Rabu, 27 Maret 2019

MENIKMATI AROMA DILEM DI CURUG SINDARO


Perjalanan siang hari yang mendung dengan sensasi jalanan menanjak mengelok dan pemandangan alam berupa tebing batuan pasir dengan pepohonan pinus di atasnya dan barisan bukit mengawasi di kejauhan serta tegalan sawah warga menghampar di lembah, berakhir di sebuah lokasi wisata bernama Curug Sindaro. Diresmikan oleh Bupati Kebumen Bapak Yazid Mahfudz, 3 Maret 2019 lalu, curug yang terletak di Dukuh Kalikecot, Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung menawarkan wisata alam berupa air terjun dengan ketinggian sekitar 25-30 meter.


Curug (bahasa Sunda yang artinya air terjun), adalah formasi geologi yang berasal dari arus air yang mengalir melewati suatu formasi bebatuan yang mengalami erosi dan jatuh ke bawah dari ketinggian tertentu. Sebenarnya Curug Sindaro bukan satu-satunya lokasi air terjun di wilayah Kebumen karena masih ada beberapa lokasi air terjun baik yang belum dikelola secara resmi sebagai lokasi wisata maupun sudah dikelola namun dengan sentuhan yang kurang maksimal. 


Beberapa lokasi air terjun atau curug tersebut adalah, Curug Gemawang Desa Candirego Kecamatan Ayah, Curug Wringin Desa Plumbon Kecamatan Karangsambung, Curug Kedondong Desa Gunung Sari Kecamatan Karangsambung, Curug Silangit Desa Sidoagung Kecamatan Sruweng, Curug Sawangan Desa Karangduwur Kecamatan Ayah, Curug Silancur Desa Wadasmalang Kecamatan Karangsambung, Curug Sudimoro Desa Donorejo Kecamatan Sempor, Curug Grojogan Kuang Desa Kedungiyom Kecamatan Alian, Curug Kedungwuni Desa Rawareja Kecamatan Kebumen, Curug Karang Gemantung Desa Pucangan Kecamatan Sadang, Curug Pandansari Desa pandansari Kecamatan Sruweng, Curug Sikebut Desa Ginandong Kecamatan Karanggayam.

Bukan hanya curug, Kebumen yang dilintasi formasi geologis mulai dari kawasan Karangsambung hingga Karangbolong memiliki ratusan gua hasil bentukan formasi geologis sebagaimana pernah dilansir salah satu media on line, “Kabupaten Kebumen merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang paling banyak terdapat goa alaminya. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Peduli Lingkungan Bukit Seribu Jawa Tengah sejak tahun 1999 hingga tahun 2002, jumlah goa yang ada di Kebumen ada sekitar 263 goa. Kendati demikian, dari sekian banyak goa yang ada tersebut, baru sekitar 10 persennya saja yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen. Sedangkan 90 persen sisanya, sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal" (90 Persen Goa Kebumen Belum Termanfaatkan - sorotkebumen.com).

Kembali ke Curug Sindaro. Apa keistimewaan lokasi wisata baru ini? Dari segi bentang alam berupa air terjun, tentu keberadaan air terjun lainnya tidak kalah eksotis dan menarik. Mungkin dari sisi kesiapan sebagai sebuah lokasi wisata baru, Curug Sindaro menjadi lebih istimewa dibandingkan dengan lokasi wisata air terjun lainnya. Wujud kesiapan tersebut tidak terlepas dengan kehadiran pemerintah daerah yang akan meresmikan sekaligus posisi Curug Sindaro yang masuk dalam kawasan situs geologis Geopark Karangsambung-Karangbolong.


Sejumlah kesiapan material diperlihatkan dengan rute jalan menuju lokasi masuk ke arah air terjun yang kurang lebih 300-an meter dan menurun serta mengelok disemen dimana di bagian kiri dan kanan jalan dibuat sistem bertakik sehingga memudahkan pengunjung naik dan turun. Sepanjang jalan dan tikungan ada pondokkan kayu berisikan orang berjualan. Jika hujan turun tentu sejumlah pengunjung dapat ikut berteduh di dalamnya.

Sembari menyusuri jalanan menurun dan mengelok, semerbak harum memberikan efek relaksasi. Saat penulis bertanya kepada beberapa orang yang bercocok tanam di sekitar lokasi wisata, ternyata aroma mewangi tersebut berasal dari tumbuhan Nilam (masyarakat sekitar menyebutnya dengan Dilem) yang dapat disuling dan dimanfaatkan sebagai minyak wangi.


Tidak kalah memikatnya adalah penampakkan gemericik air yang menjatuhi bebatuan di samping jalanan menurun dan batang bambu yang mengalirkan air pegunungan yang dingin dan menyegarkan sehingga penulis dapat meletakkan tangan sekedar mencuci tangan dan merasakan sensasi hawa dinginnya.


Kesiapan material lainnya adalah ketersediaan gazebo kecil dan toilet bersih beberapa meter dari lokasi air terjun. Jembatan buatan yang melewati arus sungai yang mengalir dari air terjun menjadi spot foto yang menarik karena dapat menyaksikan keindahan air terjun dari arah jembatan.


Dari sejumlah kesiapan material di atas masih tersisa satu hal yang menarik penulis selain menikmati air terjun di suasana keheningan di luar hari libur tersebut. Tempat sampah! Ya, tempat sampah. Di setiap jalanan menurun disediakan tempat sampah dan ditulis oleh pengelola. Membuang sampah sembarangan masih menjadi sebuah problem yang kerap kurang mendapat perhatian dari banyak pihak, baik pengelola wisata maupun pengunjung. Di sejumlah tempat wisata – baik wisata lama maupun wisata baru – masih ditemui sampah berserakkan di sembarang tempat dan tidak segera dibersihkan, sementara ketersediaan tempat sampah sangat minim.


Membuang sampah di tempatnya dan menahan membuang sampah di sembarang tempat bukan sekedar perilaku biasa. Itu terkait pemahaman budaya suatu masyarakat. Kita kerap terjebak dalam memahami kebudayaan semata-mata pada bentuk-bentuk material berupa kesenian dan tarian. Kebudayaan meliputi kompleksitas cipta, rasa dan karsa. 

Bukan hanya kesenian bahkan kesastraan dan teknologi adalah hasil kebudayaan masyarakat. Demikian pula gaya hidup bersih lingkungan – khususnya di area wisata – adalah bagian dari kebudayaan masyarakat. Kiranya pengelola area wisata Curug Sindaro dapat mempertahankan suasana sejuk dan bersih dengan pro aktif bukan hanya menyediakan tempat sampah lebih banyak namun mengarahkan sejak melakukan pembayaran di loket untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Atau setidaknya ada petugas yang secara rutin mengawasi sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan.

Terlalu dini bagi penulis untuk memberikan penilaian ini dan itu terhadap lokasi wisata Curug Sindaro mengingat keberadaannya yang masih baru 1 bulan dari diresmikan. Namun setidaknya kesan ketika memasuki lokasi wisata ini dan aroma Dilem (Nilam) serta butiran air terjun yang jatuh melantunkan melodi ketenangan memaksa penulis untuk menuangkan dalam bentuk tulisan sebagai dorongan sekaligus harapan agar lokasi wisata Curug Sindaro dapat mempertahankan suasana yang layak bagi mereka yang menggemari eksotika alam.

Hmm, secangkir kopi menemani telah habis seiring tuntasnya tulisan ini. Harum Dilem belum jua pergi memainkan imajinasi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar