Kamis, 14 Maret 2013

NILAI KEBERADAAN LINGGA DAN YONI DI DESA SUMBERADI


Menindaklanjuti laporan Tim Pawiyatan Kebumenan beberapa minggu lalu di desa Sumberadi mengenai keberadaan Lingga dan Yoni di kawasan TK Sumberadi dan beberapa ratus meter dari Pesantren Al Kahfi Somalangu[1], penulis mencoba menelusuri kembali jejak dan keberadaan Lingga dan Yoni di kawasan tersebut dan mencoba memperdalam makna keberadaan Lingga dan Yoni khususnya di wilayah dengan basis Keislaman yang kuat tersebut dan bagi masyarakat Kebumen pada umumnya.






Penulis tidak hanya berhenti melakukan penelisikan dan pemotretan terhadap kedua Lingga dan Yoni di Sumberadi melainkan melacak sampai ke wilayah Candi Mulyo yang lokasinya beberapa kilometer dari Sumberadi. Menurut informasi warga setempat yang saya tanyai, pemilik warung bernama Anwar, penulis memperoleh keterangan bahwa di wilayah Candi Mulyo terdapat gundukan bebatuan yang dipagari dan berlokasi di depan rumah seorang warga. Menurut cerita orang tua dan leluhur, di lokasi tersebut dahulu adalah situs (entah candi atau lingga dan yoni) peribadatan agama Hindu namun setelah para wali Islam datang maka keberadaan tempat tersebut diurug (ditimbun) dan tertutup bagi siapapun.




Penulis segera menyusuri keberadaan tempat yang dimaksudkan dan berhasil menjumpai gundukan batu yang sudah ditumbuhi pepohonan dan berada di tepi jalan desa dan di depan rumah seorang warga bernama Bapak Muhni lokasi situs tersebut berada di wilayah di desa Candi Mulya dukuh Tlimbeng. Dikarenakan Bapak Muhni sedang tidak ada di lokasi melainkan hanya istrinya, maka tidak ada informasi yang dapat diperoleh mengenai keberadaan gundukan yang patut diduga merupakan situs penting yang dapat mengungkap lebih jauh latar belakang masyarakat dan kebudayaan pra Islam di wilayah Kebumen. Jika benar lokasi gundukan tanah dan bebatuan tersebut dahulunya terdapat situs keagamaan Hindu, maka tempat tersebut harus diamankan oleh instansi terkait dan diadakan penggalian dan konservasi sebelum ditetapkan statusnya secara arkeologis.

Menurut istri Bapak Muhni yang penulis wawancarai, ada lagi keberadaan candi lain di wilayah desa Candi Wulan namun keberadaannya kecil. Ketika penulis berusaha melacak keberadaannya di wilayah tersebut, tidak ada informasi yang diketahui warga jika di wilayah mereka ada sebuah candi atau situs-situs penting sebagaimana yang dimaksudkan.

Keberadaan Lingga dan Yoni di Sumberadi dan mungkin di wilayah sekitarnya, memberikan beberapa petunjuk penting mengenai dua hal yaitu: Pertama, eksistensi historis dinasti yang berkuasa di zaman pra Islam dan pra Kebumen. Kedua, eksistensi agama yang dianut pada zaman pra Islam dan pra Kebumen. Kita akan telusuri satu persatu untuk menemukan benang merah sejarah.

Latar Belakang Dinasti Berkuasa Pra Kebumen

Menurut akar katanya (etimologi),istilah Candi diduga berasal dari kata Candika yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian.[2] Keberadaan Candi bersifat multi fungsi. Bisa berfungsi sebagai  tempat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14[3].

Keberadaan candi dan isi di dalamnya (baik patung, relief, lingga dan yoni) tidak bisa dipisahkan dari keberadaan penguasa dalam hal ini para raja. Arca dewa, seperti Dewa Wisnu, Dewa Brahma, Dewi Tara, Dewi Durga, yang ditempatkan dalam candi banyak yang dibuat sebagai perwujudan leluhurnya. Bahkan kadang-kadang sejarah raja yang bersangkutan dicantumkan dalam prasasti persembahan candi tersebut. Berbeda dengan candi-candi Hindu, candi-candi Buddha umumnya dibangun sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan untuk mendapatkan ganjaran. Ajaran Buddha yang tercermin pada candi-candi di Jawa Tengah adalah Buddha Mahayana, yang masih dianut oleh umat Buddha di Indonesia sampai saat ini. Berbeda dengan aliran Buddha Hinayana yang dianut di Myanmar dan Thailand[4].

Di Indonesia, candi dapat ditemukan di pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan, akan tetapi candi paling banyak ditemukan di kawasan Jawa Tengah (Borobudur, Dieng, Mendut) dan Jawa Timur (Bajangsanga, Singasari). Abad ke-8 hingga ke-10 tercatat sebagai masa paling produktif dalam pembangunan candi. Pada kurun kerajaan Medang Mataram ini candi-candi besar dan kecil memenuhi dataran Kedu dan dataran Kewu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya peradaban yang cukup makmur dan terpenuhi kebutuhan sandang dan pangannya sajalah yang mampu menciptakan karya cipta arsitektur bernilai seni tinggi seperti ini[5]. Sebagaimana sebuah kerajaan yang makmur dapat menghasilkan karya sastra bernilai tinggi.

Cand-candi di Indonesia dapat dikategorikan bercorak Hindu dan Budha. Beberapa candi yang bercorak Hindu di Indonesia adalah Candi Prambanan, Candi Jago, Candi Gedongsongo, Candi Dieng, Candi Panataran, Candi Angin, Candi Selogrio, Candi Pringapus, Candi Singhasari, dan Candi Kidal. Candi yang bercorak Buddha antara lain Candi Borobudur dan Candi Sewu. Candi Prambanan di Jawa Tengah adalah salah satu candi Hindu-Siwa yang paling indah. Candi itu didirikan pada abad ke-9 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Sebagaimana di katakan di atas, Kerajaan Medang atau Mataram kuno pra Islam menghasilkan sejumlah keberadaan candi-candi baik di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Apa yang dapat kita ketahui mengenai kerajaan-kerajaan kuno pra Islam tersebut?

Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11. Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

Pusat kekuasaan Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain:

Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)

Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.[6]

Keberadaan Kerajaan Medang atau Mataram kuno tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan dinasti atau wangsa Sanjaya. istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732. Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) diketahui Sanjaya adalah penerus raja Jawa Sanna, menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjarakunja di daerah India, dan mendirikan Shivalingga baru yang menunjukkan membangun pusat pemerintahan baru[7].

Namun demikian, penggunaan istilah Wangsa Sanjaya sempat ditolak oleh Sejarawan Poerbatjaraka. Ada dua alasan penolakkan tersebut. Pertama, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada, karena Sanjaya sendiri adalah anggota Wangsa Sailendra. Dinasti ini mula-mula beragama Hindu, karena istilah Sailendra bermakna “penguasa gunung” yaitu sebutan untuk Siwa. Kedua istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, sedangkan istilah Sailendrawangsa ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Ligor, prasasti Kalasan, dan prasasti Abhayagiriwihara. Poerbatjaraka berpendapat bahwa, Sanjaya telah memerintahkan agar putranya, yaitu Rakai Panangkaran pindah agama, dari Hindu menjadi Buddha. Teori ini berdasarkan atas kisah dalam Carita Parahyangan bahwa Rahyang Sanjaya menyuruh Rahyang Panaraban untuk berpindah agama. Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah “raja Sailendra” dalam prasasti Kalasan tidak lain adalah Rakai Panagkaran sendiri[8].

Latar Belakang Keagamaan Pra Kebumen

Dengan melihat keberadaan Lingga dan Yoni di desa Sumberadi maka kita dapat menyimpulkan bahwa telah ada kepercayaan Hindu kuno pada zaman kerajaan Mataram kuno pra Islam yaitu Kerajaan Medang.

Apalagi telah diuraikan sebelumnya bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Medang sempat berpindah-pindah di beberapa tempat di Jawa Tengah hingga akhirnya mendiami wilayah Jawa Timur. Dan salah satu pemerintahan Medang pernah berada di wilayah yang disebut Mamrati dan Poh Pitu yang diperkirakan terletak di daerah Kedu. Dan Kebumen modern merupakan bagian dari wilayah Karesidenan Kedu. Dan secara arkeologis, wilayah Karesidenan Kedu sarat dengan peninggalan-peninggalan kuno dari dinasti baik Sanjaya maupun Syailendra[9]. Di wilayah Purworejo sendiri terdapat situs Candi Gondoarum dimana di dalamnya terdapat lingga dan yoni dari masa Mataram Hindu. Candi ini terletak satu kompleks dengan Gua Seplawan yang terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah [10]


Lingga dan Yoni di Candi Gondoarum Purworejo


Lingga dan Yoni di Pekalongan


Lingga dan Yoni di Bantul


Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Karanganyar-Solo


Lingga dan Yoni di Candi Ijo, Prambanan-Sleman


Makna Lingga dan Yoni dalam Perspektif Hindu

Ada banyak interpretasi mengenai makna lingga dan yoni, mulai dari labang kemaluan laki-laki (phalus) dengan lambang kemaluan perempuan, lambang Siwa dan Saktinya (ada yang menyebut Durga dan ada yang menyebut Laksmi), lambang kesuburan sebagaimana dijelaskan, “Lingga dan Yoni merupakan benda tinggalan budaya masa klasik Hindu-Buddha, sebagai lambang kesuburan dari perwujudan Siva dan Durga dihubungkan dengan pemujaan terhadap Dewi Ibu. Dewa-dewa dalam agama Hindu, khususnya dewa-dewa tertinggi yang digambarkan memiliki kekuatan untuk melakukan “tugas” yang seharusnya. Kekuatan ini disebut šakti dan seringkali diwujudkan sebagai dewi pasangan dewa-dewa tersebut. Dalam aliran Waisnava, Šakti Wisnu diwujudkan sebagai Laksmi. Dalam aliran Saiwa, Sakti Siwa disebut Dewi. Menurut beberapa Kitab Purana, Šakti Siwa atau Dewi memiliki dua aspek santa atau saumnya (tenang) dan aspek kroda atau raudra (dahsyat). Kultus Dewi Ibu menjadi bagian penting pada kebudayaan agraris sekitar 5000-4000 tahun SM. Hal ini muncul dari ketakjuban dan ketidakpahaman akan proses-proses alam, seperti kelahiran. Pada masa ini masyarakat menganggap Dewi Ibu sebagai personifikasi tanah yang melahirkan tanaman yang diperlukan manusia. Kemudian dibuatlah patung-patung wanita dalam sikap jongkok dalam ukuran kecil yang terbuat dari tanah liat dan batu kapur. Pada masa ini Dewi Ibu dipuja bersamaan pasangan laki-lakinya, karena pada prinsipnya dalam proses kelahiran hal tersebut tidak dapat diabaikan. Lambang Dewi Ibu dan pasangannya berupa alat kelamin wanita dan alat kelamin laki-laki”[11]

G.M. Nurjana menolak makna linga dan yoni dihubungkan secara dangkal sebagai lambang kemaluan lelaki dan perempuan dan memberikan interpretasi teologis sbb:

Dancing with Siva Lexicon memberi definisi lingga atau Siva lingga sebagai berikut: ‘Tanda (mark or sign) dari Siva. Ikon Siva yang paling banyak digunakan, ditemukan hampir di semua mandir Siva. Bentuknya bundar, eliptik, citra aniconic, biasanya diletakan di atas dasar bundar, atau pitha. Sivalinga adalah simbol paling kuno paling sederhana dan Siva, khususnya Parasiva, Tuhan di luar semua bentuk dan sifat-sifat. Pitha merepresentasikan Parashakti, kekuatan Tuhan’. The Oxford Dictionary of World Religions menambahkan: ‘Lingga adalah simbol energi generatif. Menyebut ini sebagai “phallic worship” (pemujaan palus) adalah salah secara total memahami represenrasi ecara miniatur atau bentuk simbolik, menciptakan dan melepaskan kekuatan dengan mana dia diasosiasikan’

