Kamis, 14 Februari 2013

MONUMEN KEMIT DAN SANG PERANCANG


Di wilayah antara Karanganyar dan Gombong berdiri sebuah monumen perjuangan mengenang peristiwa pertempuran Kemit. Di wilayah Kemit pernah terjadi pertempuran sengit antara pasukan republik, tentara pelajar dan pasukan Belanda.

Pertempuran terjadi sebagai akibat pelanggaran Belanda terhadap hasil Perundingan Linggarjati. Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947[1] .

Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda [2].

Latar belakang Agresi Militer Belanda I adalah, Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini. Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. 

Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia[3] .

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula[4] .

Ekspansi Belanda saat Agresi I mencapai Gombong dan menetapkan Kali Kemit sebagai Garis Demarkasi/Garis Status Quo[5]. Agresi Belanda I ditengahi melalui Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 namun beberapa bulan kemudian Belanda melakukan pelanggaran hingga pada 18 Desember 1948 Belanda melakukan Agrresi Militer 2 di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya termasuk Gombong.

Pada hari Minggu pagi – pagi benar pukul 05.30 Wib tanggal 19 Desember 1948 Komandan Kompi III Batalyon III Brigade X (Batalyon Sroehardoyo) yang berkedudukan di Nampudadi dan Kepala Staf Kompi III Serma Koedoes mendengar ledakan Granat dari arah Kemit. Suara yang sama terdengar pula oleh Kapten Soemrahadi pimpinan sementara Kompi III karena Komandan Kompi III Kapten Radjiman sedang ke Purworejo untuk menengok keluarganya yang sakit. Ledakan granat itu tidak diragukan lagi setelah adanya laporan dari Kopral Soeroyo anggota regu Combat pimpinan Serma Soekidi yang bertugas di dalam kota Gombong, bahwa ledakan tersebut merupakan isyarat bahwa Belanda melaksanakan rencananya door stoot naar Yogyakarta. Hal itu menjadi lebih meyakinkan dengan adanya siaran RRI Yogyakarta secara berulang – ulang[6].

Ledakan tersebut memakan korban tujuh Polisi Keamanan. Ketujuh Polisi Keamanan yang menjalankan tugas istimewa menjaga garis Demarkasi/Status Quo Kemit ini gugur pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 05.00 Wib saat Belanda memulai aksi militernya (Agresi Militer II) dengan terlebih dahulu menghabisi mereka yang pada saat itu menghuni rumah Bapak Prawiro Sumarto, timur pasar Kemit sebagai Pos PK pihak RI. Makam tujuh Pahlawan tersebut sebelumnya terletak di lokasi yang tidak layak (comberan), kemudian atas swadaya masyarakat Kemit, dipindahkan ke pemakaman yang layak di desa Grenggeng diprakarsai oleh Bp. Taufik dan Bp. Dwidjomartono[7].

Peristiwa tersebut diabadikan dengan didirikannya monumen Kemit oleh pemerintahan Kabupaten Kebumen. Siapakah tokoh pembuat monumen Kemit? Mungkin tidak banyak generasi muda yang mengetahuinya. Beliau bernama Tan Giok Twan atau lebih dikenal dengan nama Teguh Twan. Beliau saat ini tinggal di Jalan Pemuda 35 Kebumen. Kisah kehidupan beliau pernah dimuat secara berseri oleh Suara Merdeka[8]




Monumen Kemit

Teguh Twan adalah pria kelahiran 1939. Pekerjaan beliau sehari-hari adalah pelukis dan pemahat. Beliau lulus Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1960. Pada tahun 1973 beliau mendapatkan tugas dari Bupati Kebumen untuk membuat sebuah monumen perjuangan dan pengerjaan di mulai pada tahun 1974 dan diselesaikan pada tahun 1975. Biaya pengerjaan monumen tersebut diperkirakan sekitar 5-7 juta.


Tugu Lawet

Pada tahun yang sama yaitu 1975, rekan beliau sesama pemahat bernama Suko mengerjakan Tugu Lawet. Ada sedikit keluh kesah dan kerisauan beliau mengenai pewarnaan Tugu Lawet saat penulis berkunjung dan mewawancarainya. Beliau berkata, “Jika hendak mencat Tugu Lawet seharusnya menggunakan warna yang monumental, jangan beraneka warna seperti itu. Apalagi pencari burung waletnya menggunakan celana yang di warna-warni”. Sebuah kritik yang selayaknya dipertimbangkan oleh instansi terkait saat melakukan perawatan dan pengecatan ulang sebuah benda monumental agar tidak mengurangi nilai filosofi dan karya seni menjadi sebuah tertawaan bagi yang paham nilai filosofi dan karya seni.



