Selasa, 22 September 2020

MASA LALU KUNCI MEMAHAMI MASA KINI

Kita tentu kerap mendengar istilah “run down” bukan? Ya, sebuah istilah asing yang bermakna “ikhtisar” atau “susunan sebuah kegiatan”. Di era masa kini yang sarat dengan kegiatan publik di sana-sini, baik yang diselenggarakan lembaga resmi atau komunitas, istilah “run down” menjadi begitu familiar di telinga kita.

Sebuah berita dengan judul, Dejubileumfessten (pesta perayaan hari jadi) yang dimuat surat kabar De Locomotief (1 September 1938) membuat sebuah berita dengan sub judul Het programma (Rencana Kegiatan) alias sebuah rencana “run down” kegiatan yang berpusat di alun-alun Kebumen dan sekitarnya pada tahun 1938.

Menariknya, dari rencana kegiatan yang akan diselenggarakan selama beberapa hari yaitu dari tanggal 5-8 September tergambar sebuah aktivitas yang padat dan kehidupan sosial budaya yang dapat memberikan gambaran informatif mengenai kehidupan di Kebumen tahun 1938. Mari kita telaah satu persatu.

Senin, 5 September 1938

17.30, Pertemuan doa (b) untuk orang Eropa, dipimpin oleh Pendeta Vonk di Gereja Misi (Zendingskerk)

18.30, Berkumpul di Kaboepaten untuk pegawai negeri sipil pribumi (inlandsche ambtenaren) dan pensiunan pribumi (inheemsche gepensionneerden) bersama para istri mereka. (Pegawai negeri sipil bersetelan formal, lainnya berbaju hitam).

19:00, Keberangkatan dengan prosesi obor (fakkeloptocht) berjalan kaki ke Masjid  (de Moskee) untuk pertemuan doa. Setelah itu kembali dengan prosesi menuju kaboepaten.

20.00,Pertemuan doa (bidston) untuk orang Tiong Hoa di Klenteng.

Dari rencana “run down” kegiatan hari ini kita bisa mendapatkan keterangan bagaimana kehidupan beragama di era kolonial berjalan berdampingan untuk merayakan sebuah pesta perayaan hari jadi kabupaten di tempat ibadah masing-masing.

Selasa, 6 September

08.00, Prosesi penunggang dan kuda di arena pacuan kuda (Alun-alun).

09.00-14.00. Lomba balapan (lari cepat, balap sepeda dan panggung, lari, dll.)

16.30-17.30, Final pertandingan pagi.

19.12, Bioskop terbuka (openluchtbioscoop), wayang-golek, wayang-puro (purwo) dan pertandingan bulu tangkis (badmintonwedstrijden) di Alun-alun

Mulai jam 20.00  Pesta di gedung asisten residen untuk orang Eropa. Pesta di kabupaten untuk masyarakat pribumi. Slametan di Masjid untuk para pemuka agama. Pesta untuk orang Tionghoa di Klenteng atau di tempat lain.

Dari laporan rencana “run down” hari kedua tergambar bagaimana alun-alun difungsikan menjadi kegiatan publik non keagamaan baik bulu tangkis, wayang purwo, bahkan wayang golek, sebuah penampilan seni pewayangan yang biasanya ditampilkan di Jawa Barat. Tergambar pula pesta perayaan menurut masing-masing agamanya yaitu slametan di masjid, pesta di klenteng atau di gedung asisten residen.

Rabu, 7 September

08.00-14.00, Balapan seperti pada tanggal 6 September.

16.30 -18.00, Final pertandingan pagi, kemungkinan kompetisi atletik.

19.00-23.00,  Malam Pertandingan bulutangkis di Alun-alun.

20.00-24.00, Pertunjukkan bioskop terbuka, lomba lagu jawa, tari jawa, pertandingan tinju, anggar, pencak, wayang golek dan wayang puro. Parade lentera di Priajistraat (jl. Priyayi) dekat Europeesche School (Sekolah Eropa). Rute: Prijajistraat, Alun-alun melewati rumah asisten residen, Hotel Juliana, mesjid, kabupaten menuju arena pacuan kuda. Prosesi tersebut berakhir di arena pacuan kuda.