Ada perbedaan sangat mendasar antara dua definisi pertama dengan dua definisi terakhir.  Lingga sebagai simbol Ayah (Tuhan) dan Yoni sebagai Ibu (pertiwi), sebagai alam semesta, telah dipuja oleh umat umat Hindu sejak 3.500 tahun sebelum masehi. Lingga dan Yoni diwujudkan menjadi tempat suci atau bangunan suci dalam bentuk arca pelinggih, candi, seperti bangunan Padmatara yang kita kenal sekarang.

Ciri utama yang melekat pada bangunan arsitektur suci “Lingga” atau “Linga” adalah: Satu, Wujud Lingga, bentuk vertikal, ujung oval, umumnya terbuat dan batu andesit sebagai wujud cahaya Brahman yang transendental untuk menciptakan alam semesta beserta isinya. Dua, Aksara “OM”(AUM), gema suara Brahman dan simbol kekuatanNya untuk penciptaan.  Tiga, Bangunan Suci “Yoni” tempat tegaknya “Lingga” untuk menciptakan alam semesta, dengan kelengkapan kekuatan Bedawangnala (naga, kura-kura) yang didepannya Nandi, mengawal, menjaga keseimbangan ciptaan Nya”[12].

Apa makna ular naga yang menopang Yoni? Menurut Poerwadarminta Naga berdasarkan etimologisnya dari bahasa Sansekerta yang artinya Ular. Sedangkan dalam bahasa Indonesia naga berarti ular besar. Naga atau Ular mengandung banyak makna dan tafsiran, antara lain Naga adalah lambang kekuasaan, kesaktian, pelindung dan kesejahteraan bumi, penjaga air suci Amerta serta simbol kesuburan.

Berdasarkan Mitologi Pola hias Naga yang bermahkota dihubungkan dengan kekuasaan kerajaan (pemerintahan) antara lain: Pertama, Dalam kehidupan manusia banyak disebutkan mitologi mengenai peranan Naga. Naga bermahkota dihubungkan dengan unsur pemerintahan (Kerajaan), menurut Fergusson tahun 1971   menyebutkan Naga berhubungan dengan unsur kerajaan pertama kali didapatkan pada naskah   Mahabharata yang menceritakan Arjuna dengan Ulupi putri Raja Naga dari Himalaya dan   perkawinan Arjuna dengan Chitragada putri Raja ular bernama Chitravahana dari Manipur (Nina Santoso Pribadi, 1989:151). Kedua, Menurut Fergusson tahun 1971 berdasarkan Berita Cina Hiu Oen Thsang bahwa legenda ular   atau Naga dihubungkan dengan pemerintahan atau kerajaan terdapat di sepanjang Kabul  sampai Khasmir (Nina santoso Pribadi, 1989:151).Ketiga, Menurut Briggs tahun 1957 Dalam Mitologi Negara Kamboja ada kepercayaan turun-temurun  bahwa  Naga sangat berhubungan erat dengan keturunan raja-raja di Kamboja, karena Naga   dianggap nenek moyang pelindung kerajaan. Dan kaitan raja-raja dengan Naga  (Nagaraja)   yang menguasai bumi[13].

Korelasi Keberadaan Candi dan Lingga Yoni

Keberadaan lingga dan yoni tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan candi sebagai pelinggih atau bangunan candi sebagaimana dikatakan oleh G.M. Nurjana, “Lingga Yoni dalam bentuk pelinggih atau bangunan candi di Jawa jumlahnya ribuan. Khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta saja terdapat 72 situs candi dengan bangunan pelinggih Lingga Yoni. Satu kompleks candi saja terdapat minimal 9 pelinggih “Lingga Yoni” seperti Lingga Yoni di candi Hijau, candi Sambisari, candi Kedulan, candi Kranggan, candi Nogosaren dan lain sebagainya. Bagian candi dengan Lingga yang terbesar saat ini adalah candi Hijau, di kecamatan Brebah Yogyakarta dan masih banyak situs Lingga Yoni yang menjadi tempat pemujaan peninggalan Mataram Hindu yang belum dieksavasi oleh Dinas Purbakala sebagai cagar budaya”[14].

Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi-candi Hindu berisikan lingga dan yoni sebagai simbol pemujaan terhadap Dewa Siwa al.,Candi Ijo di kampung Groyogan, kel. Sambirejo, kec. Prambanan, kab. Sleman[15], situs lingga yoni Mangir di Bantul[16],situs lingga yoni di desa Linggom Asri Pekalongan[17], situs lingga yoni di dekat goa Seplawan, Purworejo[18], candi Sukuh, Karanganyar, Solo[19], lingga yoni di candi UII[20] dll.

Membaca keberadaan lingga dan yoni yang tidak bisa dipisahkan dengan candi sebagai pelinggih, maka patut diduga keberadaan lingga dan yoni di Sumberadi Kebumen atau mungkin juga ada di bawah gundukan tanah dan bebatuan di desa Candi Mulyo, berhubungan dengan keberadaan sebuah candi. Asumsi ini perlu dipertimbangkan mengingat dalam banyak kasus dan salah satunya penemuan Arca Ganesha dan lingga yoni dalam satu tempat penggalian[21]


Keberadaan Arca Ganesha dan Lingga-Yoni Berdampingan

Sayangnya sampai hari ini belum ada tanda-tanda apapun yang dikaitkan dengan keberadaan sebuah candi di wilayah dimana lingga dan yoni ditemukan. Apakah mungkin di dalam gundukan tanah dan batu besar di Candi Mulyo berisikan candi? Waktu yang akan menjawab.

Jika dimasa yang akan datang kesadaran masyarakat akan benda-benda bersejarah dan kesadaran pemerintah daerah untuk melakukan konservasi benda-benda bersejarah semakin meningkat, mungkin kita akan menemukan sejumlah penemuan menakjubkan yang akan memperkaya sejarah masa lalmpau Kebumen.

Masuknya Islam di wilayah Kebumen Menggantikan Hindu

Jika mengikuti alur sejarah masuknya Islam versi Pondok Pesantren Somalangu berdasarkan Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada didalam Masjid Pondok Pesantren, maka diperoleh data bahwa pada tahun 1475 Ms telah berdiri pesantren tersebut di wilayah Somalangu. Prasasti dengan kandungan elemen kimia Al, Cr, H, K, O, dan Si ini bertuliskan huruf Jawa & Arab. Huruf Jawa menandai candra sengkalanya tahun. Sedangkan tulisan dalam huruf Arab adalah penjabaran dari candra sengkala tersebut. Terlihat jelas dalam angka tanggal yang tertera dengan huruf Arabic :“25 Sya’ban 879 H”. Ini artinya bahwa Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M[22]

Berikut riwayat singkat menurut artikel yang dipaparkan Ahmad Subandi: “Nama aslinya adalah Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani. Merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya bernama Sayid Abdur Rasyid bin Abdul Majid Al_Hasani, sedangkan ibunya bernama Syarifah Zulaikha binti Mahmud bin Abdullah bin Syekh Shahibuddin Al Huseini ‘Inath. Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani semenjak usia 18 bulan telah dibimbing dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan keagamaan oleh guru beliau yang bernama Sayid Ja’far Al_Huseini, Inath dengan cara hidup didalam goa – goa di Yaman. Oleh sang guru setelah dianggap cukup pembelajarannya, Sayid Muhammad ‘Ishom Al_Hasani kemudian diberi laqob (julukan) dengan Abdul Kahfi. Yang menurut sang guru artinya adalah orang yang pernah menyendiri beribadah kepada Allah swt dengan berdiam diri di goa selama bertahun – tahun lamanya. Nama Abdul Kahfi inilah yang kemudian masyhur dan lebih mengenalkan pada sosok beliau daripada nama aslinya sendiri yaitu Muhammad ‘Ishom.

Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani ketika berusia 17 tahun sempat menjadi panglima perang di Yaman selama 3 tahun. Setelah itu beliau tinggal di tanah Haram, Makkah. Kemudian Pada usia 24 tahun, beliau berangkat berdakwah ke Jawa. Mendarat pertama kali di pantai Karang Bolong, kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen.

Setelah menaklukan dan mengislamkan Resi Dara Pundi di desa Candi Karanganyar, Kebumen lalu menundukkan Resi Candra Tirto serta Resi Dhanu Tirto di desa Candi Wulan dan desa Candimulyo kecamatan Kebumen, beliau akhirnya masuk ke Somalangu. Ditempat yang waktu itu masih hutan belantara ini, beliau hanya bermujahadah sebentar, mohon kepada Allah swt agar kelak tempat yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Al_Kahfi Somalangu dapat dijadikan sebagai basis dakwah islamiyahnya yang penuh barokah dikemudian hari”[23]
Sebuah Rekonstruksi

Dari pemaparan di atas kita dapat menemukan benang merah kurang lebih sbb: Di wilayah dimana saat ini terdapat sejumlah situs Lingga Yoni khususnya di Sumberadi dan patut diduga di beberapa wilayah lainnya seperti di Candi Wulan dan Candi Mulyo, telah ada peradaban sebuah bagian dari kerajaan dari wangsa Sanjaya atau Syailendra (Abad VIII Ms) yang beragama Hindu dengan berpusatkan pada penyembahan Siwa, ditandai dengan keberadaan lingga dan yoni.

Saat Islam masuk melalui dakwah Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani pada Abad XV Ms terjadilah konflik teologis yang berujung pada ketengangan fisik berhadapan dengan  Resi Candra Tirto serta Resi Dhanu Tirto di desa Candi Wulan dan desa Candimulyo.

Kekalahan kedua tokoh Hindu tersebut ditandai dengan penimbunan situs keagamaan di dalam tanah dan pelarangan untuk membongkar dan membuka isinya. Peninggalan tersebut masih dapat dilihat hingga sekrang di desa Candi Wulan, Kebumen.

Sejak saat itulah desa Sumberadi khususnya Pesantren Somalangu menjadi basis dakwah Islam yang berpengaruh dan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan pada Abad XIX dengan keberadaan Batalyon Lemah Lanangnya.

Refleksi

Dari sejumlah analisis dan kajian di atas, penulis memberikan beberapa catatan kecil. Jika kita membuat periodisasi sejarah penghuni dan peradaban serta keagamaan di wilayah Kebumen, dapat dibagi dalam beberapa lapisan. Pertama, eksistensi Kebumen modern yang baru diresmikan keberadaannya pada tahun 1936 oleh Gubermen Belanda De Jonge, ternyata memiliki akar keagamaan dan kebudayaan yang sangat tua khususnya dari zaman dinasti Sanjaya dan Syailendra penganut Hindu pemuja Siwa. Kedua, setelah periode masuknya Islam ternjadi sebuah perubahan keagamaan dan kebudayaan yang turut membentuk masyarakat pra Kebumen modern. Pusat perkembangan Islam berpusat di Pesantren Somalangu, sebuah basis wilayah bekas pusat keagamaan Hindu. Ketiga, zaman pemerintahan Mataram yang menjadikan wilayah Panjer sebagai cikal bakal pusat pemerintahan kadipaten yang letaknya di eks pabrik Mexolie atau Sari Nabatiasa. Keempat, masuknya kolonialisme VOC dari pemerintahan Hindia Belanda yang memberikan berbagai perubahan-perubahan baik positip negatif terhadap kepemerintahan, struktur sosial dan dinamika kebudayaan serta keagamaan masyarakat Kebumen. Kelima, proklamasi kemerdekaan yang menjadikan Kebumen sebagai wilayah Kabupaten dari sebuah wilayah Propinsi Jawa Tengah.

Kita yang saat ini menjadi warga masyarakat Kebumen, berdiri di atas lapisan demi lapisan warisan sejarah. Bukan hanya berawal dari pemerintahan Islam melainkan zaman pemerintahan Sanjaya yang beragama Hindu. Semua agama dan peradaban yang masuk dan mewarnai leluhur dan masyarakat Kebumen modern memiliki nilai tersendiri.

Dengan kita memahami dan menyadari tentang apa dan bagaimana Kebumen pada zaman pra kemerdekaan dan pra Islam, kita patut bersyukur dan berbangga bahwa kita berdiam di sebuah wilayah yang memiliki pengaruh dan peradaban masa lalu yang agung.

Kekayaan sejarah ini hendaknya menjadi modal dasar baik bagi mereka yang menjadi pejabat publik dan birokrat maupun pengusaha serta masyarakat umum untuk membangun kota Kebumen demi kemajuan masa depan.


END NOTES

[1] Kebumen Ekspres, 5 Maret 2013, hal 1

[2] Candi
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi


[3] Candi
http://candi.pnri.go.id/pengantar/index.htm

[4] Ibid.,


[5] Op.Cit., Candi
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi


[6] Kerajaan Medang
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Medang


[7] Wangsa Sanjaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sanjaya


[8] Ibid.,

[9] Karesidenan Kedu
http://id.wikipedia.org/wiki/Karesidenan_Kedu


[10] Jelajah Situs Purbakala di Purworejo
http://www.yacob-ivan.com/2012/03/jelajah-situs-purbakala-di-purworejo.html

[11] Situs Lingga Yoni
http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=117&lang=id

[12] G.M. Nurjana, Lingga dan Yoni, Parisadar Hindu Dharma Indonesia
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1107&Itemid=79


[13] Lingga Yoni Altar Naga Situs Gedong Putri
http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/10/lingga-yoni-altar-naga-situs-gedong-putri-500703.html


[14] Ibid.,


[15] Candi Ijo
http://jogjatrip.com/id/190/Candi-Ijo


[16] Situs Lingga Yoni Mangir di Bantul
http://thearoengbinangproject.com/situs-lingga-yoni-mangir-bantul-jogja/


[17] Pemujaan Lingga di Jawa
http://hardisanatana.blogspot.com/2013/02/pemujaan-lingga-di-jawa.html


[18] Situs Candi Gondoarum
http://ikanmasteri.com/archives/5058


[19] Candi Sukuh
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh


[20] Aneh, Ditemukan Lingga Yoni di Candi Perwara
http://gudeg.net/id/news/2010/01/5170/Aneh-Ditemukan-Lingga-Yoni-di-Candi-Perwara.html#.UUFtQchlhYw


[21] Penemuan Patung Ganesha dan Lingga-Yoni di UII
http://oediku.wordpress.com/2009/12/24/penemuan-patung-ganesha-dan-lingga-yoni-di-uii/

[22] Ahmad Subandi, Pesantren dan Perguruan Islam Al Kahfi Somalangu Kebumen
http://sejarah.kompasiana.com/2010/10/08/pesantren-dan-perguruan-islam-al-kahfi-somalangu-kebumen-283419.html

[23] Ibid.,

2 komentar:

  1. wah menarik juga ulasannya...kirain ga ada pninggalan hindu di kbumn...salut bro!

    BalasHapus
  2. Mas....mungkin maksudnya bagus....tp agak tumpang tindih artik3lnya....judulnya Lingga-Yoni di Sumb3radi....tp sdikit ulasanya disitu (harusnya ini intinya)........lbh byk bahas lingga-yoni di lain t3mpat...mungkin dipisahkan lbh bagus...

    http://www.flickr.com/photos/43928101@N02/

    BalasHapus