Rabu, 17 Januari 2018

ARCA GANESHA DI KEJAWANG


Nama Desa Kejawang memiliki kedudukkan historis yang dikaitkan dengan eksistensi Pangeran Diponegoro, dimana beberapa hari sebelum Pangeran Diponegoro melakukan perundingan di Magelang, dua desa yaitu Remo Kamal dan Kejawang menjadi tempat persinggahan sementara. Ravie Ananda dalam artikelnya, Kejawang-Karangsari, Keping Penutup Perang Dipanegara menyebutkan perihal Kejawang sbb, “Sebuah tempat di puncak gunung Tambaksari (kini Desa Kejawang kec. Sruweng) selama hampir 1,5 tahun menjadi tempat tinggal dan markas Pangeran Dipanegara. Dari tempat ini lah beliau mengatur strategi  peperangan  di wilayah Bagelen dan sekitarnya sehingga Pangeran Dipanegara dikenal sebagai Sultan van Kejawang” (1).

Entah bersumber darimana pernyatan Ravie Ananda mengenai Diponegoro berdiam 1,5 tahun di Kejawang namun menurut penjelasan Saleh As’ad Djamhari, Diponegoro hanya singgah dan tinggal beberapa hari saja di Kejawang sebagaimana dilaporkan, “Cleerens kemudian memerintahkan Mayor Buschkens membuat persiapan dengan sempurna. Sebuah pesanggrahan dibangun di Remo dan di Kejawan sebagai tempat pertemun. Pasukan Buschkens diperintahkan bersiaga di gapura yang jaraknya di luar jangkauan jarak tembak (sepambedhil awatara tebihipun). Jalanan diperbaiki dan ditimbun dengan pasir. Pada Senin 16 Februari 1830, sekitar pukul 10 pagi, Diponegoro tiba di Remokawal dengan penghormatan yang luar biasa. Cleerens datang terlambat” (2). Dari pernyataan Saleh As’ad Djamhari, dapat dimaknai bahwa Diponegoro tidak tinggal di Kejawang melainkan tiba di Kejawang dan beberapa hari kemudian berangkat ke Magelang melalui Kalirejo-Kaliabu-Menoreh-Borobudur-Magelang beberapa hari kemudian sebagaimana dikatakan, “Pada 21 Februari 1830, Diponegoro tiba di Menoreh” (3)

Kejawang, nampaknya sebelum datangnya Islam telah menjadi wilayah yang ditinggali orang-orang beragama Hindu pemuja Siwa. Hal ini didukung dengan penemuan arca Ganesha pada sekitar tahun 1999 oleh Bapak Tugino (58 tahun) namun baru diekspose oleh Koran Kebumen Ekspres (10 Januari 2018) dan saat ini di simpan di Balai Pertemuan Warga dan telah ditandai dengan numerisasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arca Ganesha dengan tinggi sekitar 50-60 cm dan bobot sekitar 35 kg tersusun dari batu tufaa ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Bapak Tugino saat melihat gundukan tanah dengan sebuah lubang. Gundukkan tanah tersebut ternyata berisikkan material batu padas yang berlubang dan saat dibongkar di dalamnya berisikan arca Ganesha. 





Menurutnya pengakuan Bapak Tugino sebenarnya ada tiga artefak yang ditemukkan selain arca Ganesha yaitu sandaran (prabhamandala) arca berbentuk seperti gunungan wayang dan bak air dari batu padas. kedua artefak tersebut telah hilang akibat masyarakat sendiri tidak terlalu memahami fungsi dan nilai arkeologis dan historis artefak tersebut. Mirisnya lagi, lokasi penemuan situs dimana dahulu terdapat semacam altar terbuat dari batu bata merah dengan ukuran besar saat ini telah menjadi tempat menimbun sampah beberapa meter dari kuburan desa yang juga beberapa ratus meter lokasinya dengan sungai.



Keberadaan arca Ganesha tanpa bangunan candi dapat dimaklumi dikarenakan arca dewa-dewi Hindu ada yang ditaruh di dalam candi dan ada pula yang ditaruh di luar candi sebagaimana dikatakan. Arca yang tidak ditempatkan di dalam candi dikategorikan Istadewa yaitu arca yang dipuja secara pribadi, sehingga arca tersebut tidak menjadi bagian inheren bangunan candi (4). Arca Ganesha sendiri selain dipuja juga memiliki kedudukkan sebagai penghalang segala rintangan atau yang dikenal dengan istilah Vigneshwara. Sebagai dewa penghalang rintangan, arca Ganesha di tempatkan di lokasi yang rawan semisal di perempatan jalan atau dekat sungai (5). 

Keberadaan arca Ganesha di Kejawang yang posisinya hanya beberapa ratu meter cukup menjelaskan fungsinya yang bukan saja dipuja melainkan menjadi dewa penghalau bencana. Keberadaan arca Ganesha tersebut bisa jadi milik perorangan atau masyarakat. Dalam ritual keagamaan keberadaan arca memanifestasikan kehadiran dewa yang disembah sebagaimana dikatakan Agus Aris Munandar, “Arca-arca dewa dipandang telah diisi oleh prana dewa-dewa dan tentu saja menjadi sangat keramat” (6)


Masyarakat Hindu percaya Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan. Maka di banyak tempat, termasuk di Bali dan Jawa, sampai sekarang masyarakat Hindu sering membangun kuil berisi Dewa Ganesha. Konon hal ini dimaksudkan agar anak-anak yang dilahirkan menjadi pintar dan berbakti kepada orang tua.

Menurut Kitab Siwa Purana, Dewi Parvati (isteri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, maka dia menciptakan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ganesha. Dia berpesan kepada Ganesha agar tidak mengizinkan siapa pun masuk ke rumahnya saat Dewi Parwati mandi. Dia pun hanya boleh menuruti perintah Dewi Parwati. Pesan dan perintah tersebut dilaksanakan dengan patuh oleh Ganesha. Suatu ketika Dewa Siwa pulang dan hendak masuk ke rumahnya. Namun ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh si anak kecil itu. Ganesha melarangnya karena dia melaksanakan perintah Dewi Parwati. Dewa Siwa menjelaskan dan meyakinkan bahwa ia suami Dewi Parwati dan rumah yang dijaga Ganesha adalah rumahnya juga. Namun Ganesha tetap tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa. Akhirnya Dewa Siwa kehilangan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesha. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesha. Saat Dewi Parwati selesai mandi, ia menemukan putranya sudah tak bernyawa. Mengetahui putranya dibunuh oleh Dewa Siwa, ia menjadi amat marah dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Dewa Siwa kemudian menemui Dewa Brahma menceritakan kejadian tersebut. Atas saran Dewa Brahma, Dewa Siwa mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Saat turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Saat mengetahui kepalanya akan dipenggal sang gajah melawan hingga salah satu gadingnya patah. Namun kepala gajah itu pun akhirnya dapat dipenggal dan digunakan untuk menggantikan kepala Ganesha. Akhirnya Ganesha dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa.


Arca Ganesha umumnya digambarkan sebagai mahluk berkepala gajah, berbadan manusia, perut buncit, taring patah sebelah, asana (sikap duduk) berupa deretan tengkorak yang disebut kapala, mempunyai mata ketiga, memiliki upawita atau talikasta ular, memiliki jatamakuta (mahkota rambut yang dipilin) dengan hiasan chandrakapala (tengkorak di atas bulan sabit), bertangan empat dengan tangan kanan depan memegang gading yang patah, tangan kiri depan membawa modaka (sejenis kue yang digambarkan bulat dan ditempatkan di sebuah mangkuk), sementara tangan kanan belakang membawa aksamala (kalung semacam tasbih) dan tangan kiri bawah membawa kapak (7).


Penampakkan arca Ganesha yang ditemukan dan disimpan saat ini mewakili karakter di atas sekalipun perwujudannya sudah tidak begitu dapat dikenali dengan baik selain  mahkota, belalai dan sikap duduk. Anehnya, tangan arca Ganesha hanya dua yang seharusnya empat. Apakah yang dua terpahat di bagian prabhamandala (sandaran) yang hilang tidak dapat dipastikan.

Keberadaan arca Ganesha di desa Kejawang memberikan informasi penting perihal keberadaan desa yang sangat tua sebelum Islam hadir dimana menjadi salah satu wilayah agama Hindu yang memuja Siwa yang diperkirakan di era kejayaan Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) yaitu sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 Ms yang kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Ms.

Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11 Ms. Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram).

Eksistensi arca Ganesha di desa Kejawang mengingatkan saya pada eksistensi Lingga dan Yoni yang berada di desa Sumberadi atau Somalangu (8) merupakan ekspresi keyakinan Hinduisme yang berpusat pada Siwa sebagaimana arca Ganesha yang adalah anak Siwa. Bukan tidak mungkin di desa Kejawang masih menyimpan artefak-artefak keagamaan Hinduisme yang menunggu untuk ditemukan.

Sudah selayaknya pemerintahan desa merespon temuan arca Ganesha dengan memberikan himbauan dan edukasi kepada masyarakat agar turut berpartisipasi dalam penemuan, pelaporan, perawatan artefak-artefak keagamaan pra Islam sehingga terhindar dari perusakkan dan pencurian serta penjualan di pasar gelap barang-barang antik.

Kita menunggu episode berikutnya alam menyingkapkan sesuai waktunya artefak-artefak yang bernilai arkeologis demi menyusun peta sosio historis desa-desa di masa pra Islam di wilayah Kebumen.


End Notes:

(1) Ravie Ananda, Kejawang – Karangsari Keping Penutup Perang Dipanegara
https://kebumen2013.com/kejawang-karangsari-keping-penutup-perang-dipanegara/
 
(2) Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Diponegoro: Stelsel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu 2014: 177
 
(3) Ibid.,
 
(4) Katalog Koleksi Arca Batu Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, 2014:3-4
 
(5) Ibid.,
 
(6) Agus Aris Munandar, Ibukota Majapahit: Masa Kejayaan dan Pencapaian, Komunitas Bambu 2008:36
 
(7) Ratnaesih Maulana, Ikonografi Indonesia, Fakultas Sastra UI 1997:104
 
(8) Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi
http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/nilai-keberadaan-lingga-dan-yoni-di.html

2 komentar:

  1. Pak Teguh yang terhormat.. saya sangat mengapresiasi sekali dengan pemaparan anda dan juga Pak Ravie Ananda, sebagai tokoh muda Kebumen yang perduli dengan "tanah kelahiranya".

    Anda berdua adalah manusia yang istimewa, mau menggali dan belajar sejarah kebumen sebagai tempat yang membanggakan dari sebuah negara yang Kaya Keanekaragaman.

    kalo boleh saya mau meminta tolong kepada pak teguh,.
    selama ini, masih banyak masyarakat terutama masyarakat kebumen yang menganggap bahwa jalan daendels selatan merupakan jalan yang sama dengan jalan daendels (anyer-panarukan), padahal kenyataannya it berbeda.

    nah, di sini saya ingin mengangkat kebenaran mengenai jalan tersebut ke dalam sebuah film dokumenter. yang semoga film tersebut bisa memberikan pengertian yang baik kepada masyarakat kebumen terutama, bahwa kedua jalan daendels tersebut merupakan jalan yang berbeda.

    sebelum membuat film tersebut, dibutuhkan data data riset yang benar, agar nantinya tidak melenceng dari sejarah sebenarnya.

    jika pak teguh berkenan, saya ingin mengobrol lebih jauh tentang jalan daendels selatan dengan pak teguh..

    semoga tulisan2 dari pak teguh, bisa bermanfaat dan memberikan pelajaran penting untuk masyarakat kebumen.

    sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih..
    wassalamualaikum wr. wb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Sejahtera Pak Achmad Choeron. Saya merasa mendapat kehormatan dengan keinginan saya menjadikan narasumber. Sebelumnya mengucapkan terimakasih atas apresiasi yang panjenengan berikan pada tulisan saya.

      Perihal Jalan Daendels Selatan/Diponegoro saya sendiri belum memiliki data lengkap seperti Anda minta sehingga saya belum siap jika dijadikan narasumber. Namun demikian sayapun meragukan pernyataan mas Ravie yang mengatakan bahwa jalan tersebut sudah ada sejak Abad 14 Ms. Entah data mana yang dia jadikan rujukkan. Anehnya pernyataan tersebut begitu saja dirujuk oleh Isywara N Raditya seorang penulis di Tirto.id

      Saya sendiri tidak menuliskan artikel-artikel terkait peristiwa sejarah lokal di Kebumen sebelum mendapatkan data baik data lisan dan tulisan. Untuk sejarah Jalan Daendles di selatan memang belum menjadi perhatian saya.

      Tapi jika Anda sekedar ingin bertukar pikiran, saya senang jika Anda berkenan datang ke rumah saya. Anda bisa menghubungi via email derekhatov@gmail.com

      Salam Hormat

      Hapus