Pada rencana “run down” hari ketiga ada yang menarik yaitu disebutkannya sebuah lokasi bernama Hotel Juliana sebagai salah satu rute yang dilewati oleh kelompok parade lentera (Lampionoptocht) dan jalan Priyayi. Di manakah letak Hotel Juliana? Bank Jateng dan lahan kosong di sampingnya adalah bekas gedung hotel Juliana, sebuah hotel yang disebut oleh satu koran sebagai “goed hotel” (hotel terbaik) dan “goede reputatie” (bereputasi baik). Selengkapnya mengenai Hotel Juliana dapat membaca buku saya berjudul, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII (2020:60).

Kamis, 8 September

08.00-14.00,  Balapan seperti pada tanggal 6 September.

16.30-18.00. Pawai mobil, gerobak, sepeda yang dihias dan gunungan di lintasan balap

19.12, Bioskop terbuka dll. Seperti pada tanggal 7 September disertai atraksi lainnya.

Kegiatan di tanggal 8 September masih ramai bahkan ada aktivitas pawai mobil dan gerobak serta sepeda bahkan gunungan. Mungkin maksudnya hiasan gunungan seperti dalam pesta garebeg di Kraton Yogyakarta.

Laporan surat kabar diakhir dengan kalimat sbb, "Masuk ke lokasi pesta gratis. Di tribun utama membayar sebesar 0,10 florin per orang per hari sementara di tribun lurah membayar sebesar  0,05 florin per orang per hari. Konsumsi selama pesta dengan biaya tertentu, disediakan oleh Inheemsche Damesvereeniging (Asosiasi Wanita Pribumi) P. N.O. dari Keboemen (yang benar P.M.O alias Perkumpulan Mardi Utomo). Di halaman kabupaten selama perayaan diadakan pameran ternak (de feestdagen veetentoonstelling)

Demikianlah ringkasan pemaparan pada Pada "study trip" sesi ke-2 yang diselenggarakan oleh Historical Study Trips dengan mengambil tema, Ragam Kisah di Seputar Alun-Alun Kebumen era Kolonial yang disampaikan oleh Teguh Hindarto, founder dan penyaji materi study trip.


Apa makna dan filosofi serta fungsi alun-alun? Elemen-elemen apa sajakah yang mencirikan keberadaan alun-alun? Mengapa ada gedung Asisten Residen (sekarang kantor kabupaten) tidak jauh dari pendopo kabupaten? Apa makna waringin (beringin) yang di tanam di alun-alun? Kapan kota Kebumen dipasang penerangan listrik, aktivitas sosial budaya apa yang terekam di pendopo kabupaten era kolonial dan banyak pertanyaan lain.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dijawab melalui kegiatan study trip sesi ke-2 kali ini melalui pemaparan pengantar yang disampaikan oleh Teguh Hindarto di Gedung Teater Perpusda.

Kepala Dinas Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah, Anna Ratnawati berkenan hadir dan turut dalam kegiatan tersebut sekaligus memberikan prakata pembuka dan apresiasi terhadap kegiatan bertema sejarah kota tersebut.

Setelah pemaparan pengantar mengenai sejarah masing-masing lokasi historis di sekitar alun-alun, dilanjutkan perjalanan berkeliling ke sejumlah tempat al., pendopo kabupaten Kebumen, masjid agung, bank Jateng (eks Hotel Juliana), kantor pos, kantor kabupaten Kebumen (eks kantor asisten residen).

Melalui kegiatan study trip sejarah kota diharapkan peserta bukan hanya memiliki kesadaran historis dan nilai pentingnya melainkan peserta diajak memahami fakta dan data sejarah secara lebih menyenangkan melalui kegiatan berjalan kaki.

Mengapa berjalan kaki? Mengutip A.L. Rowse dalam bukunya  Apa Guna Sejarah dikatakan sbb: Sejarah memberikan ketertarikan dan makna terhadap berbagai hal yang mungkin tidak kita perhatikan sebelumnya, tidak hanya pedesaan dan kota-kota serta bangunan, gereja, rumah tua, jembatan, tetapi juga lanskap itu sendiri...Namun, cara terbaik untuk menelusuri kota bersejarah seperti Philadelphia adalah dengan berjalan kaki (2014:29,41).



Filosofi pendekatan memahami sejarah sebuah kota dan bangunan di sekitarnya inilah yang berusaha diterjemahkan oleh Historical Study Trips dengan menggelar sejumlah event dan kegiatan study trips secara berkala berkaitan dengan sejarah kehidupan sosial dan budaya di Kebumen era kolonial.

Teguh Hindarto, menegaskan kembali bahwa metodologi pembelajaran sejarah tidak hanya sekedar peristiwa-peristiwa besar yang ada jauh di sana melainkan dekat di kota kita yang belum banyak digali data-datanya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar