara khusus seperti wayang atau jenis tarian lainnya melainkan sebagai penyerta pada perayaan-perayaan rakyat atau arak-arakkan seperti “merti desa” (bersih desa). Dalam berbagai tampilan seni Cepetan tidak bisa dilepaskan dari pelibatan aspek magis yang dimasukkan dalam diri para penari sehingga menimbulkan situasi “trance” (ketidaksadaran atau dikuasai eksistensi lain). Fenomena ini menjadi daya tarik dan pemikat bagi para penonton untuk menonton seni Cepetan karena dalam kondisi “trance” banyak hal-hal yang dilakukan oleh penari yang di luar kemampuan manusia normal.

Perkembangan modern menjadikan Cepetan sebagai seni tari yang mengadopsi banyak elemen baik musik (gamelan, simbal, bedhug, saron) maupun gerak tari (tari Wasono dll) dan tidak harus melibatkan aspek magis di dalamnya. Jika dahulu pelaksanaan tari Cepetan hanya bertelanjang dada, maka sekarang mengunakan kostum-kostum yang menarik dan beraneka warna.

Minggu, 25 Mei 2014

WADUK SEMPOR: JEJAK KEJAYAAN YANG MEREDUP




Waduk Sempor, sekitar 30-an km dari Kota Kebumen dan 7 km dari pusat kota Gombong. Saya bersama istri meluangkan waktu untuk menyambangi bendungan yang dibuat pada era tahun 1970-an itu. Waduk Sempor hanyalah salah satu obyek wisata yang menawarkan eksotisme disamping obyek wisata lainnya yang berada di wilayah Kabupaten Kebumen (1)
 
Setiba di lokasi, saya melihat ekspresi kesedihan istri dan keluhannya mengenai keberadaan Waduk Sempor kini. Dia menceritakan bahwa sekitar 20-an tahun silam saat dia masih tinggal di Klaten dan mengajar di sekolah dasar, pernah mendatangi waduk ini. Namun keadaannya sungguh berbeda sangat jauh. Istri saya kemudian mendeskripsikan perbandingan kondisi waduk beberapa puluh tahun silam dengan kondisi waduk saat ini. 


Dahulu, ramai pengunjung dari berbagai kota, bis dan mobil berderet ramai memadati lokasi wisata Waduk Sempor, banyak penjaja salak dan asesoris laut serta warung-warung yang ramai pembeli. Perahu-perahu wisata hilir mudik dengan ramainya. Monumen-monumen yang tersedia di areal waduk masih dalam keadaan baru dan bersih. Keadaan puluhan tahun itu berubah saat ini menjadi tempat yang menyisakan jejak kejayaan pariwisata yang semakin meredup. Sekalipun masih tetap dikunjungi masyarakat, namun kondisinya sangat sepi. Tidak ada rombongan bis maupun deretan kendaraan yang ramai memadati areal wisata. Pedagang hanya beberapa orang saja, warung-warung hanya tersisa beberapa. 


Minggu, 30 Maret 2014

AKSI DAN INTERAKSI HANTU-HANTU DI TELEVISI:

 

TELAAH KRITIS TERHADAP PROGRAM REALITY SHOW MISTIK DAN MISTERI 

Catatan: 

Kebumen dikunjungi oleh Tim "Mister Tukul Jalan-Jalan" dan hasilnya ditayangkan dalam program siaran televisi reality show berjudul "Mister Tukul Jalan-Jalan" (22,23,29 Maret 2014). Tulisan ini tidak ditujukan untuk menanggapi secara khusus kegiatan syuting di Kebumen namun hendak menyajikan kembali artikel yang pernah penulis muat di blog pribadi (http://teguhhindarto.blogspot.com/2014/03/aksi-dan-interaksi-hantu-hantu-di.html) maupun forum umum (http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2014/03/16/aksi-dan-interaksi-hantu-hantu-di-televisi-641875.html) mengenai kritik konstruktif dibalik berbagai penayangan program televisi khususnya reality show bertemakan mistik dan misteri dengan berlatarbelakangkan tempat-tempat wisata bersejarah. Tempat-tempat bersejarah telah dimanfaatkan menjadi arena membuktikan eksistensi mahluk-mahluk gaib penunggu wilayah melalui proses komodifikasi tempat-tempat angker. Tindakan ini bukan mendekatkan dan mencerdaskan masyarakat untuk mengerti latar belakang dan peranan sebuah wilayah bernilai sejarah namun semakin menjauhkan masyarakat untuk berfikir kritis mengenai lokasi bersejarah di sekitarnya dan lebih peduli terhadap keberadaan mahluk-mahluk gaib penunggu wilayah dan terpesona dengan aktifitas-aktifitas gaib sehingga melanggengkan "Mystic Society" (masyarakat mistik).
 
Pendahuluan

Televisi Indonesia tidak pernah sepi dari berbagai tayangan yang berbau mistik dan misteri lengkap dengan kehadiran fenomena gaib dan gejala hantu. Berbagai tayangan mistik dan misteri tersebut terbagi dalam beberapa bentuk yaitu: film, sinetron, reality show. Sejak tayangan “Kismis” (Kisah-kisah Misteri) di RCTI pada tahun 2003, maka sampai saat ini berbagai tayangan reality show bergenre mistik dan misteri lainnya bermunculan dan tetap menjadi andalan pengelola televisi untuk meningkatkan rating dan meraup perhatian penonton.

Beberapa tayangan reality show berbalut mistik dan misteri dengan melibatkan aktifitas paranormal dan fenomena hantu al., “Gentayangan” (TPI/MNC dengan host Toro Margen), “Dunia Lain” (Trans TV dengan host Harry Pantja), “Silet” (RCTI dengan host Feny Rose), “Pemburu Hantu” (Lativi dengan melibatkan sejumlah ustadz penangkap hantu), “Percaya Ngak Percaya” (ANTV dengan host Leo Lumanto), “Masih Dunia Lain” (Trans 7 dengan host Rudi Kawilarang), “Indigo” (Trans TV dengan host Vira Razak), “Dua Dunia” (Trans 7 dengan host Indah Ananta)[1]. Sebagian dari program-program tersebut telah habis masa tayangnya dan tidak diperpanjang namun sebagian lainnya masih tetap bertahan dengan pergantian judul program atau disiarkan oleh televisi lain. Tahun 2014 ini, stasiun televisi ANTV menayangkan program baru “Angker Banget”.

Trans 7 nampaknya yang paling banyak menampilkan tayangan reality show bergenre mistik dan misteri. Selain dua tayangan andalan “(Masih) Dunia Lain” dan “Dua Dunia”, Trans 7 memiliki program andalan “Mister Tukul Jalan-Jalan” yang dipandu oleh presenter dan komedian Tukul Arwana. Animo masyarakat begitu luar biasa terkait dengan program reality show ini. Hal ini nampak dengan berbondong-bondongnya masyarakat saat syuting dan pengambilan gambar di berbagai tempat yang diyakini mistis dan angker. Hal ini terjadi dikarenakan minat masyarakat yang masih besar terhadap berbagai fenomena mistik dan popularitas Tukul yang menjadi daya pikat dan perekat yang mengokohkan penerimaan masyarakat terhadap program reality show mistik tersebut.

Mengapa Masih Diminati?

Maraknya berbagai tayangan bergenre mistik dan misteri serta fenomena hantu yang menyelusup dalam realitas masyarakat kita melalui film layar lebar, sinetron serta reality show dan tetap diminati masyarakat dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kultur masyarakat. Eksistensi mistik dan misteri masih merupakan kultur yang menonjol dalam realitas sosiologis kemasyarakatan. Istilah lain untuk kultur mistik di atas disebut dengan “Mystic Society”[2]

Rabu, 11 Desember 2013

EKSOTIKA KEBUMEN: MAKSIMALISASI POTENSI GEOWISATA PANTAI MENGANTI


Dalam artikel sebelumnya, Melibatkan Potensi Geografis dan Historis Pada Kurikulum Pendidikan di Kebumen[1],saya menuliskan beberapa lokasi yang memiliki potensi geografis dan historis agar dimasukkan dalam kurikulum lokal pendidikan di Kebumen untuk membangun jati diri. Namun kali ini saya hendak menuliskan opini bahwa beberapa potensi geografis tertentu di wilayah Kabupaten Kebumen untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai wilayah pariwisata.

Pariwisata: Definisi & Potensi Kewisataan Kebumen

Undang-Undang RI No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan di Pasal 1 menjelaskan mengenai Wisata, Wisatawan, Pariwisata sbb:
  1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. .
  2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
  3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan Pemerintah Daerah[2]
Kabupaten Kebumen mempunyai luas wilayah sebesar 128.111,50 ha atau 1.281,11 km² dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan, namun sebagian besar merupakan dataran rendah[3]. Di wilayah-wilayah pantai dan pegunungan inilah terletak berbagai potensi geografis yang sudah dan perlu dikembangkan serta dimaksimalkan menjadi potensi-potensi kewisataan.

Kamis, 05 Desember 2013

NILAI DAN KANDUNGAN BATUAN KARANGSAMBUNG SERTA PROBLEM KEEKONOMIAN PENGRAJIN BATUAN



Saya memiliki kegemaran mengoleksi berbagai cincin atau batu akik. Saat saya hendak mencari emban (penopang batu akik) yang baru, saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa batu-batuan di wilayah Sungai Luk Ulo dan Kebumen pada umumnya tidak bagus untuk dijadikan batu akik. Orang tersebut mengatakan bahwa berbagai batu akik yang dijual di wilayah Kebumen lebih banyak batuan yang berasal dari luar Kebumen, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Pernyataan ini mendorong saya untuk melakukan penelusuran dan pembuktian. Penelusuran dan pembuktian pertama adalah dengan mendatangi LIPI Karangsambung untuk mendapatkan penjelasan obyektif dari sudut pandang keilmuan Geologi dan mewawancarai Bapak Chusni Ansori, MT. Selaku Peneliti Madya. Penelusuran kedua adalah dengan mendatangi salah satu pengrajin di wilayah Sadang (utara LIPI) dan mewawancarai Bapak Supratikno.

Nilai Supranatural dan Nilai Natural Ilmiah

Saat penulis mewawancari Bapak Chusni Ansori, ada sebuah penjelasan yang cukup menarik terkait nilai batuan Karangsambung. Menurutnya, ada dua kelompok pemahaman yang memiliki kesimpulan berbeda terhadap obyek yang sama yaitu batuan Karangsambung. 

Kelompok pertama, adalah mereka yang menekuni dunia supranaturalis berkeyakinan bahwa batuan tertentu yaitu Eklogit dan Amfibolit mengandung daya penyembuh untuk berbagai penyakit. Proses penyembuhan dengan memanfaatkan khasiat bebatuan yang dilambari doa tertentu dan dioleskan kepada tubuh tertentu yang mengalami sakit. Bapak Chusni Ansori menyebut salah satu nama tokoh supranaturalis di wilayah Klirong yang biasa menggunakan media batuan Karangsambung untuk dipergunakan bagi proses terapeutik. Menurut beliau, batuan-batuan yang dikategorikan memiliki kemampuan supranatural tersebut jika ditelaah secara keilmuan Geologi memang termasuk bebatuan yang terbentuk dengan derajat panas dan energi yang besar. Dengan kata lain, ada korelasi ilmiah antara keyakinan supranatural terhadap bebatuan tertentu dikaitkan dengan proses pembentukannya di dalam perut bumi. Menurut Awang Harun Satyana, “Eklogit adalah batuan metamorf regional yang terbentuk pada temperatur dan tekanan tinggi(tekanan > 14 kilobar (> 1,2 Gigapascal), temperatur > 550 C, pada kedalaman > 45 km (lihat diagram fasies metamorfik terlampir). Eklogit dapat merupakan transformasi dari batuan basa/mafik seperti lava basal dan tuf basaltik, atau gabro dalam lingkungan mantel setelah memasuki fasies metamorfik sekis biru atau amfibolit. Tetapi eklogit juga dapat merupakan batuan beku hasil pembekuan magma di kerak bagian bawah atau mantel bagian atas”[1]. Menurut keterangan Bapak Chusni, Eklogit yang mengandung Garnet oleh para supranaturalis diusapkan pada bagian tertentu yang sakit sehingga mengalami kesembuhan. Garnet sendiri bermakna, “Salah satu dari sekelompok batu silikat semi mulia yang berkisar dari warna dari merah ke hijau. Garnet memiliki kekerasan 6-8 dan berat jenis 3,5-4,3”[2].

Selasa, 26 November 2013

BUKAN CANDI TAPI SANGGAR MEDITASI



Saya terkejut saat membaca laporan Kebumen Ekspres beberapa minggu lalu sbb: “Akibat sudah mulai mengalami kerusakkan, candi Wonomarto yang berada di Kelurahan Wonokriyo Kecamanaan Gombong akhirnya dipugar, Rabu (13 November 2013)” (Mulai Rusak, Candi Wonomarto Dipugar, Kebumen Ekspres 15 November 2013). Keterkejutan saya dikarenakan saya pernah menulis artikel dengan judul, “Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi”[1] dimana saya pernah mengulas mengenai satu-satunya artefak kebudayaan sisa peninggalan Agama Hindu Ciwa dalam bentuk Lingga dan Yoni di desa dimana terletak Pesantren Somalangu. Sepengetahuan penulis bahwa keberadaan artefak tersebut hanya berada di desa Sumberadi tidak di tempat lain. Pemberitaan Kebumen Ekspres memunculkan minat penulis untuk mencari tahu kebenaran adanya candi lain selain yang ada di wilayah Sumberadi, Kebumen.

Pada tanggal 26 November 2013, penulis mengadakan penelusuran untuk membuktikan keberadaan candi lainnya di kawasan Kebumen dan sekitarnya. Sampailah penulis di rumah Bapak Adji Tjaroko sebagai pewaris dan pemilik lokasi yang disebut sebagai Candi oleh koran Kebumen Ekspres dalam laporannya. Namun setelah berbincang-bincang cukup lama, sebenarnya apa yang disebut dengan “Candi” sebenarnya lebih tepat disebut dengan “Sanggar Meditasi” sebagaimana pengakuan Bapak Adji Tjaroko. Adapun istilah “Candi” tidaklah tepat karena istilah Candi memiliki karakter khas sebagaimana terkandung dalam definisinya sbb: “Menurut akar katanya (etimologi),istilah Candi diduga berasal dari kata Candika yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian.[2] Keberadaan Candi bersifat multi fungsi. Bisa berfungsi sebagai  tempat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14[3].