Senin, 28 November 2016

BENARKAH BATU AKSARA CINA ADALAH PRASASTI ERA CENG HO?

Dalam sebuah artikel berjudul, “Temuan Prasasti Berhuruf Cina Penguat Keberadaan Tokoh Besar Nusantara di Panjer – Kebumen” (http://kebumen2013.com/temuan-prasasti-berhuruf-cina-penguat-keberadaan-tokoh-besar-nusantara-di-panjer-kebumen/), Ravie Ananda menghubungkan benda yang ditemukannya di bekas Pabrik Mexolie di kawasan dekat Stasiun Kebumen sebagai sebuah prasasti dari era Ceng Ho. Mari kita ikuti sejumlah argumentasi dan pernyataan dalam artikel tersebut.

Senin, 14 Maret 2016

BEBERAPA PEMIKIRAN PERIHAL KEWISATAAN DI KEBUMEN


Dalam acara Penyampaian Program Unggulan Bupati dan Wakil Bupati Bagi Para Pelaku Wisata di Kabupaten Kebumen yang dilaksanakan di Pendopo Bupati pada tanggal 10 Maret 2016 lalu pemerintahan daerah di bawah kepemimpinan Bapak H.M. Yahya Fuad bertekad untuk memfokuskan pada pembangunan kewisataan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan tentunya meningkatkan pendapatan daerah pula.

Menurut data, selama tahun 2015, pendapatan obyek wisata (Obwis) di Kabupaten Kebumen mencapai Rp. 5.653.204.994 atau 88,16% dari yang ditargetkan, yakni sebesar Rp 6.412.700.000. Dengan jumlah pengunjung mencapai tak kurang dari 1 juta orang. Data Disparbud Kabupaten Kebumen menunjukan pendapatan tertinggi berasal dari Obwis Gua Jatijajar sebanyak Rp. 2.292.678.320, kemudian disusul Pantai Suwuk yang mencapai Rp. 1.770.808.800. Selanjutnya pantai Logending menyumbang pendapatan Rp 594.446.500 serta Pantai Petanahan Rp. 318.234.200.http://www.kabupatenreport.com/pendapatan-obyek-wisata-kabupaten-kebumen-2015-capai-rp-56-milyar/). Dari data tersebut kita mendapati fakta bahwa hanya obyek-obyek wisata lama yang memberikan sumbangsih bagi PAD sementara jika ditelaah, Kebumen ternyata memiliki sejumlah destinasi wisata baru yang dikembangkan oleh beberapa komunitas masyarakat namun belum memberikan dampak secara signifikan bagi PAD.

Peningkatan kegiatan kewisataan bukan hanya persoalan promosi melainkan membutuhkan elemen-elemen pendukung lainnya yang saling menopang satu sama lain. Beberapa elemen yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan kewisataan di Kabupaten Kebumen al.,

Pertama, belum maksimalnya pengelolaan wilayah wisata. Jika kita melacak jejak destinasi wisata Kebumen, ternyata cukup banyak. Melalui sejumlah situs on line yang dikelola beberapa komunitas muda di Kebumen (al., explorekebumen.com) didapati sejumlah kawasan yang layak dijadikan destinasi wisata baru dalam wujud pantai, gua, air terjun, bebukitan eksotik, bentang alam namun semua potensi tersebut belum dikelola secara maksimal, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat. Beberapa kawasan wisata bebukitan yang sedang diperkenalkan saat ini al., Bukit Langit, Bukit Pentulu Indah, Bukit Hud. Beberapa kawasan wisata pantai baru al., Pantai Karang Agung, Pantai Pecaron, Pantai Bopong, Pantai Sawangan. Beberapa kawasan wisata berupa curug al., Curug Domas, Curug Silangit, Curug Sidomoro. Belum maksimalnya pengelolaan kawasan wisata baru tersebut nampak dalam pengelolaan tiket masuk. Dari mulai harga yang masih di bawah standar hingga kawasan yang belum dibebani pembiayaan sama sekali terhadap pengunjung. Belum lagi rute yang sulit ditempuh dan faktor keamanan kendaraan yang harus ditinggal di lokasi yang jauh dari lokasi wisata.

Rabu, 17 Februari 2016

KARST GOMBONG

nasional.tempo.com


Antara Investasi dan Kelestarian Lingkungan Serta Dampak Sosial

Dengan keberadaan Otonomi Daerah yang diatur dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014 maka daerah memiliki kewenangan yang lebih besar untuk melakukan pembangunan di daerah dengan memaksimalkan potensi-potensi di daerah baik potensi sumber daya alam, potensi wisata bahkan potensi investasi dengan mengundang investor masuk untuk menanamkan investasinya dan tidak hanya mengandalkan pendapatan dari sektor pajak dan restribusi belaka sesuai amaran dalam UU No 23 Tahun 2014 Bab XI Pasal 285.