Teguh Twan Saat Mengerjakan Relief (1975)

Ada banyak cerita dan suka duka dibalik pembangunan Monumen Perjuangan Kemit yang dipercayakan pada beliau kala itu. Antara lain, adanya ungkapan sentimen rasialisme dari beberapa oknum dengan mengirimkan surat kaleng yang berisikan protes yang mempertanyakan perihal mengapa orang beretnis Tionghoa dipercayakan membuat relief dan monumen perjuangan? Dengan sedikit emosi namun tertahan renta, beliau menegaskan saat bercakap-cakap dengan penulis bahwa dia lahir di Kebumen dan mewarisi baik sifat etnis Tionghoa dan etnis Jawa sekaligus di dalam dirinya. 

Dia kerap tersudut dengan kenyataan saat dia bermasalah dengan orang Jawa, dia diejek sebagai Tionghoa sementara saat dia bermasalah dengan orang Tionghoa dia kerap diejek sebagai Jawa. Ketersudutan itulah yang membuat dia berkeputusan untuk membela eksistensi dirinya berniat melakukan teguran fisik jika ada yang menyudutkannya dengan menghubung-hubungkan dengan keetnisannya.


Teguh Twan Saat Mengerjakan Patung Pahlawan

Di Era Reformasi ini, pluralitas baik agama, suku, etnis, ras justru diberi ruang untuk dapat saling bertemu sekalipun masih saja ada kelompok-kelompok yang belum bisa menerima kenyataan dan perubahan zaman tersebut. Di Kebumen sendiri paska kejatuhan Orde Baru, aktifitas keagamaan dan kebudayaan Tionghoa semakin menunjukkan eksistensinya dan diberi ruang dalam dinamika sosial masyarakat seperti Perayaan Imlek, arak-arakan Liang Liong pada bulan-bulan tertentu, dll.

Bahkan sejarah Kebumen mencatat bahwa etnis Tionghoa telah mengalami proses peleburan dengan etnis Jawa saat K.R.T. Kolopaking III menikahi putri Cina bernama Tang Peng Nio dan makamnya sampai hari ini masih ada  di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen dan menjadi lokasi Cagar Budaya yang dilestarikan[9]. Sebuah buku tebal telah diterbitkan pada tahun 1997 dan 2006 oleh keturunan Kolopaking yaitu Tirto Wenang Kolopaking dengan judul Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Ki Ageng Mangir Kolopaking Arung Binang[10]Dalam buku tersebut disebutkan sejumlah nama etnis Tionghoa yang masih tinggal di wilayah Kebumen dan masih trah Kolopaking dan menjalani kehidupan secara beragam, ada yang wiraswastawan, ada yang dokter dll.


Teguh Twan Dalam Usia 73 Tahun (Februari 2013)


Penulis (Teguh Hindarto) dan Pelukis (Teguh Twan)

Bapak Teguh Twan sudah semakin uzur (73 tahun). Kediaman masa tuanya memang tidak memperlihatkan ciri-ciri bahwa ini adalah sebuah rumah pelukis dan pemahat yang karya-karyanya dikunjungi orang. Namun generasi muda dan siapapun yang tinggal di Kebumen tidak bisa meninggalkan begitu saja peranan beliau sebagai pemahat relief dan monumen bersejarah.

Julukan pahlawan bukan hanya dipahami sebagai sosok pejuang yang mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, namun pahlawan adalah siapapun yang telah berjuang baik dengan mengangkat senjata di zaman penjajahan Belanda maupun mereka yang berjuang mencerdaskan dengan ilmunya, menghiasi kota dengan karya seninya, mempengaruhi banyak orang dengan pemikirannya, memimpin sehingga membawa kemakmuran kota, dialah pahlawan kemarin dan pahlawan esok hari.

Kiranya kita bisa menghargai jasa orang-orang yang telah mendahului kita dan yang telah menumpahkan darahnya serta memberi warna terhadap masa depan kota Kebumen.


--------------- 

END NOTES


[1] Perjanjian Linggarjati
http://id.wikipedia.org/wiki/Perundingan_Linggarjati


[2] Ibid.,

[3] Agresi Militer Belanda I
http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I


[4] Ibid.,


[5] Gelegar di Bagelen: Perjuangan Resimen XX Kedu Selatan 1945-1949 dan Pengabdian Lanjutannya (2003)

[6] Ibid.,


[7] Ibid.,


[8]Dua Tahun Membuat Patung dan Relief Monumen, Suara Merdeka, 7 Oktober 2011 dan Gejala Stroke Tak Hentikan Berkarya, Suara Merdeka, 8 Oktober 2011

[9] Kisah Putri Tan Peng Nio, Menyamar Prajurit Ikut Melawan Belanda, Suara Kedu, 12 Februari 2013


[10] Tirto Wenang Kolopaking, Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Ki Ageng Mangir Kolopaking Arung Binang,Komplek Taman Buaran Indah I Blok 0  No 329, Jak-Tim











Tidak ada komentar:

Posting Komentar