Secara makro ekonomi, investasi diperlukan karena dapat menimbulkan sejumlah keuntungan al., meningkatkan pendapatan asli daerah, membuka lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat. Terkait dengan rencana pendirian Pabrik Semen Gombong di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan yang masih menimbulkan kontroversi dan penolakkan dari sejumlah elemen masyarakat khususnyadari Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Pepag), merupakan bagian dari proses investasi di daerah.

Senin, 25 Januari 2016

REVITALISASI NILAI POLITIS DAN EDUKATIF SENI TRADISI KETOPRAK BERBASIS KARAKTER BANYUMAS




Ketoprak Sebagai Seni Tradisi

Kesenian tradisional atau seni tradisi bisa didefinisikan sebagai bentuk kesenian yang lahir dan tumbuh dalam konteks wilayah tertentu yang diteruskan dari satu periode ke periode berikutnya. Setiap wilayah di Nusantara memiliki seni tradisinya masing-masing, baik yang lahir sejak periode pra kolonial maupun di era kolonial serta paska kolonial.

Ketoprak, merupakan salah satu seni tradisi yang berkembang di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dan berkategori teater rakyat yang memiliki karakteristik narasi bertemakan sejarah klasik (raja-raja), legenda (tokoh maupun asal usul sebuah wilayah), dongeng dan dimainkan oleh sejumlah pemain dengan menggunakan bahasa Jawa mulai dari ngoko hingga kromo inggil dengan diselingi canda dan sindiran. Istilah ketoprak sendiri diyakini berasal dari bunyi alat musik lesung yang menghasilkan bunyi “dung”, “dung”, “prak”, “prak”. 

Ada keragaman pendapat perihal kapan dan dimana pertama kali seni tradisi ketoprak ini mulai dikenal di kalangan masyarakat. Ada yang menjelaskan tahun tahun 1898 sebagai permulaan kehadiran ketoprak dengan menghubungkan nama R.M.T. Wreksodiningrat sebagai penggagas. Ada pula yang mengidentifikasi tahun 1922 di wilayah Mangukenagaran sebagai kelahiran seni tradisi ini.
 
Dalam perjalanannya, ketoprak sendiri mengalami perkembangan sebelum dikenal dalam bentuknya yang sekarang ini. Jika saat ini panggung ketoprak modern penuh dengan pernak pernik pencahayaan dan kemerlap pakaian para pemain serta sound effect yang memikat penonton, tidak demikian saat Ketoprak pertama kali muncul di masyarakat. Hasil Lokakarya Kethoprak tanggal 7-9 April 1974, membagi sejarah perkembangan kethoprak menjadi tiga periode: Periode kethoprak lesung, dari tahun 1887- 1925. Periode kethoprak peralihan, dari tahun 1925- 1927. Periode kethoprak gamelan, tahun 1927 sampai sekarang  (Afendy Widayat, Kethoprak: Seni Pertunjukan dan Seni Sastranya, Media Menuju Konteks Multikultural, Seminar Nasional Pemberdayaan KBJ III di UNY Yogyakarta, 2001).

Ketoprak, layaknya seni tradisi lainnya turut pula mengalami pasang surut ditengah era teknologi informasi yang semakin menjadi etika global dan ditinggalkan para penontonnya. Banyak kelompok kesenian ketoprak yang terpaksa gulung tikar digilas perubahan zaman manakala mereka tidak mampu mengatasi gejolak perubahan yang menuntut berbagai sikap responsif dan adaptif para penyelenggara dan pemainnya.

Melacak Jejak Seni Ketoprak di Gombong

Kabupaten Kebumen pun memiliki group-group seni tradisi termasuk ketoprak. Dalam daftar Dinas Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Kebumen Tahun 2012 diperoleh data jenis kesenian dan jumlah group sbb: Kuda lumping (95 grup), Wayang kulit (80 grup), Campursari (28 grup), Ketophrak (23 grup), Calung (21 grup), Rebana (17 grup), Lengger (11 grup), Jamjaneng (12 grup), Orkes/Dangdut (7 grup), Sanggar seni (4 grup) (M.T. Arifin, Media Penguatan Nilai-nilai Pembentukan Karakter Bangsa: Seni-Tradisi di Kabupaten Kebumen, Sarasehan Budaya di Aula DPRD Kebumen, 16 Oktober 2013). Gombong sebagai salah satu wilayah Kabupaten Kebumen pernah memiliki masa kejayaan ketoprak di periode tahun 1960-an hingga masa surutnya di tahun 90-an.

Minggu, 17 Januari 2016

NEGARA TANPA SEJARAWAN?






Lazim dalam percakapan umum terlontar nada merendahkan jika seorang siswa SMU hendak melanjutkan pada studi sejarah di perguruan tinggi dengan mengatakan, “mau kerja apa jika ambil ilmu sejarah?” Bahkan tidak jarang beberapa pendidik melontarkan kata dan kalimat yang melemahkan hasrat dan keinginan seorang siswa mendalami dan mempelajari ilmu sejarah. Mengapa ilmu sejarah kurang diapresiasi baik oleh segolongan pendidik maupun peserta didik? Alasan klasik yang kerap dikatakan biasanya, “ah, ilmu sejarah membosankan karena harus menghafal kisah dan tahun peristiwa bersejarah”. 

Saya tidak akan memfokuskan diri untuk menjawab pertanyaan, “mau kerja apa jika ambil ilmu sejarah?” namun memfokuskan memberikan penjelasan “apa yang terjadi jika sebuah negara tidak memiliki sejarawan yang menjaga ingatan masa lalu?” Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya tidak akan memulai dengan memberikan penjelasan-penjelasan normatif namun dengan membawa para pembaca untuk melakukan permenungan kritis. Apa yang terjadi jika Prapanca tidak menuliskan Kitab Negarakretagama dan apa yang terjadi jika Empu Tantular tidak menuliskan Kitab Kakawin Sutasoma? Kitab Negarakretagama berisikan 98 pupuh dan berkat kitab ini kita bisa mengetahui banyak perihal kebesaran Majapahit mulai dari sistem politik, sistem sosial serta sistem agama di era kebesaran raja Hayamwuruk. Bahkan menurut Prof. Slamet Mulayana, “Berkat uraiannya, kita dapat sekadar mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di Kerajaan Majapahit pada zaman pemerintahan Raja Rajasanagara sampai tahun 1365. Untuk menggambarkan betapa luasnya Majapahit, ia menjumlah secara sistematis negara-negara bawahan dalam kelompok-kelompok; disajikan dalam pupuh 13 dan 14” (Tafsir Sejarah Negara Kretagama, 2006:334). Kitab Sutasoma merupakan kisah epik bernafas agama Budha dalam dalam pupuh 139:5 tercantum kalimat, “Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa (Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda), Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen (Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?), Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal (Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal), Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa (Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua)”

Selasa, 05 Januari 2016

TIDAK ADA PERADABAN KABALISTIK DI KEBUMEN!


Tanggapan Terhadap Artikel Ravie Ananda, 
“Temuan Peradaban Kabalistik di Kebumen”

http://kebumen2013.com/temuan-peradaban-kabalistik-di-kebumen/#prettyPhoto
 
Saat membaca judul dan memahami isi artikel Sdr. Ravie Ananda, saya benar-benar diherankan dengan sebuah istilah yang aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun yaitu “peradaban Kabalistik di Kebumen”. Mengapa saya katakan aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun? Pertama, penggunaan istilah peradaban yang dihubungkan dengan nama Kebumen terlalu berlebihan karena tidak pernah ada peradaban Kebumen selain peradaban Jawa dimana Kebumen adalah bagian dari Jawa. Berikut pernyataan Sdr Ravie Ananda terkait istilah “peradaban Kebumen”, “Masyarakat Kebumen bahkan cenderung tidak percaya jika ada ulasan sejarah peradaban kuno mengenai daerahnya dikarenakan terlalu lamanya data – data peradaban kita ditutup oleh penjajah dan kelompok tertentu saat ini dengan tujuan masing – masing. Ditinjau dari ilmu geologi, sebenarnya sulit dibantah bahwa keberadaan dataran Kebumen terbukti sebagai dataran pertama yang muncul di asia akibat tumbukan (subduksi) lempeng samudera dan benua. Dengan kata lain dataran Kebumen merupakan dataran tertua dimana seharusnya peradaban telah muncul sejak lama di tempat itu. Temuan terbaru berupa data Belanda yang berisi laporan temuan purbakala di daerah Kebumen pada kurun 1850 – 1900 an semakin membuka mata kita sebagai masyarakat Kebumen untuk lebih bangga dengan daerah sendiri karena dari data tersebut dapat diketahui bahwa peradaban Kebumen telah ada sejak jaman dahulu kala”.

Kedua, Menghubungkan istilah Kabalistik yang berasal dari kata Ibrani Kabalah dengan sebuah peradaban, padahal istilah Kabalah bukanlah sebuah nama untuk peradaban melainkan sebuah aliran keagamaan dalam Yudaisme yang menekankan aspek esoteris atau dunia batin yang setara dengan Tasawuf dalam Islam. Sangat minimnya pengetahuan bahkan data mengenai perjalanan sejarah peradaban kuno di Kebumen memiliki dampak besar terhadap kurangnya rasa handarbeni dan kecintaan generasi Kebumen terhadap daerahnya. Adanya ulasan – ulasan sejarah yang mayoritas tertuju pada peradaban kuno daerah lain akhirnya secara tidak sadar berhasil membuat jatuh hati termasuk juga generasi muda Kebumen pada daerah tersebut.  Dalam artikelnya, Sdr Ravie Ananda berusaha untuk membuktikan adanya “peradaban Kebumen” dengan menginventarisir sejumlah temuan di era kolonial yang tersimpan di Museum di Amsterdam namun tanpa menyebut nama museum tersebut padahal di Amsterdam ada banyak museum seperti: The Allard Pierson Museum, The Amsterdam Museum, The Anne Frank House, The Joods Historisch Museum, The Nederlands Filmmuseum, The Stadsarchief Amsterdam, Museumwoning Tuindorp Oostzaan, Tropenmuseum, Verzetsmuseum, dll. Dari 16 daftar yang ditulis Sdr. Ravie Ananda ada satu yang menarik perhatian saya yaitu pada urutan nomor 6 dengan penjelasan, “Cincin emas segel oval dengan sisi menyudut berinskipsi kabalistik, ditemukan di daerah Srepeng (daftar arsip no. 1345)”. 
 
Tidak Ada Peradaban Kebumen
 
Supratikno Rahardjo memetakan kajian peradaban menjadi beberapa kelompok pembahasan sebagaimana dikatakan, “Menurut permasalahannya, penggunaan istilah ‘peradaban’ dapat dikelompokkan ke dalam empat tema: peradaban dan kebudayaan, peradaban dan kehidupan kota, peradaban dan pembelahan masyarakat, serta peradaban dan kehidupan bernegara” (Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, 2011:19). Sekalipun beberapa ahli Antropologi ada yang menyamakan dan mengidentikkan antara “kebudayaan” dan “peradaban” namun merujuk pada istilah yang berbeda (culture dan civilization), maka seharusnya ada perbedaan yang cukup tegas diantara kedua istilah tersebut. Menurut Supratikno, Koentjaraningratlah yang mempertegas perbedaan istilaah antara “kebudayaan” dan “peradaban” sebagaimana dikatakan, “Di Indonesia istilah peradaban dalam analisis ilmiah pertama kali didefinisikan secara tegas oleh Koentjaraningrat (1983:10, Polemik Kebudayaan, 1938). Pakar Antropologi ini menggunakan istilah peradaban dalam arti yang persis sama dengan istilah bahasa Inggris civilizaion, tetapi juga memasukkan pengertian yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Istilah tersebut digunakkan untuk menyebut unsur-unsur kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun dan sistem pergaulan dalam masyarakat kompleks. Juga dikaitkan dengan suatu kebudayaan yang memiliki sifat maju dan kompleks dalam aspek-aspek teknologi, seni bangun, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan” (Ibid., hal 23).
 

Rabu, 30 Desember 2015

DAYA TARIK GOMBONG BAGI ETNIS TIONGHOA DI ERA KOLONIAL




Jika kita memperhatikan dengan seksama wilayah Gombong, maka didapati sejumlah bangunan khas etnis Tionghoa klasik yang masih bertahan hingga kini di sejumlah ruas jalan. Sebut saja yang terkenal dan kini dijadikan museum sekaligus kegiatan kebudayaan yaitu Rumah Martha Tilaar (RMT) yang bercorak the Dutch Colonial. Rumah ini didirikan tahun 1920 milik Liem Siaw Lan putra kedua Liem Kiem Seng/Song, seorang Tionghoa yang datang dari Desa Jinli, Kota Haichang, Xianmen, China. Kemudian gedung khas Tionghoa yang berdiri di tepi perhentian lampu merah menuju Sempor. Menurut informasi dahulunya adalah pabrik rokok dengan nama Nusa Harapan. Sayang kondisinya tidak terawat hingga hari ini sekalipun kondisi gedung masih nampak utuh jika dipandang dari luar.

Yang menarik dalam presentasi yang disampaikan Sigit Tri Wibowo selaku Deputi Program Rumah Budaya Martha Tilaar pada pertemuan Pegupon Kopong (Pertemuan Minggu Pon Komunitas Pusaka Gombong) Tanggal 20 Desember 2015 lalu perihal perkembangan lembaga-lembaga pendidikan di Gombong pada zaman kolonial, ternyata ditemukan beberapa sekolah yang didirikan untuk etnis Tionghoa yaitu Holland Chinese School yang didirikan oleh pemerintah Belanda (berlokasi di Jl. Sempor Lama 28) dan Zong Hua Xue Xiao yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) (berlokasi di Jl. Sempor Lama 2) selain sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda, badan Misi Kristen, serta masyarakat seperti Neutrale Lagere School, Twede School, Pupilen School, Kartini School, Christelijke Holands Hollands Javanse, Schaalkel School, Europeesche Lagere  School (Kebumen Ekspres, 22 Desember 2015).